MADILOG

February 19th, 2009

MADILOG

Tan Malaka (1943)

________________________________________

Sumber: Terbitan Widjaya, Jakarta, tahun 1951. Bab III diambil dari terbitan Pusat Data Indikator, 1999.

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague. Dimuat di MIA pada tanggal 13 Juni 2007.

________________________________________

SEJARAH

IKLIM

Mokojobi, 15-6-2602. tanggal opisil kini, waktu saya menulis “Madilog’’. Dalam perhitungan “tuan’’ yang sekarang sedang jatuh dari tahta pemerintahan Indonesia itu bersamaan dengan Donderdag Juli 15, 1942. Murid bangsa Indonesia yang bersekolah Arab dekat tempat saya menulis ini, menarikkan pada hari kamis, bulan Radjab 30, 1362.

Semua itu memberi gambaran, bahwa Indonesia sebenarnya belum bertanggal berumur sendiri. Indonesia tulen belum timbul dari tenggelamnya berabad-abad itu.

11 Juli 1942 petang, saya sampai di Jakarta. Saya meninggalkan Telokbetong pada 7 Juli. Rupanya sama dengan tanggal Ir Sukarno meninggalkan Palembang. Tetapi ada perbedaan. Kapal yang saya tumpangi cuma perahu layar tak lebih dari 4 ton, tua dan bocor walaupun namanya merdu bunyinya “Sri Renyet’’. Perahu layar ini sama sekali menjadi permainan angin saja. Kalau angin dari belakang majulah dia. Kalau dari muka berlabuhlah dia, walaupun dekat karang, kalau dia tak mau dibalikkan kembali atau ditenggelamkan. Kapal Ir. Sukarno kabarnya ditarik oleh kapal motor Jepang. Sebab itu walaupun sama waktu berjalan dan saya dua kali lebih dekat dari Ir. Sukarno ke tempat yang dituju, saya dua kali selama dia di jalan baru sampai.

Ada lagi perbedaan. Walaupun pembuangan saya dua kali pula selama pembuangan Ir. Sukarno yang 10 tahun itu dan saya sebetulnya bukan dikembalikan dengan resmi, melainkan kembali sendiri saya belum boleh bekerja dengan terbuka. Sedangkan Ir. Sukarno sudah “diberi’’ izin buat membikin “propaganda’’. Dalam “Sinar Matahari’’ diterbitkan oleh Kepala Bagian Umum dari barisan propaganda Dai Nippon Palembang dalam No. 49, Kayobi atau Selasa, 23-6-2602, dalam artikel “Di Barisan Depan’’ tuan Sukarno menganjurkan pada Rakyat Indonesia bekerja bersama-sama sekuat-kuat tenaga dengan Dai Nippon. Sebab, hanya dengan bekerja bersama-sama dengan Nippon, kita akan dapat mencapai cita-cita kita Indonesia Raya dalam lingkungan Asia Raya’’. Senin 13 Juli (jangan takut sama angka 13), Ir. Sukarno berjabatan tangan dengan Drs. Muhammad Hatta pemimpin Nasionalis Indonesia yang setingkat tingginya dengan Ir. Sukarno sama-sama cerdik pandai, terpelajar, berani, tahan dan rela menderita kesukaran hidup, yakni sampai Jepang masuk.

Disamping gambar tertulis : “Ir. Sukarno dan Drs. Muhammad Hatta berjabatan tangan sebagai pengakuan bekerja bersama-sama guna masyarakat.”

Dengan hampa tangan saya cari tulisan kedua pemimpin tadi yang bersangkutan dengan persoalan. 1. bagaimana tata negara Asia Raya, 2. Bagaimana kedudukan Indonesia Raya dalam Asia Rayacetakan militer Jepang itu, 3. Bagaimana tata negara Indonesia Merdeka sendiri, 4, 5…………ad.infinitum, yakni tidak berhenti seterusnya …………Kesimpulan: kedua pemimpin nasionalis sudah mulai menjalankan cita-citanya, ialah di bawah ujung pedang Samurai.

Akhirnya perbedaan yang ketiga. Sedangkan kedua pemimpin tersebut disambut dengan kegirangan oleh pengikutnya secara resmi, seperti “bever’’ (berang-berang – catatan editor) yang terkenal tinggal di lubang yang dibikinnya di bawah air itu, saya masuk mesti memakai segala anggota keawasan, yang memang sudah terlatih dalam pelarian yang lebih dari 20 tahun lamanya. Apabila kelak sudah pasti bahwa golongan (klas) yang saya pertahankan selama ini boleh menjalankan haknya, maka barulah kelak saya akan meninggalkan “sarang’’.

Tetapi sarang sekarang memang lebih baik tempatnya dari yang sudah-sudah. Letaknya tidak lagi di Tiongkok atau di tepi tapal batas Jajahan Belanda, walaupun di Indonesia juga seperti 4 tahun yang lalu, tetapi di tengah-tengah Rakyat dan kaum yang sebentuk badan dan mukanya dengan saya dan yang lekas saya bisa mengerti perkataan dan tingkah lakunya. Tetangga saya tiada lagi cerewet mencampuri, siapa saya, dan dari mana saya datang sebab bentuk badan, muka dan bahasa semuanya sama………..

Dari sini saya bisa mempelajari sikap dan perbuatan tentara Jepang, serta sikap dan perbuatan pemimpin Indonesia Raya dalam lingkungan Asia raya. Tetapi saya tiada boleh mengharapkan lebih dari mempelajarinya saja.

Saya kenal Rakyat Jelata Jepang di masa damai. Mereka tahu membedakan yang buruk dengan yang baik tentang hal yang datang dari barat. Mereka bersifat berani dan berlaku ramah tamah terhadap bangsa lain. Tetapi tentara Jepang yang sekarang mengawasi musuh dengan pedang terhunus, dan sering hilang kesabaran terhadap kaum pekerja bangsa Indonesia, tiadalah satu organisasi yang patut diajak berembuk tentang politik yang berdasarkan ke-proletar-an.

Ketua Kota Jakarta (H. Dachlan Abdullah) ini duduk sebangku dengan saya, ketika belajar di Indonesia dan sering sekamar tidur dan makan di Indonesia dan Eropa. Drs Mohammad Hatta bukan asing buat saya. Saya belum bertemu muka dengan Ir. Sukarno. Tetapi perkataan simpati terhadap saya dulu banyak saya baca. Ketiganya mereka ada disini, dekat dan kalau saya menemui mereka, saya bisa ambil kembali uang saya yang dulu tersimpan dalam Bank Belanda (Javasche Bank) sebelum pergi keluar negeri. Saya bisa longgarkan kehidupan saya, dijumpai keluarga saya yang masih hidup dan cari kuburan ibu dan bapa yang keduanya meninggal di waktu saya bertualang. Tetapi tentu susah, mungkin mustahil buat saya melalui pagar Besi Dai Nippon berkeliling rumah mereka. Seandainya bisa, tentulah “sarang’’ saya tak akan aman lagi …………..

Begitulah iklim, suasana politik ketika saya mulai melahirkan “Madilog’’ di atas kertas. Saya berada di tengah-tengah rakyat Jelata Indonesia, dekat keluarga dan para sahabat. Tetapi keadaan dan paham saya memaksa saya tinggal sendiri di tengah-tengah masyarakat yang sering menyebut-nyebut nama, tetapi tak mengenal rupa saya.

Terbitlah mulanya pertanyaan dalam diri saya; buku manakah yang pertama mesti ditulis yang paling cocok dengan keadaan diri dan luar diri saya.

Ada tiga buku yang sudah bertahun-tahun saya kandung dalam fikiran, tetapi belum bisa dilahirkan.

1.Undang kaum Proletar berpikir, yang sekarang saya namai Madilog.

2.Federasi Aslia ialah potongan dari Asia-Australia, yakni Federasi dari segala Negara pada jembatan antara Asia dan Australia dengan kepalanya di Asia dan Australia.

3.Beberapa pengalaman saya yang boleh menjadi pengetahuan dan nasehat buat mereka yang suka menerima.

Dalam keadaan biasa, ketiganya boleh dicetak pada satu waktu, yaitu berdikit-dikit. Karena memang isinya sudang dikandung, Cuma belum diatur sebab waktu dan tempat selamanya ini tak mengijinkan buat melahirkan.

Dalam hal menghasilkan buah fikiran, kita juga berjumpa dengan soal-soal seperti yang dijumpai kalau orang menghasilkan barang dagangan. Orang tidak saja mesti memikirkan perkara belanja (ongkos) buat menghasilkan, tetapi juga perkara permintaan orang ramai (demand). Ongkos boleh saya cari. Di Tiongkok saya mempunyai pencaharian sendiri. Ketika kapal terbang Jepang sampai di Amoy penghabisan bulan Agustus 1937, saya mesti tinggalkan “School of Foreign Languages’’ yang saya dirikan sendiri, yang pesat majunya itu. Saya mesti pindah ke Selatan, terutama sebab semua murid saya lari dan penduduk Amoy cerai-berai.

Di Singapura dalam masyarakat Tionghoa dengan nama dan pasport Tionghoa (sudah tentu di luar pengetahuan Inggris yang asik mencium jejak saya), saya beruntung bisa memanjat dari sekolah rendah sampai kepala sekolah menengah tinggi yang tertinggi di Asia Selatan, yaitu Nanyang Chinese Normal School (NCNS). Disini saya menyamar sebagai Tan Ho Seng jadi guru bahasa Inggris, sampai sekolahnya ditutup ketika Jepang masuk. Jadi kalau perkara ongkos saja saya dapat mencetak buku-buku yang perlu. Pendapatan (uang) saya sebagai guru inggris siang dan malam lebih dari cukup buat diri sendiri.

Tetapi perkara pembagian ada lain hal. Ini rapat bergantung pada kekuatan di luar diri saya.

Walaupun dari tahun 1925-1935 otak saya seolah-olah lumpuh, karena kesehatan sangat terganggu, tetapi karena permintaan ramai ada keras, saya, dalam kesehatan dan keamanan hidup amat terganggu dan terpaksa saja lari kesana-sini, bisa juga mencetakkan “Naar de Republiek Indonesia’’,“Massa Aksi’’ dan “Semangat Muda’’. Semuanya perlu buat nasehat para pergerakan di Indonesia.

Sukarnya perhubungan dan jauh tempat saya, maka sedikit sekali buku-buku itu sampai di tangan yang mempertanggung jawabkan di Indonesia. Barangkali 99 % dari semua buku tersebut masih cerai berai atau lapuk di luar Indonesia. Tetapi di mana sampai, hasilnya ada juga menyenangkan.

Demikianlah sesudah saya sendiri ditangkap di Hongkong pada penghabisan tahun 1932 – inilah yang ke-3 kali – dan semua teman seperjuangan ditangkap di Singapura dan di-Digulkan (diasingkan – catatat editor) maka perhubungan saya dengan sahabat dan teman seperjuangan di semua tempat sama sekali terputus. Beberapa kali saya coba mengadakan perhubungan dengan Rakyat Indonesia dari Singapura, tetapi semuanya itu gagal. Di Singapura dari tahun 1937 sampai 1942 saya saksikan dan sedihi bagaimana besarnya kesukaran yang dihadapai oleh Rakyat dan proletar dalam hal mendirikan susunan politik, terlebih-lebih pula dalam hal mengatur susunan tersembunyi. Jauh terbelakangnya Indonesia dalam hal mengatur susunan tersembunyi dari Tiongkok umpamanya.

Saya percaya permintaan kepada buku-buku ada cukup keras serta nafsu dan keberanian buat mencari atau membagikan buku-buku terlarang cukup besar, tetapi Rakyat Indonesia belum lagi sanggup mengatasi tamparan reaksi Belanda. Percumalah kalau buku itu dicetak, walaupun semua alat pencetak dan ongkos bisa didapat. Berhubung dengan itu terpaksalah saya mengundurkan maksud saya, bertahun-tahun sampai sekarang.

Banyak Proletar mesin (baca buruh industri – catatan editor) dan tanah (baca buruh pertanian – catatan editor) di Indonesia dan kekuatannya yang tersembunyi memang sudah cukup kuat buat merebut kekuasaan dari imperialisme Belanda. Tetapi didikannya masih sangat tipis dan tiada cocok dengan keperluan dan kewajiban klasnya di hari depan. Mereka kekurangan pandangan dunia (Weltanschauung). Kekurangan Filsafat. Mereka masih tebal diselimuti ilmu buat akhirat dan tahyul campur aduk. Mereka tiada sadar akan kekuasaan klasnya. Belum insyaf sendiri, bahwa tak dengan pertolongan proletar mesin, semuanya percobaan buat merebut dan membentuk Indonesia merdeka adalah perbuatan sia-sia belaka. Dua puluh tahun dulu saya sudah yakin akan kekuatan kaum proletar yang tersembunyi itu. Kini tiada kurang malah lebih yakin dari itu.

Filsafat kaum proletar memang sudah ada, yaitu di barat. Tetapi dengan menyalin semua buku dialektis-materialisme dan menyorongkan buku-buku itu pada proletar Indonesia kita tiada akan dapat hasil yang menyenangkan. Saya pikir otak proletar mesin Indoensia tak bisa mencernakan paham yang berurat dan tumbuh pada masyarakat Indonesia dalam hal iklim, sejarah, keadaan jiwa dan idamannya.

Proletar Indonesia mesti setidaknya dalam permulaan ini, mempunyai pembacaan yang berhubungan dengan pahamnya sekarang, pembacaan yang kelak bisa menjadi jembatan kepada filsafatnya Proletar Barat.

Saya percaya ada otak di Indonesia sekarang yang lebih terlatih dari saya dan pena yang lebih tajam dari pena yang berkarat, karena tiada dipakai lebih dari 10 tahun belakangan ini. Akhirnya ada ahli bahasa Indonesia yang bisa lebih tangkas merebut jiwa dan semangat Indonesia dari bahasa saya yang terpendam di luar negeri dalam lebih dari setengah umur saya.

Tetapi karena otak, pena dan bahasa semacam itu saya belum lihat keluarnya, maka terpaksalah saya mempelopori. Tentulah saya berharap akan hati lapang dan sikap menolong memperbaiki dari pihak umum, kalau berjumpa dengan kesalahan.

PERPUSTAKAAN

Kita masih ingat berapa sindiran dihadapkan pada almarhum Leon Trotsky, karena ia membawa buku berpeti-peti ke tempat pembuangan yang pertama di Alma Ata. Saya masih belum lupa akan beberapa tulisan yang berhubungan dengan peti-peti buku yang mengiringi Drs. Mohammad Hatta ke tempat pembuangannya. Sesungguhnya saya maklumi sikap kedua pemimpin tersebut dan sebetulnya saya banyak menyesal karena tiada bisa berbuat begitu dan selalu gagal kalau mencoba berbuat begitu.

Bagi seseroang yang hidup dalam pikiran yang mesti disebarkan, baik dengan pena maupun dengan mulut, perlulah pustaka yang cukup. Seorang tukang tak akan bisa membikin gedung, kalau alatnya seperti semen, batu tembok dan lain-lain tidak ada. Seorang pengarang atau ahli pidato, perlu akan catatan dari buku musuh, kawan ataupun guru. Catatan yang sempurna dan jitu bisa menaklukan musuh secepat kilat dan bisa merebut permufakatan dan kepercayaan yang bersimpati sepenuh-penuhnya. Baik dalam polemik, perang-pena, baik dalam propaganda, maka catatan itu adalah barang yang tiada bisa ketinggalan, seperti semen dan batu tembok buat membikin gedung. Selainnya dari pada buat dipakai sebagai barang bahan ini, buku-buku yang berarti tentulah besar faedahnya buat pengetahuan dalam arti umumnya.

Ketka saya menjalankan pembuangan yang pertama, yaitu dari Indonesia, pada 22 Maret 1922, saya cukup diiringi oleh buku, walaupun tiada lebih dari satu peti besar. Disini ada buku-buku agama, Qur’an dan Kitab Suci Kristen, Budhisme, Confusianisme, Darwinisme, perkara ekonomi yang berdasar liberal, sosialistis, atau komunistis, perkara politik juga dari liberalisme sampai ke komunisme, buku-buku riwayat Dunia dan buku sekolah dari ilmu berhitung sampai ilmu mendidik. Pustaka yang begitu lama jadi kawan dan pendidik terpaksa saya tinggalkan di Nederland karena ketika saya pergi ke Moskow saya mesti melalui Polandia yang bermusuhan dengan Komunisme. Dari beberapa catatan nama buku di atas, orang bisa tahu kemana condongnya pikiran saya.

Di Moskow saya cocokkan pengetahuan saya tentang komunisme. Dalam waktu 8 bulan disini saya sedikit sekali membaca, tetapi banyak mempelajari pelaksanaan komunisme dalam semua hal dengan memperhatikan segala perbuatan pemerintah komunis Rusia baik politik ataupun ekonomi, didikan ataupun kebudayaan dan dengan percakapan serta pergaulan dengan bermacam-macam golongan. Disini saya juga banyak menulis perkara Indonesia buat laporan Komintern. Ketika saya meninggalkan Rusia, memang saya tiada membawa buku apapun, sedang buku peringatanpun tidak. Pemeriksaan di batas meninggalkan Rusia keras sekali.

Tetapi sampai di Tiongkok dan kemudian di Indonesia, saya dengan giat mengumpulkan buku-buku yang berhubung dengan ekonomi, politik, sejarah, ilmu pengetahuan, science (sajans), buku-buku baru yang berdasar sosialisme dan komunisme. Mengunjungi toko buku adalah pekerjaan yang tetap dan dengan giat saya jalankan. Nafsu membeli buku baru, lebih-lebih yang berhubungan dengan ekonomi Asia, membikin kantong saya seperti boneka yang tiada berdaya apa-apa. Tetapi tiada banyak bahagia yang saya peroleh. Sebab kelumpuhan otak seperti saya sebutkan di atas, maka tak lebih dari satu jam sehari saya bisa membaca buku bertimbun-timbun itu. Saya terpaksa menunggu sampai kesehatan membenarkan, tetapi rupanya pustaka tak bisa mengawani saya.

Pada perang Jepang – Tiongkok di Shanghai penghabisan tahun 1937, tiga hari lamanya saya terkepung di belakang jalan bernama “North Su Chuan Road’’, tepat di tempat peperangan pertama meletus. Dari North Su Chuan Road tadi Jepang menembak kearah Pao Shan Road dan tentara Tiongkok dari sebaliknya. Di antaranya di kampung Wang Pan Cho saya dengan pustaka saya terpaku. Sesudah dua atau tiga hari tentara Jepang memberi izin kepada kampung tempat saya tinggal berpindah rumah, pergi ke tempat yang lebih aman dalam waktu 5 menit saja. Saya turut pindah tergopoh-gopoh. Tentulah pustaka saya mesti tinggal. Ketika saya kunjungi rumah saya sesudah habis perang yakni sesudah sebulan lamanya, maka sehelai kertaspun tak ada yang tinggal. Begitulah rapinya “lalilong’’ alias tukang copet bekerja. Hal ini tidak membikin saya putus asa. Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.

Sampai saya ditangkap di Hongkong pada 10-10-1932, saya sudah punya satu peti pula. Sesudah dua bulan di dalam penjara, saya dilepaskan buat dipermainkan seperti kucing mempermainkantikus. Maka dekat Amoy, saya bisa melepaskan diri. Tetapi dengan melepaskan pustaka saya sendiri. Pustaka saya, tanpa saya, berlayar menuju ke Foechow. Saya terlepas dari bahaya, tetapi juga terlepas dari pustaka. Saya berhasil menyamar masuk ke Amoy dan terus ke daerah dalam Hok Kian tiga-empat-tahun lamanya, terputus dengan dunia luar sama sekali, beristirahat, berobat sampai sembuh sama sekali.

Pustaka baru yang saya kumpulkan di Amoy dari tahun 1936 sampai 1937, juga sekarang, juga sekarang terpendam disana, ketika tentara Jepang masuk pada tahun 1937. Malah dua tiga buku-buku peringatan yang penting sekali yang bahannya diperoleh dengan mata sendiri, ialah: catatan penting, buat buku-buku yang sekarang saya mau tulis, mesti saya lemparkan ke laut dekat Merqui, sebelum sampai di Ranggoon.

Putusan bercerai dengan dua buku catatan itu diambil dengan duka cita sekali. Tetapi putusan itu belakangan ternyata benar. Duanne Ranggoon memeriksa buku-buku saya yang masih ada dalam peti seperti “English Dictionary’’ dengan teliti sekali, malah kulitnya diselidiki betul-betul. Kantongpun tak aman. Di antara Merqui dan Ranggoon di pantai laut, disanalah terletak beberapa buku peringatan cukup dengan rancangan, catatan dan suggesti atau nasehat buat pekerjaan sekarang.

Dalam permulaan 3 tahun di Singapura saya amat miskin sekali. Gaji yang diperolehsedikit sekali- enam setengah rupiahsebulan. Dengan tak ada diploma-Singapura, tak lahir di Singapura, memakai pasport Tiongkok, walaupun bisa bercakap Tionghoa, tetapi tiada bisa membaca huruf Tionghoa susah mendapat kerja yang berhasil besar pada perusahaan Tionghoa. Susah pula mendapat izin mengajar bahasa Inggris dari tuan Inspektur, sedangkan masyarakat Indonesia tak berarti sama sekali di bekas kota “Tumasek’’ (nama Singapura sekarang di Jaman Majapahit) Ini uang buat makan secukupnya saja, pakaian jangan disebut lagi. Masuk jadi anggota pustaka (Library) tiada mampu. Disini pengetahuan saya walaupun kesehatan sempurna kembali, cuma bisa ditambah dengan isi surat kabar, dan pengamatan mata dan telinga sendiri. Tetapi lama kelamaan atas usaha sendiri saya mendapatkan pekerjaan dan hasil pekerjaan yang baik sekali.

Seperti saya sebut diatas, akhirnya saya dapat bekerja pada sekolah Normal Tinggi (Nanyang Chinese Normal School) sebagai guru Inggris dan belakangan juga sebagai guru Matematika dalam dan luar sekolah tersebut. Saya mulai kumpulkan catatan buat buku-buku yang mau saya tulis sekarang. Rafles Library memberi kesempatan dan minat yang besar. Buku yang paling belakang saya pinjam ialah Capital, Karl Marx. Tetapi armada udara Jepang tak berhenti datangnya hari-hari. Sebentar-sebentar saya mesti lari sembunyi. Cuma dalam lubang perlindungan saya bisa baca Capital, buat mengumpulkan bahan yang sebenarnya saya ulangi membacanya. Sampai 15 Febuari 1942 saya masih pegang Capital itu dengan beberapa catatan. Tetapi sesudah Singapura menyerah, semua penduduk laki-perempuan, tua-muda dihalaukan dengan pedang terhunus kiri-kanan, dengan ancaman tak putus-putusnya menuju ke satu lapangan. Disini ratusan penduduk Tionghoa ditahan satu hari buat diperiksa. Disini saya juga turut menghadapi senapan mesin. Di belakang hari kami mendengar bahwa maksud tentara jepang yang bermula ialah memusnahkan semua penduduk Tionghoa yang ada di Singapura. Tetapi dibatalkan oleh pihak Jepang yang masih mempunyai pikiran sehat dan rasa tanggung jawab terhadap dunia lainnya.

Sebelum kami dikirim ke padang tersebut, saya sudah maklum bahwa tak ada pelosok rumah atau halaman rumah yang mesti kami tinggalkan selama pemeriksaan diri dijalankan, yang kelak akan dilupakan oleh Kempei Jepang. Sepeninggalan kami rumah tempat saya tinggal diperiksa habis-habisan. Barang berharga habis di copet.

Sebelum meninggalkan rumah menuju ke lapangan pemeriksaan saya beruntung mendapat kesempatan menyembunyikan buku Capital ke dalam air. Di “upper Seranggoon Road’’ di muka rumah tuan Tan Kin Tjan, disanalah sekarang di dalam tebat (empang) bersemayam buku Capital terjemahan “Das Kapital’’ ke bahasa Inggris, pinjaman saya, Tan Ho Seng, dari Raffles Library di Singapura.

Sesudah dua atau tiga minggu Singapura menyerah, saya coba dengan perahu menyebrang ke Sumatra, tetapi gagal karena angin sakal. Saya terpaksa mengambil jalan Penang-Medan. Hampir dua bulan saya di jalan antara Singapura dengan Jakarta, melalui semenanjung Malaka, Penang, selat Malaka (perahu layar) Medan, Padang, Lampung, selat Sunda (perahu) dan Jakarta. Di jalan saya bisa beli buku karangan Indonesia. Di antaranya Sejarah Indonesia, yang mesti saya sembunyikan pula baik-baik, sebab dalamnya ada potret saya sendiri.

Inilah pustaka saya dulu dan sekarang. Ada niatan buat membeli sekarang, tetapi banyak keberatan. Pertama uang, kemudian banyak buku mesti datang dari luar negeri, dan ketiga dari pada dicatat dari satu atau dua buku lebih baik jangan dicatat atau catat dari luar buku ialah ingatan sama sekali, seperti maksud saya tentang Madilog ini. Biasanya buku-buku reference yang dipetik, atau pustaka itu ditulis di bawah pendahuluan. Biasanya diberi daftar pustaka yang dibaca oleh pengarang. Tetapi dalam hal saya, dimana perpustakaan tak bisa dibawa, saya minta maaf untuk menulis pasal terkhusus tentang perpustakaan itu.

Dengan ini saya mau singkirkan semua persangkaan bahwa buku Madilog ini semata-mata terbit dari otak saya sendiri. Sudah tentu seorang pengarang atau penulis manapun juga dan berapapun juga adalah murid dari pemikir lain dari dalam masyarakatnya sendiri atau masyarakat lain. Sedikitnya ia dipengaruhi oleh guru, kawan sepaham, bahkan oleh musuhnya sendiri.

Ada lagi! Walaupun saya tidak akan dan tidak bisa mencatat dengan persis dan cukup, perkataan, kalimat, halaman dan nama bukunya, pikiran orang lain yang akan dikemukakan, saya pikir tiada jauh berbeda maknanya dari pada yang akan saya kemukakan.

Al Gazali pemikir dan pembentuk Islam, kalau saya tiada keliru pada satu ketika kena samun. Penyamun juga rampas semua bukunya. Sesudah itu Al Gazali memasukan semua isi bukunya ke dalam otaknya dengan mengapalkannya. Bahagia (gunanya) mengapal itu buat Al Gazali, sekarang sudah terang sekali kepada kita.

Pada masa kecil memang saya juga mengapal, tetapi bukan dalam bahasa ibu, melainkan dalam bahasa Arab dan Belanda. Tetapi ketika sudah sedikit berakal, saya sesali dan saya bantah kebisaan saya itu. Pada ketika itu saya sadar, bahwa kebiasaan mengapal itu tiada menambah kecerdasan, malah menjadikan saya bodoh, mekanis, seperti mesin. Yang saya ingat bukan lagi arti sesuatu kalimat, melainkan bunyinya atau halaman buku, dimana kalimat tadi tertulis. Pula kalau pelajaran itu terlalu banyak, sudahlah tentu tak bisa diapalkan lagi. Tetapi saya juga mengerti gunanya pengetahuan yang selalu ada dalam otak. Begitulah saya ambil jalan tengah: padu yang baik dari kedua pihak.

Apalkan, ya, apalkan, tetapi perkara barang yang sudah saya mengerti betul, saya apalkan kependekan “intinya’’ saja. Pada masa itulah di sekolah Raja Bukit Tinggi, saya sudah lama membikin dan menyimpan dalam otak, perkataan yang tidak berarti buat orang lain, tetapi penuh dengan pengetahuan buat saya.

Buat keringkasaan uraian ini, maka perkataan yang bukan perkataan ini, saya namakan “jembatan kedelai’’ (ezelbruggece) walaupun tidak sama dengan ezelbruggece yang terkenal. Buat menjawab pertanyaan siapa yang akan menang di antara dua negara umpamanya, saya pakai jembatan keledai saya : “AFIAGUMMI’’.

A huruf yang pertama mengandung perkataan Inggris, ialah (A)rmament. Artinya ini kekuatan udara kekuatan darat, dan laut. Masing-masing tentu mempunyai cerita sendiri dan A huruf pertama itu bisa membawa “jembatan keledai’’ yang lain seperti ALS, ialah susunan huruf pada perkataan (A)ir (udara), (L)and (darat) dan (S)ea (laut) forces (tentara). Sesudah dibandingkan perkara Armament diantara kedua negeri itu, maka harus diuji perkara yang kedua, yakni Finance, terpotong oleh huruf “F’’. keuangan dsb.

Demikianlah “jembatan keledai’’ AFIAGUMMI ini saja boleh jadi meminta seperempat atau setengah brosure kalau dituliskan. Dalam ekonomi, politik, muslihat perang, science dan sebagainya saya ada menyimpan “jembatan keledai. Kalau buku penting yang saya baca ada dalam bahasa Inggris, maka “jembatan keledai’’ saya, susunannya tentu dari permulaan atau sebagian perkataan inggris.

Kalau tidak beratus, niscaya berpuluh ada “jembatan keledai’’ di dalam kepala saya. “ONIFMAABYCI AIUDGALOG’’ yang berbunyi bahasa Sanskreta, bukanlah bahasa Sanskreta atau bahasa Hindu, melainkan teori ekonomi yang bertentangan dengan teori ekonomi Mahatma Gandhi.

Kalau badan saya ada sehat, maka perkataan guru itu biasanya mudah saya tangkap. Isinya saya ternakkan dan masukkan ke dalam “jembatan keledai’’. Kalau kertas atau buku peringatan saya umpamanya dibeslah (disita – catatan editor) di Manila atau Hongkong oleh polisi, maka hal itu tiada berarti dia tahu membaca perkataan itu, malah sudah pernah menjadikan mereka pusing kepala berhari-hari, mengira yang tidak-tidak.

Dalam buku yang akan ditulis di belakang hari (kalau umur panjang!) saya kelak bisa meneruskan cerita “jembatan keledai’’ saya ini. Saya angap “jembatan keledai’’ itu penting sekali buat pelajar di sekolah dan paling penting buat seseorang pemberontak pelarian-pelarian. Bukankah seseorang pelarian politik itu mesti ringan bebannya, seringan-ringannya? Ia tak boleh diberatkan oleh benda yang lahir, seperti buku ataupun pakaian. Hatinya terutama tak boleh diikat oleh anak isteri, keluarga serta handai tolan. Dia haruslah bersikap dan bertindak sebagai “marsuse’’ (angkatan militer siap gempur – catatan editor) yang setiap detik siap sedia buat berangkat, meninggalkan apa yang bisa mengikat dirinya lahir dan batin.

Ringkasnya walaupun saya tiada berpustaka, walaupun buku-buku saya terlantar cerai-berai dan lapuk atau hilang di Eropa, Tiongkok, Lautan Hindia atau dalam tebat di muka rumah tuan Tan King Cang di Upper Seranggoon Road, Singapura, bukanlah artinya itu saya kehilangan “isinya’’ buku-buku yang berarti.

Tetapi barang yang lama itu tentu boleh jadi rusak. Catatan atau makna yang saya kemukakan dari pikiran orang lain boleh jadi tiada cukup atau bertukar arti. Dalam hal ini sekali lagi saya minta maaf dan simpati.

INGATAN

Kitab ini adalah bentuk dari paham yang sudah bertahun-tahun tersimpan di dalam pikiran saya, dalam kehidupan yang bergelora. Disinilah dikerangkakan arti dan daerahnya materialisme, artidan daerahnya dialektika, serta arti dan daerahnya Logika. Selain dari pada itu, akan dijelaskan pula seluk-beluk dan kena-mengenanya materialisme, dialektika dan logika, satu sama lainnya.

Baikpun materialisme ataupun dialektika, bahkan juga logika, masing-masing mempunyai lapangan dan tafsiran berjenis-jenis. Materialisme itu bisa ditafsirkan dengan cara yang mekanis secara mesin mati atau kematian mesin. Malah kaum mistika, kaum gaibpun bisa mempergunakan materialisme itu, buat memperlihatkan keulungan-sulapnya atau sulap-keulungannya.

Dialektika yang berdasarkan pikiran dan kegaiban, yang pada Hegelisme melambung sampai ke puncak, masih terus menerus dipakai sebagai perkakas buat meluhurkan rohani dan merohanikan keluhuran. Pemikir borjuis dan pemikir feodal bergantung pada dialektika mistika itu seperti seekor semut hanyut bergantung pada sepotong rumput yang diayun-ayunkan gelombang.

Logika memuncak pada ilmu bukti (Science) zaman sekarang dengan berjenis-jenis cabangnya ilmu itu. Hasilnya berjenis-jenis ilmu itu meulungkan dan menunggalkan kemanjurannya logika sebagai cara berpikir. Dengan begitu logika menyilaukan mata para pemakai penonton logika itu serta melupakan batas dan kelemahannya logika itu.

Sebaliknya pula beberapa kitab yang berdasarkan materialisme dialektika di Eropa dalam keadaan menantang logika itu, lupa akan atau sedikit sekali memperhatikan kepentingan logika itu. Buat Timur umumnya dan Indonesia khususnya, yang sampai pada saat saya menulis kitab ini, masih gelap gulita, diselimuti macam-macam ilmu kegaiban, maka logika itu masih barang baru, hangat perlu diketahui dan dipahamkan bersama-sama dengan dialektika dan materialisme.

Tetapi jangan pula kita sesat karena me-ulung logika dan menunggalkan logika itu dengan tidak mengenal batas dan kelemahannya. Dalam kita ini logika dibentuk di dalam iklim dialektik! keduanya, logika dan dialektika bergantung pada materialisme. Sebaliknya pula materialisme ini bersangkut paut dengan logika dan dialektika, seperti: materi, benda itu mempunyai sifat bergerak dan berhenti, takluk pada hukumnya gerakan, yakni dialektika, serta hukum berhenti, yakni logika.

Sampai lebih dari pertengahan kitab ini, sampai kira-kira ke ujung bahagian logika, satu bukupun, buat reference – catatan - tiada dipakai, karena memang tidak ada. Semua catatan dipetik dari ingatan semata-mata. Di belakangnya saya mendapatkan bermacam-macam buku yang perlu buat dipetik, dari peringatan tadi, bukunya tiada terdapat di seluruh Jakarta. Bermula saya sandarkan seluruh isi kitab ini pada ingatan jembatan keledai semata-mata, karena memang saya tiada berjumpa dengan buku yang berkenaan. Tetapi sesudah lebih dari seperdua buku ditulis, saya mendapatkan bahan tulisan yang bisa diperiksa benar tidaknya sewaktu-waktu, yang bisa dipanjangkan atau dipendekkan menurut pilihan.

Dengan berlainnya keadaan memilih dan menguji bahan itu sudahlah tentu isi seluruh buku bukan sifatnya, melainkan bentuknya saja tidaklah lagi seimbang, harmonis dan tiada lagi sesuara. Walaupun saya mau merubah, saya tiada berdaya, karena bermacam-macam buku buat bahan dari bahagian pertama itu, memang tiada bisa didapatkan. Saya mesti menunggu sampai perang selesai, baru bisa didapatkan beberapa buku itu …….yaitu kalau ada bahan penting pula fulus.

Tetapi kalau Madilog masih kekurangan bentuk, saya pikir dia tidak kekurangan sifat.

MENINJAU KE MUKA

Baru saya sampai di Jakarta, masuki sebuah toko buku Belanda salah satu toko buku yang terbesar di Asia Timur ini. Saya mau beli sebuah buku tentang logika. Di kota besar mana saja di Asia Timur ini. Di Shanghai atau Manila, Hongkong atau Singapura, gampang sekali kita dapatkan buku semacam itu. Di toko buku tuapun tak perlu lama kita mencari buku logika karangan Jevons atau Mill (Inggris) atau pun Jones (Amerika) dsb-nya. Di Jerman, lebih-lebih rusia, mudah sekali mendapatkan buku perkara dialektika.

Tetapi dalam toko buku Belanda di ibu kota “Hindia Belanda’’ yang berpenduduk 70.000.000 jiwa itu, tak ada satupun buku (popular atau tidak) perkara undang berpikir, logika. Apalagi dalam toko-toko yang lebih kecil! Satu gambar dari semangatnya suatu negara yang hanya menghasilkan keju dan bloembollen itu, tetapi terkaya di dunia. Saya percaya bahwa dalam sekolah tinggi di Belanda dan di Indonesia ada terkhusus atau tersambil diajarkan logika. Tetapi saya pikir saya tak jauh dari kebenaran kalau berkata bahwa English speaking nations (bangsa-bangsa yang berbicara bahasa Inggris terutama Amerika) lebih mementingkan didikan buat rakyat murba, buat pemuda yang berotak, tetapi tak mampu, baik dengan jalan Sekolah Tinggi Rakyat ataupun kursus dan buku popular. Salah satu sifat rakyat Belanda yang terlihat pada saya adalah sifat demogogisch, ialah sifat berkilah, sifat suka mempertentangkan perkara kecil-kecil dengan melupakan pokok yang besar. Tiada heran kalau negara kecil berpenduduk kira-kira seperdua puluh dari Amerika dan berkeluasan sepertiga ratus tujuh puluh lima (1/375) dari Amerika mempunyai partai politik lima puluh dua buah (menurut berita seorang jurnalis Inggeris yang berada di Holland ketika diserang oleh Jerman (10-5-1940), jadi kira-kira 17 kali sebanyak partai yang ikut dalam pemilihan di Amerika. Menurut ukuran Belanda, Amerika itu mestinya mempunyai lebih kurang 1040 partai, baru ia bsia menyamai Belanda dalam hal percekcokan perkara tetek benger. Logika, apalagi dialektika, bukanlah ilmu yang dipopulerkan, dijadikan ilmu umum, dimana raja minyak (Colyn) dan raja tembakau (Cremer) bersimaharajarela.

Sudah bertahun-tahun saya tak punya buku, tak ada salahnya buat saya sekarang, sebelum menulis buku “Madilog’’ ini, sebentar mengincarkan mata pada daftar, isi dan halaman buku-buku yang mengandung dialektika dan logika. Tetapi sebab toko buku yang terbesar di Asia Timur dan toko-toko buku nyamuk di Jakarta tak punya satupun buku perkara itu saya sama sekali disesakkan kepada “Jembatan keledai’’ yang tersimpan dalam otak saya. Sekali lagi maaf ! Tetapi perlu pula dicatat disini dalam bibliotheek Bataviase Genootshap, sesudah hampir habis “Madilog’’ ditulis berjumpa juga dengan beberapa buku tentang logika dalam bahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis.

MADILOG, ialah paduan dari permulaan suku kata : (MA)-TTER, (DI)-ALECTICA dan (LOG)-ICA “Mater’’ saya terjemahkan dengan “benda’’,dialektika dengan pertentangan atau pergerakan dan logika dengan undang berpikir. Paduan dalam bahasa Indonesia tiadalah begitu enak didengar dan tiada pula membuka pikiran baru seperti “jembatan keledai’’ saya. Sebabsegala kata di atas sudah begitu umum dalam bahasa negara besar-besar di Eropa, walaupun bahasa cangkokan dari bahasa Latin dan Yunani, maka tiadalah perlu kita segan mencangkok kata itu ke dalam bahasa kita.

“Madilog’’ saya maksudkan terutama ialah cara berpikir. Bukanlah suatu Waltanschauung, pemandangan dunia walaupun cara berpikir dan pemandangan dunia atau filsafat adalah seperti tangga dengan rumah, yakni rapat sekali. Dari cara orang berpikir itu kita dapat duga filsafatnya dan dari filsafatnya kita dapat tahu dengan cara dengan methode apa dia sampai ke filsafat itu.

Murid yang cerdik juga insyaf, bahwa kalau dia sudah tahu satu cara, satu undang, satu kunci buat menyelesaikan satu golongan persoalan, maka tiadalah ia mengapal berpuluh-puluh persoalan atau jawabannya puluhan atau ratusan persoalan itu, tetapi dia pegang cara atau kuncinya persoalan tadi saja.

Kebanyakan persoalan bisa diselesaikan dengan logika, undang berpikir saja. Dalam kehidupan kita sehari-hari yang berhubungan dengan makan minum, pulang pergi, jual beli dan 1001 perkara berhubung dengan pergaulan kita dengan sahabat, anak dan istri, tiadalah kita dipusingkan oleh dialektika.

Kenyang tiadalah mengandung arti lapar, seperti menurut dialektika. Kalau si anak menangis, si ibu memberikan air teteknya dengan segera. Dia tiadalah pikirkan lebih dahulu bahwa pengertian menangis itu mengandung pengertian tertawa, dan lapar itu ada terkandung pengertian kenyang. Yang satu sama lainnya tiada boleh dipisahkan, seperti dalam cara berpikir yang berdasarkan dialektika.

Dalam sekolah rendah atau menengahpun kita berkali-kali bertarung pada cara berpikir yang berdasarkan logika. Hitungan yang kita mesti jalankan, pengalaman, experimenten, dalam ilmu alam dan ilmu pisah yang sang guru lakukan di depan kita, semuanya mengandung logika. Walaupun dalam dialektika pada satu saat uap itu sama dengan air jadi tiada berpisah melainkan berpadi, jadi air sama dengan uap tiadalah kita mengadakan perhitungan atas dasar dialektika ini. Air tetap air buat kita dan mempunyai sifat air, bukan uap yang mempunyai sifat uap pula.

Tetapi kalau kita mengaji lebih dalam, kalau kita mengaji ada atau tak-adanya barang, mengaji seluk-beluk, asal dan akibatnya sesuatu barang, tegasnya kalau kita tenggelam dalam ombak gelora filsafat, ke dalam persoalan yang berhubungan dengan alam, masyarakat politik, yang hilang atau timbul, bergerak dan berhenti, pada waktu yang singkat atau lama, pada perkara yang berseluk-beluk, maka kita tiada bisa sampai ke ujung dengan perkakas logika semata-mata. Kita mesti memakai dialektika. Malah dialektikalah yang terutama.

Ahli filsafat yang jawa, ahli politik atau ahli siasat yang cerdas ahli ekonomi yang sempurna, mesti memakai senjata-pertentangan, seperti senjata dalam pepatah Indonesia: yang tajam balik bertimbal, kalau tak ujung pangkal mengena. Ahli filsafat mesti selalu berjalan di antara kedua kutub, utara dan selatan, ujung dan pangkal, ya dan tidak, ada dan tak-ada. Sebentar dia bisa cemplungkan otaknya ke dalam ada, sebentar lagi ke dalam tak ada, dan pada tempat masing-masing memakai logika, tetapi pada pemandangan jauh mempunyai waktu lama, dia mesti pikirkan ada itu terletak di kutub tak-ada, tak boleh bercerai satu sama lainnya.

Si-ekonomis dan ahli politik, sebentar boleh memakai Logika, dalam menyelidiki beberapa perkara dalam golongan proletar atau kapitalis, tetapi dalam filsafat masyarakat sekarang, masyarakat kapitalisme, dia tidak boleh melupakan kedua kutub, kaum modal dikutub utara, kaum buruh di kutub selatan. Satu sama lain bertentangan, tak boleh dipadu. Disini dialektika yang merajalela.

Tetapi sebelum kita memilih cara berpikir mana yang terutama kita pakai, dialektika-kah atau logika-kah, maka haruslah lebih dahulu kita bertanya kepada diri sendiri, apakah persoalan itu berdasarkan matter, benda ataukah idea, bayangan pikiran semata-mata, roh semata-mata.

Kalau persoalan itu berdasar atas benda, barang yang nyata yang bisa diperiksa dengan panca indera anggota yang lima, boleh diperalamkan, diexperimentkan, barulah persoalan itu kita taruh di bawah pemeriksaan kita. Segala bukti yang nyata yang bisa diperalamkan itulah yang akan menjadi premisses, menjadi lantainya undang atau paham yang kita cari itu.

Sebab itulah kita namakan Madilog karena berdasarkan matter, benda. Dari penjuru matter inilah kita memandang. Inilah buat kita yang jadi lantai, yang menjadi tingkat pertama dalam sesuatu penyelidikan. Boleh jadi resultant atau hasil penyelidikan itu tiada mencukupi atau salah sama sekali. Tetapi hal ini tidak disebabkan salahnya cara berfikir. Boleh jadi kepala kita sedang pusing atau bukti belum semuanya terkumpul atau akhirnya kita salah memakai cara tadi.

Sudah lazim kita dengar dialektika-materialisme atau historisch-materialisme. Perkataan ini memang cukup tangkas dan selalu dipakai dalam kalangan Marxisten tetapi nama ini lahir di dunia barat di antara Marxisten di masa kebanyakan logika, buat menentang sikap yang terlampau banyak mengutamakan logika. Kita yang lahir di dunia mistika, mistika Hindu pula, mistika yang tak gampang dikikis, di cuci bersih, maka sebagai tongkat pertama dalam dunia berpikir, perlulah kita sekadarnya memajukan logika. Di antara ahli pikir borjuis barat ada yang menyanggah nama dialektika materialisme dan memajukan kritis-materialisme, ialah logisch-materialisme, tetapi nama ini sama sekali melenyapkan dialektika, jadi bertentangan dengan Madilog.

Walaupun dalam bagian badan kita, otak kita itu adalah barang yang perlu dan penting, hati, jantung, usus, dsb juga penting, tetapi kalau tak-bertulang belakang kita tak bisa berdiri. Klas tani itu penting, klas saudagar di dunia sekarang berguna, klas intelek berguna-penting, tetapi tak-ber-klas pekerja-mesin, Indonesia merdeka pasti tak akan bisa berdiri dan kalau berdiri tak akan bisa teguh dan lama.

Beginilah paham saya sebelum dibuang keluar Negara lebih dari 20 tahun yang lampau. Di bawah bendera Dai Nippon paham itu tak bertambah lemah, malah sebaliknya bertambah kuat. Perjuangan nasionalis setelah robohnya PKI (1927), yang dipimpin oleh kaum intelek sudah lebih dari pada cukup memberi bukti yang nyata, bahwa perjuangan yang tiada berdasarkan pekerja-murba tidak akan mendapat Indonesia Merdeka. Sikap keras terhadap para pemimpin prajurit pekerja, jauh lebih kejam dari pada sikap yang diambilnya terhadap para pemimpin nasionalis adalah sikap yang sangat jitu sekali menggambarkan taksirannya imperialisme Belanda terhadap berbagai golongan Masyarakat Indonesia yang mengancam dirinya itu.

Paham saya tentang segala golongan di Indonesia, sudah cukup saya terangkan dalam beberapa brosur, yang saya sebut diatas tadi. PARI, yang didirikan sesudah hancurnya PKI berdiri atas perhitungan kekuatan terbuka dan tersembunyi Rakyat Murba dan pekerja Indonesia.

Pentingnya, hidup matinya negara pada dunia kapitalisme dan imperialisme ini, bergantung pada bermacam-macam hal, persenjataan, perindustrian, terutama senjata, letak negara, persatuan serta banyak penduduknya, semangat rakyat, kecerdasan dsb.

Kalau semua hal yang lain bersamaan (letak negara, kecerdasan dan banyak penduduk dsb), maka dalam satu perjuangan keadaan perindustrianlah yang akan memberi putusan. Yang kuat perindustriannya, itulah pihak yang mesti menang. Perusahaan sekarang berdasar atas Ilmu-bukti (science) dan teknik, pesawat. Pesawat itu bendanya ialah besi baja dan kodrat atau rohaninya terutama minyak tanah. Kalau tak ada baja dan minyak, kapal terbang tak bisa naik, tank dan auto tak bisa lari dan kapal-selam tak bisa maju. Kalau besi dan baja itu tidak terdapat dalam negara, melainkan pada negara lain, maka buat menyampaikan maksud imperialismenya negara itu, dia mesti menguasai semua benda yang penting itu kalau satu negara penuh dengan benda tadi, tetapi lemah semangat rakyatnya, lemah intelek, tiada bersatu dan tiada pula merdeka, maka negara itulah yang akan menjadi umpan atau makanan negara yang gagah perkasa.

Di dunia ini tak ada letaknya negara yang lebih berbahagia dari letaknya Indonesia. Buat siasat perang tak ada tempat yang lebih teguh. Barang siapa yang mendudukinya, walaupun hal lain bersamaan, dia mesti menang perang. Siapa yang tiada mendapat kedudukan itu lambat laun akan kalah. Lihatlah saja peta bumi. Dulupun hal ini sudah saya majukan. Besi yang paling banyak dan paling baik sifatnya menurut laporan dalam Bataviasche Nieuwsblad tahun 1935 (?) – kalau saya tak lupa- ialah di Indonesia Utara, Filipina. Tambang besi di Malaka dan Filipina memang sudah berjalan. Sulawesi dan Kalimantan banyak sekali tanah mengandung besi.

Minyak di Sumatra, Kalimantan, Irian sudah begitu kesohor di seluruh dunia, tak perlu dibicarakan lebih panjang lagi. Bauksite dan aluminium keduanya buat melebur baja yang kuat keras sudah dikerjakan di Riau dan akan dikerjakan di Asahan. Benda perang yang lain-lain, seperti: timah, getah dan kopra (buat bom TNT yang maha dahsyat itu minyak kelapalah yang dipakai) didapati di Indonesia lebih dari di seluruh bagian dunia lain digabung jadi satu.

Sudah pernah seorang pengarang buku di Amerika meramalkan, bahwa kalau satu negara seperti Amerika mau menguasai samudra dan dunia, dia mesti rebut Indonesia lebih dahulu buat sendi kekuasaan. Si Amerika tadi tiada meramalkan mungkin kelak rakyat Indonesia sendiri menguasai negaranya sendiri, tak mau menjadi umpan atau makanan negara lain, seperti lebih dari 300 tahun belakangan ini.

Saya sudah kenal sama tambang besi di Malaka dan Indonesia utara, Filipina. Baru ini saja saya kagumi tambang minyak yang besar di Pangkalan bradan, Pelaju dan sungai Gerang. Saya tahu adanya tambang minyak di Tarakan dan Balikpapan, batu arang di Malaka, Sawah Lunto, Bukit Assam dsb, tambang timah di Bangka dan Belitung. Saya tahu ratusan ribu pekerja yang terikat oleh kereta api, tram, mobil, kapal laut dan udara, pos, telepon, telegram dan radio. Ratusan ribu pekerja pada bengkel, pabrik besi, kimia, gula, teh, kain, sabun, dan lain-lain. Pada masa saya berangkat ketika lebih dari 20 tahun dahulu jumlah kaum pekerja itu sudah 2 atau 3 juta orang. Sekarang sudah tentu lebih dari itu. Banyaknya dan sifatnya perusahaan dalam 20 tahun belakangan ini memang sudah bertambah. Begitu juga banyaknya serta sifatnya prajurit pekerja.

Pekerja di dalam tambang minyak, besi, timah, bengkel dan pabrik dan pada pengangkutan inilah tulang belakangnya ekonomi Indonesia. Inilah kaum yang bisa dikerahkan buat menyokong berdirinya dan majunya Indonesia Merdeka yang sejati dan terus-menerus mempertahankan kemerdekaan itu. Dekatilah golongan pekerja ini! Masuklah klasnya! Dengan klas ini bersama dengan golongan lain, maka klas pekerja seolah-olah akan menjadi klas, sebagai “teras’’ yang dikelilingi kayu dan kulit, kalau ia terus maju ke muka buat mencapai kemerdekaan sejati dan mendirikan negara yang cocok dengan kemakmuran sama-rata dan persaudaraan.

Tetapi tuan mesti kupas masyarakat sekarang, dengan cara berpikir yang beralasan benda, bukan roh, yang bertentangan, bukan perdamaian, memakai undang berpikir yang bukan fantastis, bertahyul, sembarangan. Jelaskan pentingnya benda buat kesehatan kecerdasan, kebudayaan, kemerdekaan dan kesenangan. Kupaslah pertentangan upah dan untung, pertentangan proletar dan kapitalis. Pertentangan politik buruh dan politik majikan dan akhirnya pertentangan kebudayaan kaum pekerja dengan kebudayaan kaum hartawan yang menganggur itu. Jelaskanlah kedudukan proletar dalam dunia kapitalisme ini. Peringatkanlah, bahwa mereka pekerjalah, yang menduduki lantai ekonomi perekonomian Indonesia. Bangunkanlah semangat kritis – menentang - dalam masyarakat yang memang berdiri atas beberapa golongan yang bertentangan. Dengan begitu bangunkanlah semangat menyerang buat meruntuhkan yang lama – usang – dan mendirikan masyarakat yang baru – kokoh – kuat.

Janganlah dihampiri mereka, pekerja ini dengan “logika mistika’’. Atau kalau tuan begitu gemar akan logika mistika atau dialektika mistika tuan berlaku jujur. Jalankanlah akibatnya yang sebenarnaya dari logika atau dialektika mistika tadi. Bilanglah saja terus terang, bahwa benda itu tak berarti apa-apa, kalau dibanding akhirat. Propagandakanlah bahwa benda dan nikmat di akhirat lebih banyak, lebih lezat dan lebih kekal. Atau cocok dengan filsafatnya Gautama Budha, katakanlah bahwa benda itu adalah satu rantai, satu karma yang merantai hidup kita, hidup sengsara ini. Dengan demikian cocokilah dan ikutilah sikap dan tindakannya beberapa sekte atau mashap mistika, yang mencari cara yang baik buat membatalkan dunia ini, cara yang baik buat………mati, yang buat mereka berarti mati-hidup. Bilanglah terus-terang mati lebih baik dari pada hidup. Berlakulah begitu, supaya teori cocok dengan praktek, kata dengan laku. Dengan terus terang dan konsekwen bercakap begitu, kaum pekerja bisa memilih mana yang baik di antara Madilog atau Logika Mistika.

SEJARAH MADILOG

Ditulis di Rawajati dekat pabrik sepatu Kalibata Cililitan Jakarta. Disini saya berdiam dari 15 juli 1942 sampai dengan pertengahan tahun 1943, mempelajari keadaan kota dan kampung Indonesia yang lebih dari 20 tahun ditinggalkan. Waktu yang dipakai buat menulis Madilog, ialah lebih kurang 8 bulan dari 15 juli 1942 sampai dengan 30 maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari.

Buku yang lain ialah Gabungan Aslia sudah pula setengah di tulis. Tetapi terpaksa ditunda. Sebab yang pertama karena kehabisan uang. Kedua sebab sang Polisi, Yuansa namanya diwaktu itu, sudah 2 kali datang memeriksa dan menggeledah rumah lebih tepat lagi “pondok’’ tempat saya tinggal. Lantaran huruf madilog dan Gabungan Aslia terlampau kecil dan ditaruh di tempat yang tiada mengambil perhatian sama sekali, maka terlindung ia dari mata polisi. Terpeliharalah pula kedua kitab itu dan pengarangnya sendiri seterusnya dari mata dan tongkat kempei Jepang.

Lantaran hawa kediaman saya itu sudah agak panas dan bahaya kelaparan sudah mengintip, maka terpaksalah saya memberhentikan pekerjaan saya meneruskan menulis Gabungan Aslia. Saya bertualang di daerah Banten mencari nafkah sambil memperlindungkan diri pula.

Akhirnya saya dapat pekerjaan tetap di Tambang Arang, Bayah. Disinilah saya mendapat pekerjaan sedikit lebih tinggi dari romusha biasa, (maklumlah orang tak punya diploma dan surat keterangan!) sampai menjadi pengurus semua romusha dan penduduk kota Bayah dan sekitarnya dalam hal makanan, kesehatan, pulang-pergi dan sakit matinya romusha ribuan orang, dengan perantaraan kantor urusan prajurit pekerja.

Sebagai ketua Badan Pembantu Pembelaan (BPP) dan Badan Pembantu Prajurit Pekerja (BP3), saya akhirnya sampai dipilih menjadi wakil daerah Banten ke kongres Angkatan Muda yang dijanjikan di Jakarta, tetapi tak jadi itu (bulan Juni 1945). Disinilah saya berjumpa dengan pemuda seperti Sukarni, Chairul Saleh, dll. yang sekarang mengambil bagian dalam pergerakan Persatuan Perjuangan. Juga dengan pemuda lainnya umpamanya seorang jurnalis yang amat dikenal di sekitar Bayah ketika itu, tak lebih dan tak kurang dari Bang Bejat, alias Anwar Tjokroaminoto dan saudaranya. Resan minyak ke minyak, resan air ke air, kata pepatah.

Demikianlah pengarang ini yang pada masa Jepang itu memperkenalkan dirinya dengan nama ILJAS HUSSEIN, dengan jalan memutar sampai juga ke golongan yang dicari yang mulai mengambil bagian besar dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945, ialah golongan pemuda. Pekerjaan revolusioner di samping pemuda itu sampai sekarang terus berlaku, yakni Persatuan Perjuangan yang sudah mulai menulis sejarah. Atas permintaan pemuda pulalah Madilog sekarang akan disebarkan di antara mereka yang rasanya sanggup menerimanya.

Pena merayap di atas kertas dekat Cililitan, di bawah sayapnya pesawat Jepang yang setiap hari mendengungkan kecerobohannya di atas pondok saya. Madilog ikut lari bersembunyi ke Bayah Banten, ikut pergi mengantarkan romusha ke Jawa tengah dan ikut menggeleng-geleng kepala memperhatikan proklamasi Republik Indonesia. Di belakang sekali ikut pula ditangkap di Surabaya bersama pengarangnya, berhubung dengan gara-gara Tan Malaka palsu………………bahkan hampir saja Madilog hilang.

Baru 3 tahun sesudah lahirnya itu, Madilog sekarang memperkenalkan dirinya kepada mereka yang sudi menerimanya. Mereka yang sudah mendapat minimum latihan otak, berhati lapang dan seksama serta akhirnya berkemauan keras buat memahamkannya.

TAN MALAKA

Lembah Bengawan Solo, 15 Maret 1946.

Bookmark and Share

FILOSOFI SEMAR

October 28th, 2008

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra = Membangun sarana dari dasar

Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.

Ciri sosok semar adalah :

Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua

Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan

Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa

Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok

Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi :

Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma“, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri

Dalam Etika Jawa ( Sesuno, 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah punakawan ” Abdi ” Pamomong ” yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.

Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 ). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ” menjelma ” ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.

Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno, 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ” sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ” menjaga kedamaian dunia ( Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 )

Dari segi etimologi, joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ” cahaya “. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 - Suseno 1988 : 191 ). Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.

Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ” pimpinan rahmani ” yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer, tt : 13 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ” rasa ingat ” ( timoer 1994 : 4 ), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 )

Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ” Semar Mbabar Jati Diri “. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Gagasan itu disambut para dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 - Arum 1995 : 10 ). Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ” Semar Mbabar Jadi Diri ” diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ” ilmu asal dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka

Bookmark and Share

BUAT PARA KEKASIH ALLAH

October 28th, 2008

BUAT PARA KEKASIH ALLAH

MEMANDANG ALLAH

Cinta kepada Alloh ini adalah hal yang paling tinggi sekali dan itulah tujuan kita yang terakhir. Kita telah berbicara berkenaan bahaya kerohanian yang akan menghalangi cinta kepada Alloh dalam hati manusia, dan kita telah berbicara berkenaan berbagai sifat-sifat yang baik sebagai keperluan asas menuju Cinta Alloh itu.
Kesempurnaan manusia itu terletak dalam Cinta kepada Alloh ini. Cinta kepada Alloh ini hendaklah menakluki dan menguasai hati manusia itu seluruhnya. Kalau pun tidak dapat seluruhnya, maka sekurang-kurangnya hati itu hendaklah cinta kepada Alloh melebihi cinta kepada yang lain.
Sebenarnya mengetahui Cinta Ilahi ini bukanlah satu hal yang senang sehingga ada satu golongan orang bijak pandai agama yang langsung menafikan cinta kepada Alloh atau Cinta Ilahi itu. Mereka tidak percaya manusia boleh mencintai Alloh Subhanahuwa Taala karena Alloh itu bukanlah sejenis dengan manusia. Kata mereka; maksud Cinta Ilahi itu adalah semata-mata tunduk dan patuh kepada Alloh saja.
Sebenarnya mereka yang berpendapat demikian itu adalah orang yang tidak tahu apakah hakikatnya agama itu.
Semua orang Islam setuju bahwa cinta kepada Alloh (cinta Alloh) itu adalah satu tugas. Alloh ada berfirman berkenaan dengan orang-orang mukmin;

” Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. “. (Al Maidah:54)
Nabi pernah bersabda;
“Belum sempurna iman seseorang itu hingga ia Mencintai Alloh dan Rasulnya lebih daripada yang lain”.
Apabila malaikat maut datang hendak mengambil nyawa Nabi Ibrahim,
Nabi Ibrahim berkata,
“Pernahkah engkau melihat sahabat mengambil nyawa sahabat?”
Alloh berfirman,
“Pernahkah engkau melihat sahabat tidak mau melihat sahabatnya?”
Kemudian Nabi Ibrahim berkata, “Wahai Izrail! Ambillah nyawaku!”
Doa ini diajar oleh Nabi kepada sahabatnya;
“Ya Alloh, kurniakanlah kepada ku Cinta terhadap Mu dan Cinta kepada mereka yang Mencintai mu, dan apa saja yang membawa aku hampir kepada CintaMu, dan jadikanlah CintaMu itu lebih berharga kepadaku dari air sejuk kepada orang yang dahaga.”
Hasan Basri berkata;
“Orang yang kenal Alloh akan Mencintai Alloh, dan orang yang mengenal dunia akan benci kepada dunia itu”.
Sekarang marilah kita membicarkan pula berkenaan dengan keadaan cinta itu. Bolehlah ditafsirkan bahwa cinta itu adalah kecenderungan kepada sesuatu yang indah atau nyaman. Ini nyata sekali pada dari yang lima (pancaindera) yaiitu tiap-tiap satunya mencintai apa yang memberi keindahan atau kepuasan kepadanya. Mata cinta kepada bentuk-bentuk yang indah. Telinga cinta kepada bunyi-bunyinya yang merdu, dan sebagainya. Inilah jenis cinta yang kita miliki dan binatang pun memilikinya.
Tetapi ada dari yang keenam atau keupayaan pandangan yang terletak dalam hati, dan ini tidak ada pada binatang. Dengan melalui inilah kita mengenal keindahan dan keagungan keruhanian. Oleh karena itu, mereka yang terpengaruh dengan kehendak-kehendak jasmaniah dan kedunian saja tidak dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nabi apabila baginda berkata bahwa baginda cinta kepada sembahyang melebihi dari cintanya kepada perempuan dan bau harum wangi, meskipun perempuan dan wangi-wanginya itu disukai juga oleh baginda. Tetapi siapa yang mata batinnya terbuka untuk melihat keindahan dan kesempurnaan Ilahi akan memandang rendah kepada semua hal-hal yang zhohir walau bagaimanapun cantiknya sekalipun.
Orang yang memandang zhohir saja akan berkata bahwa kecantikan itu terletak pada warna kulit yang putih dan merah, kaki dan tangan yang eloknya dan sebagainya lagi, tetapi orang ini buta kepada kecantikan akhlak, seperti apa yang dikatakan orang bahwa seseorang itu mempunyai sifat-sifat akhlak yang “indah”. Tetapi bagi mereka yang mempunyai pandangan batin dapat mencintai orang-orang besar yang telah kembali kealam baka, seperti Khalifah Umar dan Abu Bakar misalnya, karena kedua-dua orang besar ini mempunyai sifat-sifat yang agung dan mulia, meskipun tubuh mereka telah hancur menjadi tanah. Cinta seperti ini bukan memandang kepada sifat-sifat zhohir saja, tetapi memandang kepada sifat-sifat batin. Bahkan apabila kita hendak menimbulkan cinta dalam hati kanak-kanak terhadap seseorang, maka kita tidak memperihalkan keindahan bentuk zhohirnya, dan lain-lain, tetapi kita perihalkan keindahan-keindahan batinnya.
Apabila kita gunakan prinsip ini terhadap cinta kepada Alloh, maka kita akan dapati bahwa Dia sajalah sepatutnya kita Cinta. Mereka yang tidak mencintai Alloh itu ialah karena mereka tidak mengenal Alloh itu. Apa saja yang kita cinta kepada seseorang itu, kita cintai karena itu adalah bayangan Alloh. Karena inilah kita cinta kepada Muhammad Saw karena baginda adalah Rasul dan kekasih Alloh, dan cinta kepada orang-orang alim dan orang-orang auliya itu adalah sebenarnya cinta kepada Alloh.
Kita akan lihat ini lebih jelas jika kita perhatikan apakah sebab-sebabnya yang menyemarakkan cinta.
Sebab pertama ialah, bahwa seseorang itu cinta kepada dirinya sendiri dan menyempurnakan keadaannya sendiri. Ini membawanya secara langsung menuju Cinta kepada Alloh, karena wujudnya dan sifatnya manusia itu adalah semata-mata Kurniaan Alloh saja. Jika tidaklah karena kehendak Alloh Subhanahuwa Taala dan KemurahanNya, manusia tidak akan zhohir ke alam nyata itu. Kejadian manusia itu dan pencapaian menuju kesempurnaan adalah juga dengan kurnia Alloh semata. Sungguh aneh jika seseorang itu berlindung ke bawah pohon dari sinar matahari tetapi tidak berterima kasih kepada pohon itu.
Begitu jugalah jika tidaklah karena Alloh, manusia tidak akan wujud dan tidak akan ada mempunyai sifat-sifat langsung. Oleh karena itu, kenapa manusia itu tidak Cinta kepada Alloh? Jika tidak cinta kepada Alloh berarti ia tidak mengenalNya. Tanpa mengenalNya orang tidak akan Cinta kepadaNya, karena Cinta itu timbul dari pengenalan . Orang yang bodoh saja yang tidak mengenal.
Sebab yang kedua ialah, bahwa manusia itu cinta kepada orang yang menolong dan memberi kurnia kepada dirinya. Pada hakikatnya yang memberi pertolongan dan kurnia itu hanya Alloh saja. Sebenarnya apa saja pertolongan dan kurnia dari makhluk atau hamba itu adalah dorongan dari Alloh Subhanahuwaa Taala juga. Apa saja niat hati untuk membuat kebaikan kepada orang lain, sama ada keinginan untuk maju dalam bidang agama atau untuk mendapatkan nama yang baik, maka Alloh itulah pendorong yang menimbulkan niat, keinginan dan usaha untuk mencapai apa yang dicinta itu.
Sebab yang ketiga ialah cinta yang ditimbulkan dengan cara renungan atau tafakur tentang Sifat-sifat Alloh, Kuasa dan KebijaksanaanNya. Dan bermula Kekuasaan dan kebijaksanaan manusia itu adalah bayangan yang amat kecil dari Kekuasaan dan Kebijaksanaan Alloh Subhanahuwa Taala juga. Cinta ini adalah seperti cinta yang kita rasakan terhadap orang-orang besar di zaman dulu, misalnya Imam Malik dan Imam Syafie meskipun kita tidak akan menyangka menerima sebarang faedah pribadi dari mereka itu, dan dengan itu adalah jenis yang tidak mencari untung. Alloh berfirman kepada Nabi Daud,
“Hamba yang paling aku Cintai ialah mereka yang mencari Aku bukan karena takut hukumKu atau hendakkan KurniaanKu, tetapi adalah semata-mata karena Aku ini Tuhan.”
Dalam kitab Zabur ada tertulis,
“Siapakah yang lebih melanggar batas daripada orang yang menyembahKu karena takutkan Neraka atau berkehendakkan Syurga? Jika tidak aku jadikan Surga dan Neraka itu tidakkah Aku ini patut disembah?”
Sebab yang keempat berhubungan dengan cinta ini ialah karena keterikat yang erat antara manusia dan Tuhannya, yang maksudkan oleh Nabi dalam sabdanya :
“Sesungguhnya Alloh jadikan manusia menurut bayanganNya”
Selanjutnya Alloh berfirman;
“HambaKu mencari kehampiran denganKu, supaya Aku jadikan dia kawanKu, dan bila Aku jadikan ia kawanku, jadilah Aku telinganya, matanya dan lidahnya”.
Alloh berfirman juga kepada Nabi Musa;
“Aku sakit, engkau tidak mengungjungiKu.” Nabi Musa menjawab, “Aahai Tuhan, Engkau itu Tuhan langit dan bumi, bagaimana engkau boleh sakit?” Alloh menjawab, “Seorang hambaKu sakit, kalau engkau mengunjungi dia, maka engkau mengunjungi Aku.”
Ini adalah satu hal yang agak bahaya hendaklah dikaji lebih dalam karena ia tidak terjangkau oleh pengetahuan orang awam, bahkan yang bijak pandai pun mungkin tumbang dalam perjalanan hal ini, lalu menganggap ada penzhohiran atau penjelmaan Tuhan dalam manusia. Tambahan pula hal kemiripan hamba dengan Tuhan ini dibantah oleh Alim Ulama’ yang tersebut diatas dulu karena mereka berpendapat bahwa manusia itu tidak dapat mencintai Alloh oleh sebab Alloh bukan sejenis manusia. Walau pun berapa jauh jaraknya antara mereka, namun manusia boleh mencintai Alloh karena yang kemiripan itu ada ditunjukkan oleh sabda Nabi :
“Alloh jadikan manusia menurut rupanya.”
Dan kataku pula (suluk), untuk mendapat dan menjejaki maksud sabda Nabi yang penuh dan melimpah dengan lautan hikmah zhohir dan batin ini, perlulah diambil pengajaran dari kalangan ulama yang muqarrabin yang arifbiLlah dari kalangan Aulia Alloh yang apabila berbicara, hanya akan mengungkapkan sesuatu yang didatangi dari Alam Tinggi, bukan beralaskan sesuatu kepentingan atau pengaruh hawa nafsunya. Ilmu mereka adalah pencampakkan Ilham dari Alloh Taala yang didapati terus dari Alloh sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Imam Ghazali dalam karyanya Al-Risalutul lil Duniyyah sebagaimana berikut;
Ilham adalah kesan Wahyu. Wahyu adalah penerangan Urusan Ghoibi manakala Ilham ialah pemaparannya. Ilmu yang didapati menerusi Ilham dinamakan Ilmu Laduni.
Ilmu Laduni ialah ilmu yang tidak ada perantaraan dalam mendapatkannya di antara jiwa dan Alloh Taala. Ia adalah seperti cahaya yang datang dari lampu Qhaib jatuh ke atas Qalbu yang bersih, kosong lagi halus (Lathif).
Semua orang Islam percaya bahwa memandang Alloh itu adalah puncak segala kebahagiaan karena ada tercatat dalam hukum. Tetapi bagi kebanyakan orang, ini adalah berbicara di mulut saja yang tidak menimbulkan rasa dalam hati. Sebenarnyalah begitu karena bagaimana orang dapat menyintai sesuatu jika ia tidak tahu dan tidak kenal? Kita akan coba menunjukkan secara ringkas bagaimana memandang Alloh itu puncak segala kebahagiaan yang bisa dicapai oleh manusia.
Pertama , tiap-tiap bakat atau anggota manusia itu ada tugas-tugasnya masing-masing dan ia merasa tertarik dan suka menjalankan tugas itu. Ini serupa saja sejak dari kehendak tubuh yang paling rendah hinggalah kepada pengetahuan akal yang paling tinggi. Usaha mental (otak) yang paling rendah pun mendatangkan ketertarikan yang lebih dari hanya memuaskan kehendak tubuh saja. Kadang-kadang seseorang yang khusuk bermain catur tidak mau makan meskipun ia berkali-kali dipanggil untuk makan.
Makin tinggi hal pengetahuan kita itu, maka makin bertambah menarik dan sukalah kita mengusahakan hal itu. Misalnya kita lebih berminat untuk mengetahui rahasia Sultan dan rahasia menteri. Dengan demikian, oleh karena Alloh itu adalah objek atau hal pengetahuan yang paling tinggi, maka mengenal atau mengetahui Alloh itu mestilah memberi kebahagiaan dan kelezatan lebih daripada yang lain-lain. Orang yang mengetahui dan mengenal Alloh walaupun dalam dunia ini. seolah-olah di dalam syurga, buah-buahan bebas untuk dipetik, dalam lebarnya tidak disempitkan oleh penghuninya yang ramai itu.
Firman Alloh SWT :

” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa ” (Al Imran:133)
Tetapi kenikmatan ilmu atau pengetahuan masih tidak menyamai atau menyerupai kenikmatan pandangan sebagaimana ketertarikan kita dalam memikirkan mereka yang bercinta adalah lebih rendah daripada ketertarikan yang diberi oleh memandangnya dengan benar.
Terpenjaranya kita dalam tubuh kita dari tanah dan air dan terbelenggu kita dalam hal-hal indera (pancaindera) menjadikan hijab yang melindungi kita daripada memandang Alloh , meskipun tidak menghalang pencapaian kita kepada mengetahui dan mengenalNya. karena inilah Alloh berfirman kepada Nabi Musa di Gunung Sinai,

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al Araaf:143)
Hakikat hal ini adalah sebagaimana benih manusia itu menjadi manusia, dan biji tamar menjadi pohon tamar, begitu jugalah mengenal Alloh yang diperoleh di dunia ini akan bertukar menjadi “Memandang Alloh” di akhirat kelak, dan mereka yang tidak mempelajari pengetahuan itu tidak akan mendapat pandangan itu. Pandangan ini tidak akan dibagi-bagikan sama rata kepada mereka yang tahu tetapi “konsep pemahaman” mereka tentangnya akan berbeda-beda sebagaimana ilmu mereka.
Alloh itu Satu tetapi ia kelihatan dengan berbagai-bagai cara, sebagaimana satu benda itu terbayang dalam berbagai cara dalam berbagai cermin. Ada yang lurus, ada yang bengkok, ada yang terang dan ada yang gelap. Sesuatu cermin itu mungkin terlalu bengkok dan ini menjadikan bentuk-bentuk yang cantik kelihatan buruk dalam cermin itu. Seseorang manusia itu mungkin membawa ke akhirat hati yang gelap dan bengkok, dan dengan itu pandangan yang menjadi puncak kedamaian dan kebahagiaan kepada orang lain, akan menjadi sumber kesengsaraan dan kedukaan kepadanya.
Orang yang Menyintai Alloh sepenuh hati dan Cintanya kepada Alloh melebihi Cintanya kepada yang lain akan memperolehi lebih banyak kebahagiaan daripada pandangan melebihi daripada mereka yang dalam hatinya tidak ada pandangan ini. Umpama dua orang yang kekuatan matanya sama saja memandang kepada wajah yang cantik. Orang yang telah ada cintanya kepada orang yang memiliki wajah itu akan merasa tertarik dan bahagia memandang wajah itu melebihi dari orang yang tidak ada cintanya kepada orang yang mempunyai wajah itu.
Untuk kebahagiaan yang sempurna, ilmu saja tidak tidaklah cukup. Hendaklah disertakan dengan Cinta. Cinta kepada Alloh itu tidak akan tercapai selagi hati itu tidak dibersihkan daripada cinta kepada dunia. Pembersihan ini dapat dilakukan dengan menahan diri dari hawa nafsu yang rendah dan bersikap zuhud.
Semasa dalam dunia ini, keadaan seseorang itu terhadap “Memandang Alloh” adalah ibarat orang yang cinta yang melihat muka orang yang yang dicintai dalam waktu senja kala dan pakaiannya penuh dengan penyengat dan kalajengking yang senatiasa menggigitnya. Tetapi sekiranya matahari terbit dan menunjukkan muka yang dicintai dengan segala keindahannya, dan penyengat serta kala itu telah pergi darinya, maka kebahagiaan orang yang cinta itu adalah seperti hamba Alloh yang terlepas dari gelap senja dan azab cobaan di dunia ini, lalu melihat dia tanpa hijab lagi .
Abu Sulaiman berkata;
“Siapa yang sibuk dengan dirinya sendiri saja di dunia ini, akan sibuk juga dengan dirinya di akhirat kelak, dan siapa yang sibuk dengan Alloh di dunia ini akan sibuk juga dengan Alloh di akhirat kelak”.
Yahya bin Mu’adz menceritakan;
“Saya lihat Abu Yazid Bustomin sembahyang sepanjang malam. apabila beliau telah habis sembahyang, beliau berdoa dan berkata :
“Oh Tuhan!!! Setengah dari hambaMu meminta padaMu kuasa untuk membuat sesuatu yang luar biasa (karamat) seperti berjalan di atas air, terbang di udara, tetapi aku tidak meminta itu; ada pula yang meminta harta karun, tetapi aku tidak meminta itu,
kemudian ia memalingkan mukanya dan setelah dilihatnya saya, ia berkata; “Kamu di situ Yahya?” Saya menjawab; “Ya!” Beliau bertanya lagi; “Sejak kapan?” Saya menjawab; “Telah lama saya di sini” Kemudian saya bertanya dan beliau menceritakan kepada saya setengah daripada pengalaman keruhaniannya.
“Saya akan menceritakan” Jawab beliau. “Apa yang boleh saya ceritakan kepadamu, Alloh Subhahahuwa Taala menunjukkan aku kerajaanNya dari yang paling tinggi hingga ke paling rendah. DiangkatNya saya melampaui Arash dan Kursi dan tujuh petala langitnya, kemudian Ia (Alloh) berkata; “Pintalah kepadaKu apa saja yang engkau kehendaki”.
Saya menjawab; “Ya Alloh!!! tidak akan saya minta apa pun melainkan Engkau”.
JawabNya (Alloh) : “Sesungguhnya engkau hambaKu yang sebenar benarnya”.
Pada suatu ketika pula Abu Yazid berkata:
“Sekiranya Alloh mengkaruniakan engkau kemiripan denganNya seperti Ibrahim, kekuasaan Sholat Musa, keruhanian ‘Isa, namun wajahmu hadapkanlah kepada Dia saja karena ia ada harta yang melampaui segala-galanya itu”
Suatu hari seorang sahabatnya berkata kepada beliau; “Selama tiga puluh tahun saya puasa di siang hari dan sembahyang di malam hari tetapi saya tidak dapati kenikmatan keruhanian yang engkau katakan itu”.
Abu Yazid menjawab; “Jika engkau puasa dan sembahyang selama tiga ratus tahun pun, engkau tidak akan mendapatkannya”.
Sahabatnnya berkata; “Bagaimanakah itu?”
Kata Abu Yazid; “obatnya ada tetapi engkau tidak akan sanggup menelannya obat itu”. Tetapi oleh karena sahabatnya itu bersungguh-sungguh benar meminta supaya diceritakan, Abu Yazid pun berkata;
“Pergilah kepada tukang gunting dan cukurlah janggutmu itu; buanglah pakaianmu itu kecuali seluar dalam saja. Ambil satu kampit penuh yang berisi “Siapa yang mau menempeleng kuduk leherku dia akan mendapat buah ini” Kemudian dalam keadaan ini pergilah kepada Kadi dan ahli syariat dan berkata; “Berkatilah Ruhku”.
Kata sahabatnya; “Tidak sanggup saya berbuat demikian, berilah saya cara yang lain”.
Abu Yazid pun berkata; “Inilah saja caranya, tetapi seperti yang telah saya katakan kamu ini tidak dapat diobat lagi”.
Sebab Abu Yazid berkata demikian kepada orang itu ialah karena orang itu sebenarnya pencari pangkat dan kedudukan. Bercita-cita hendak pangkat dan kedudukan seperti bersikap sombong dan bangga adalah penyakit yang hanya dapat diobat dengan cara yang demikian itu.
Alloh berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kami lah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash Shaff:14)
Apabila orang bertanya kepada Nabi ‘Isa; “Apakah kerja yang paling tinggi sekali derajatnya?” Beliau menjawab; “Mencintai Alloh dan tunduk kepadaNya”.
Suatu ketika orang bertanya kepada Wali Alloh bernama Rabi’atul Adawiyah sama ada beliau cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau menjawab; ” Cinta kepada Alloh menghalang aku cinta kepada makhluk”.
Ibrahim bin Adham dalam doanya berkata; “Ya Alloh! pada mataku syurga itu sendiri lebih kecil dari unggas jika dibandingkan dengan Cintaku terhadapMu dan kenikmatan mengingatiMu yang Engkau telah kurniakan kepadaku”.
Siapa yang menganggap ada kemungkinan menikmati kebahagiaan di akhirat tanpa mencintai Alloh adalah orang yang telah jauh sesat anggapannya, karena segala-galanya di akhirat itu adalah kembali kepada Alloh dan Alloh itulah alamat yang dituju dan dicapai setelah melalui halangan yang tidak terhingga banyaknya. Nikmat memandang Alloh itu adalah kebahagiaan. Jika seseorang itu tidak suka kepada Alloh di sini, maka di sana pun ia tidak suka juga kepada Alloh. Jika sedikit saja sukanya kepada Alloh di sini, maka sedikit jugalah sukanya kepada Alloh di sana . Pendeknya, kebahagiaan kita di akhirat adalah tergantung pada kadar Cintanya kita kepada Alloh di dunia ini.
Sebaliknya jika dalam hati manusia itu ada tumbuh cinta kepada apa saja yang berlawanan dengan Alloh, maka keadaan hidup di akhirat sana akan berlainan dan ganjil sekali kepadanya dan dengan ini apa saja yang mendatangkan kebahagiaan kepada orang lain, akan mendatangkan ‘azab sengsara kepadanya. Mudah-mudahan Alloh lindungi kita dari terjadi sedemikian itu.
Ini bolehlah kita gambarkan dengan misalnya seperti berikut :
Seorang pengangkut sampah pergi ke kedai yang menjual minyak wangi. Apabila beliau membawa bau-bauan yang harum wangi itu, ia pun jatuh dan tidak sadar diri. Orang pun datang hendak memberi pertolongan kepadanya. Air dipercikkan kemukanya dan dihidungnya diletakkan kasturi. Tetapi beliau bertambah parah. Akhirnya datanglah seorang pengangkut sampah juga, lalu diletakkan sedikit sampah kotor di bawah hidung orang yang pingsan itu. Dengan segera orang itu pun sadar semula sambil berseru dengan rasa puas hati, “Wah! Inilah sebenarnya wangi!”
Demikian jugalah, ahli dunia tidak akan menjumpai lagi karat dan kotor dunia ini diakhirat. Kenikmatan keruhaniah alam sana berlainan sekali dan tidak sesuai dengan kehendaknya. Maka ini menjadikannya bertambah parah dan sengsara lagi. karena alam sana itu adalah alam ruhaniah dan penzhohiran Jamal (keindahan) Alloh Subhanahuwa Taala. Berbahagialah mereka yang ingin mencapai kebahagiaan di sana itu dan menyesuaikan dirinya dengan alam itu. Semua sikap zahud, menahan diri ibadah, menuntut ilmu adalah bertujuan untuk mencapai penyesuaian itu dan penyesuaian itu adalah cintanya. Inilah maksud Al-Quran:

…….., Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.(Al Baqoroh:222)
Dosa dan maksiat sangat bertentang dengan masalah ini Oleh karena itulah tercantum dalam Al-Quran:

Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. (Al Jaatsiyah:27)
Orang yang dikaruniai dengan mata keruhanian telah nampak hakikat ini dalam rasa pengalaman mereka bukan hanya kata-kata yang diterima turun-menurun sejak dahulu lagi. Pandangan mereka itu membawa kepercayaan bahwa orang yang berkata demikian adalah sebenarnya Nabi, ibarat orang yang mengkaji ilmu pengobatan, akan tahu adakah orang yang berbicara berkenaan pengobatan itu sebenarnya dokter ataupun bukan. Ini adalah jenis keyakinan yang tidak perlu dibantu dengan mukjizat atau perbuatan yang diluar kebiasaan karena yang demikian pun dapat dilakukan juga oleh tukang sihir atau tukang silap mata.

Apa yang Tuhan inginkan

Ada sebuah fase ketika seorang pejalan dan orang-orang yang percaya musti sejenak berhenti, barangkali di antara jeda-jeda nafas ini: apa yang sebenarnya Tuhan inginkan? Apakah diam saja bagai emas atau berbicara? Apakah tetap tinggal atau hijrah? Apakah musti ke dokter atau biarkan saja? Apakah sekolah lagi atau bekerja? Apakah musti memberinya atau membiarkannya?
Yang mana yang Ia maui?
Pertanyaan serupa diajukan di sebuah diskusi bersama Bawa Muhaiyaddeen (seorang sufi asal Srilanka), terekam di (dan diterjemahkan dengan semena-mena tanpa ijin dari) buku Questions of Life, Answers of Wisdom Vol. 2.
* * *
Tanya: Kadang saya tak tahu lagi apa yang Tuhan maui. Apakah Dia ingin saya melakukan sesuatu agar terjadi, atau Dia mau saya diam saja dan menerima apapun yang terjadi?
Bawa Muhaiyaddeen: Baik. Coba kita perhatikan seorang dokter, misalnya. Setelah belajar di sekolah kedokteran, jika ia menjadi ahli bedah, ia akan memiliki akses ke semua peralatan bedah yang diperlukannya untuk menangani pasien. Apa tugasnya saat itu? Ia paham bahwa pasien yang ditanganinya bisa saja meninggal selama operasi. Ia barangkali berpikir, “Jika operasi gagal dan pasien meninggal, maka aku akan tersalah sebagai pembunuh dan masuk neraka. Tapi jika pasien hidup, aku akan dipuji.” Mungkin saja seperti itu. Tapi ia seharusnya tidak beranggapan bahwa ia bertanggungjawab terhadap hasil yang muncul.
Ada Sang Pencipta yang telah membuat tubuh ini, dengan segenap urat nadi dan syaraf-syarafnya. Segala sesuatu adalah kepunyaan-Nya, begitu juga hidup dan mati. Bahkan segala pujian dan tuduhan adalah milik-Nya semata. Sang dokter harus paham ini. Ia seharusnya berkata, “Wahai, Tuhanku, ini pekerjaan-Mu. Datanglah dan lakukan tugas-Mu. Aku hanya pembantu-Mu. Aku hanya alat di tangan-Mu. Engkaulah yang melakukan operasi ini, melindungi pasien ini, menghidupkan atau mematikannya. Ini tugas-Mu. Aku hanya instrumen. Instrumen tak punya tanggungjawab terhadap apa yang akan terjadi nanti. Sang Pelaksana dan Pelindung adalah Engkau. Oleh karena itu, Engkau, Paduka sendirilah, yang harus mengerjakan operasi ini.”

Anakku, engkau harus sadar bahwa engkau hanyalah instrumen-Nya, dan tanggungjawab tidak terletak di pundakmu. Ingatlah bahwa Tuhan-lah Sang Ahli Bedah itu dan engkau adalah tangan-Nya. Jika engkau mengerjakan tugasmu dalam keadaan seperti ini, maka tak akan ada bahaya yang akan menimpamu. Tuhan yang akan melakukannya. Namun jika engkau berkata, “Aku lah yang melakukan operasi ini,” maka pujian dan tuduhan ada di pundakmu.
Jika engkau mengerti bahwa tanggungjawab akan pujian dan tuduhan hanya tertuju pada Allah semata, dan jika engkau menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya, maka engkau akan mengerjakan tugasmu sebagai perangkat-Nya, “Semoga hanya Paduka-lah yang mengerjakannya, wahai Tuhanku.” Oleh karena itu, jadilah instrumen-Nya dan lakukan tugas dengan kemampuan terbaik yang engkau miliki. Itulah jalannya.
* * *

Memahami Takdir — Bawa Muhaiyaddeen
Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen
Diterjemahkan oleh Herry Mardian.

ANAK-ANAKKU tersayang, sebenarnya apa yang kita lakukan, apa yang kita perbuat, itulah yang membuahkan takdir kita (Al-Qada’ wal Qadar). Pena-nya ada di tangan kita sendiri, dan kita sendiri yang menulis bukti-bukti yang akan menjadi bahan pertimbangan pada hari pengadilan nanti. Keputusan terakhir akan dibuat berdasarkan tulisan kita ini. Allah akan membacanya dan berkata, “Inilah takdirmu (nasib). Kami akan membuatnya sebagai takdir bagimu.”
Pada keadaan-kedaan tertentu, ketika kita merasa begitu berat menyingkirkan hal tertentu, dan ketika kita merasa itu diluar kemampuan kita, kita akan berkata, “Inilah takdirku.” Jika ada seseorang yang sakit, kita akan mencoba segala macam jenis pengobatan padanya, dan ketika itu tidak berhasil kita akan mengatakan, “Pasti ini sudah takdirnya.”
Sebenarnya Tuhan pun seperti itu ketika memberikan putusan terakhirnya, ketika Dia mengatakan “Itulah nasibnya.”. Dia telah memberikan segalanya pada kita. Dia sudah menurunkan pada kita ke sembilan-puluh-sembilan sifat-Nya, dan hanya satu saja yang dia simpan untuk diri-Nya. Dia mengatakan, “Telah Aku berikan segala-galanya pada manusia, tapi manusia tidak memahami dan malah datang pada-Ku dengan membawa beban-beban neraka. Maka itulah yang akan aku jadikan sebagai nasibnya.” Maka Dia akan berkata lagi, “Kembalilah dengan semua yang kau bawa pada-Ku. Itu akan menjadi milikmu.”

Kita sendirilah yang menciptakan neraka atau surga untuk kita. Apapun dari diri kita yang kita tumbuhkan akan menjadi milik kita, dan hasil berupa keuntungan ataupun bencana, kita sendirilah yang mengusahakannya. Apakah kita harus mengambil neraka bagian demi bagian, kemudian mencoba untuk menghancurkannya? Tidak. Dorong itu semua dari jalan kalian, dan teruslah berjalan. Tidak perlu kita mencoba untuk menghancurkannya, majulah terus saja. Jika ada seekor anjing yang datang mencoba menggigit kita, kita menghindar dan berjalanlah terus. Buat apa kita berhenti dan menggigit balik anjing itu?
Sama seperti itu, jika ada setan mengikuti kita, katakan padanya untuk pergi, dan tetaplah berjalan. Jangan membuang-buang waktu dengannya. Dia hanya akan berteriak-teriak sebentar, tapi kemudian akan pergi. Dosa pun akan mengikuti kita sebentar, tapi jika kita tidak melihat kebelakang, maka ia pun akan pergi. Mereka akan berkata, “Ini bukan tempat kita,” lalu pergi. Akan ada banyak hal yang mengikuti kita selama waktu tertentu. Jika kita melihat kebelakang dan tersenyum lebar-lebar lalu menjadi senang karena kedatangan mereka, maka mereka akan terus mengganggu kita. Tapi jika kita tidak menghiraukan mereka, mereka akan pergi sambil berkata, “Gagal. Manusia ini mengalahkanku. Aku tidak dapat memasukinya.”
Seperti pelacur yang menari-nari untuk menangkap pandangan mata pria, seperti itu pula cara mereka mencuri perhatian kita. Mereka berdandan, menari, dan menangkap perhatian kita. Tapi jika kita langsung berpaling, jika kita punya iman, keyakinan dan tekad pada Allah yang Satu dan terus berjalan, mereka tidak akan mendekati kita. Mereka akan menjaga jarak. Tetapi, mereka akan mengikuti kita sebentar, tapi nanti mereka akan pergi meninggalkan kita.
Mereka hanya tertarik pada pikiran dan sifat-sifat tertentu yang buruk pada diri kita. Jika pada suatu saat mereka mencoba untuk mengikatkan diri pada sifat-sifat buruk kita, maka buanglah sifat buruk itu dan teruslah berjalan, maka mereka tidak akan mampu mempengaruhi kita. Mereka akan menjanjikan segalanya: emas, perak, wanita, istana, dan sebagainya. Mereka akan menggoda, “Lihatlah ini! Lihatlah itu!” Tapi jika kalian mengacuhkannya, mereka akan berkata, “Tidak ada yang bisa kita lakukan pada manusia macam ini.”
Jika kalian justru menyambut mereka, tersenyum dan memeluknya, dan merasa senang karenanya, maka mereka akan terus mengikatkan dirinya pada kita. Tapi jika kita halau mereka, mereka akan pergi. Jika ada anjing yang akan menggigit kita, teruslah berjalan. Kita tidak perlu berhenti untuk mencoba menggigitnya balik, karena dia justru akan benar-benar menggigit kita. Jika kita mencoba menakutinya, ia akan menggigit kita. Jika kita mengambil tongkat atau batu, ia tetap akan menggigit kita juga. Oleh karena itu, kita harus berdiri diam dan katakan padanya, “Hai anjing, untuk apa kau terus mengikutiku? Aku tidak pernah menyakitimu. Pergilah, dan lakukan apa yang sudah menjadi tugasmu!” Maka anjing akan pergi dan kita bisa terus berjalan.
Kita harus melakukan hal yang sama setiap kali ada sesuatu yang menangkap kita. Katakanlah, “Tidak, aku tidak akan tertarik. Tidak ada gunanya kau mengikutiku,” dan berjalanlah terus. Tidak perlu merasa takut. Jika kita tatap mereka tanpa rasa takut dan mengatakan, “Pergilah,” maka mereka pun akan pergi.
Anak-anakku, kita sendirilah yang menyiapkan surga atau neraka untuk kita kelak. Takdir kita ditulis oleh tangan kita sendiri, dan kelak kita yang akan memberikannya pada Tuhan, dan barulah setelah itu Dia akan menilainya dan memberikan putusan akhir. Dia berikan pada kita sembilan puluh sembilan sifatnya, dan berkata “Ini menjadi takdirmu. Pergilah dan laksanakan apa yang harus kau kerjakan dengan kesembilan puluh sembilan sifat ini, kemudian kembalilah. Jika dengan ini kau mengumpulkan kebaikan, maka engkau mengusahakan surga. Tapi jika kejahatan yang kau kumpulkan, maka kau mengusahakan neraka. Apapun yang engkau bawa kembali kelak, itu akan menjadi dasar putusan terakhirmu. Aku sendiri yang akan menjadikan keputusan itu sebagai penyempurna takdirmu. Aku serahkan keputusan akhir itu pada tanganmu (Al qada’ wal qadar). Pergilah, selesaikan takdirmu, dan kembalilah. Hasil akhir yang kau peroleh akan menjadi qadha dan qadarmu.”
Jika kita tidak menyadari ini, dan malah menyiapkan neraka bagi kita sendiri, maka Dia pun tidak akan menyiapkan surga. Dia tidak pernah mengatakan, “Apapun yang pernah Aku berikan padamu merupakan takdirmu!” Dia akan senantiasa merubah takdir kalian berdasarkan niat dan perbuatan kalian. Setiap saat kalian minta dimaafkan, Dia akan memaafkan saat itu juga. Setiap saat kalian menyesal dan pemahaman diri kalian bertambah, Dia akan memaafkan kalian. Seiring dengan kebutuhan kalian pada-Nya yang meningkat setahap demi setahap, Dia akan terus menghadiahkan pada kalian hal-hal seperti ini. Jika Dia telah menetapkan takdir bagi kalian terlebih dahulu, tentu Dia tidak akan terus-menerus memberikan maaf seperti ini. Dia telah memberikan kalian kemampuan untuk ber-taubat, dan Dia telah memberikan kalian ampunan-Nya. Karena Dia telah memberikan pada kalian keduanya, kesalahan sekaligus obatnya, maka tentu Dia akan mengampuni setiap kali kalian memintanya.
Lebih jauh lagi, jika takdir kalian telah ditentukan terlebih dahulu, maka kalian tidak akan diperintahkan untuk meminta. Kemampuan meminta dan memohon telah dipersiapkan-Nya khusus untuk kalian, maka tidak ada yang namanya ‘telah ditakdirkan terlebih dahulu.” Khusus bagi manusia, Tuhan telah menyiapkan kemampuan bertaubat, berusaha, dan pengampunan-Nya. Melalui ini semualah kalian bisa meraih kemenangan. Tidak boleh kalian mengatakan, “Semua telah ditulis, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan.” Kalian harus berusaha. Dia telah berikan pada kalian sembilan puluh sembilan sifat-Nya.
Mintalah, maka Dia akan memaafkan. Berharaplah dan Dia akan berikan. Minta dan berharaplah, Dia akan memaafkan dan memberikan. Jika kalian mengetuk, pasti Dia akan buka. Minta, maka akan diberikan. Dia pasti memberikan. Allah mengatakan, “Aku akan mengampuni. Mintalah ampunan, mintalah, dan akan Aku berikan yang kalian minta.” Jika Dia telah menuliskan takdir kalian sebelumnya, maka Dia tidak akan memberikan itu.
Tuhan akan menunggu, menunggu sampai kalian diletakkan dalam kubur. Dia menunggu hingga tibanya Hari Perhitungan, dan pada hari itu hanya Dia yang berhak mengajukan pertanyaan. Dan kalian sendirilah yang datang pada-Nya membawa kebaikan atau kejahatan. Seandainya Dia telah menuliskan semua hasilnya, maka tentu tidak ada gunanya kalian diperintahkan untuk mengumpulkan perbuatan baik. Untuk apa lagi Dia ada di sana, harus memberikan penghakiman? Dia ada di sana karena ada yang harus Dia pertimbangkan, Dia menunggu untuk melihat apa yang kalian bawa. Jika seandainya dia sudah menentukan neraka terlebih dahulu untuk kalian, mengapa Dia memerintahkan kedua malaikat di kanan dan kiri kalian untuk terus mencatat perbuatan kalian? Pahamilah, bahwa selama ada hal yang masih belum ditulis, berarti masih ada tempat untuk memperbaiki dan meminta ampun.
Allah menurunkan 124.000 Rasul. Jika semua telah ditetapkan-Nya sejak awal, untuk apa Dia mengirimkan 124.000 rasul? Mengapa mereka semua dikirim? Untuk siapa? Apa Tujuannya? Jika semua telah ditentukan hanya berdasarkan keinginan-Nya, dan semua harus terjadi sebagaimana yang dikehendaki, maka tidak ada gunanya semua Rasul itu diturunkan. Tidak ada alasan untuk merubah apapun.
Allah telah menciptakan pasangan ‘khairr dan sharr‘, baik dan buruk. Dia juga telah ciptakan ‘Al-Qada’ wal Qadar’. Tapi Dia menciptakan semua itu secara sedemikian rupa sehingga apapun yang terjadi merupakan hasil perbuatan manusia sendiri. Dia berikan pada manusia kemampuan untuk merubah apa-apa yang tidak baik. Apapun takdir yang akan manusia dapatkan, merupakan hasil dari niatnya, perkataannya, dan perbuatannya sendiri. Itulah yang telah Allah katakan. Itulah kata-kata Tuhan.
Al-Qur’an memang menyebutkan tentang takdir, tapi jika hanya mengutip kata-kata Qur’an sebenarnya tidaklah cukup. Ada orang yang mampu menghafal ke 6.666 ayat, tapi hanya menghafalkan tidak akan memberikan kebaikan apa-apa. Setiap huruf dalam Qur’an memiliki rahasia didalamnya. Kebenaran Tuhan ada di setiap hurufnya, sebagai sebuah rahasia di dalam rahasia, dan kita harus membuka setiap rahasia satu demi satu, maka barulah kita akan mengerti. Tapi merupakan hal yang mustahil untuk memahami isi Qur’an seluruhnya. Sampai kapan pun, bagaimanapun perubahan yang terjadi di dunia ini, Qur’an akan senantiasa ada, demikian pula rahasia-rahasia yang ada di dalamnya. Dan di dalam rahasia itu, masih ada rahasia lagi.
Qur’an mengandung hukum-hukum dan kata-kata Tuhan. Musim mungkin berubah, dunia mungkin berubah, tapi Tuhan dan kata-kata-Nya tidak akan berubah-ubah. Bergantung pada keadaan dunia pada saat itu, kata-kata dalam Qur’an akan terus menyesuaikan dirinya untuk saat tersebut. Maka, setiap kali seseorang membuka Qur’an, tidak peduli pada masa apapun ia sedang berada, dia akan bisa mendapatkan jawaban yang dia perlukan. Akan dia temukan penjelasan rahasia yang dia butuhkan. Tergantung pada tingkatan di mana dia berada ketika seseorang membuka Qur’an, dia akan menemukan Qadha wal Qadar yang paling sesuai bagi kondisinya, demikian pula semua takdir dan nasibnya.

Takdir. Then why are we here?

Tanya: Berapa banyak dari hidup kita yang sudah ditakdirkan, dan berapa banyak yang kita sendiri bertanggungjawab atasnya?

Bawa Muhaiyaddeen: Tuhan telah mengajarimu segenap hal. Segalanya tertulis di dalam dirimu. Sebelum engkau datang ke dunia ini, Dia mengatakan, “Aku mengirimmu ke sebuah sekolah bernama ‘dunia‘. Sebuah tempat sementara. Pergilah ke sana barang sebentar untuk belajar tentang ’sejarah’-Ku, sejarahmu sendiri, dan sejarah yang lain. Cari tahu siapa yang menciptakan semuanya ini, siapa yang bertanggungjawab atas semuanya ini, siapa Sang Penjaga yang melindungimu, dan apa yang menjadi milikmu sebenarnya. Jika engkau telah belajar dan paham seluruh sejarah ini, engkau akan tahu siapa dirimu dan siapa Dia yang engkau butuhkan, Dia yang sebenarnya, Dia yang akan hidup selamanya.

“Setelah engkau mempelajarinya, engkau akan menempuh sebuah ujian. Setelah itu, barulah engkau bisa membawa apa yang menjadi milikmu dan kembali ke sini. Jika engkau mengerjakannya dengan baik, engkau akan beroleh sebuah kerajaan yang dapat engkau kuasai selamanya. Tapi pertama-pertama, pergilah sekolah dan belajar. Lalu datanglah kembali.”

Tuhan mengatakan ini kepadamu dan mengirimmu ke dunia ini. Kini, tugasmulah untuk menemukan Dia kembali, mengenal dirimu sendiri, dan menyadari kekayaanmu yang sesungguhnya. Inilah alasan kedatanganmu di dunia ini. Maka, jadikan kebijaksanaanmu sebagai dua bilah gunting tajam dan buang potongan-potongan film yang salah. Dia telah memberimu semuanya, tapi engkau musti memotong semua gambar-gambar yang telah kau ambil dengan kameramu dan sisakan gambar yang baik, yakni yang menunjuk kepada Penjagamu. Satukan apa-apa yang baik itu dan buang yang lain. Maka, kerajaan-Nya akan menjadi milikmu.

Bookmark and Share

NASEHAT

October 16th, 2008

madilog

Nasehat

SURAT BUAT KELOMPOK-KELOMPOK DAKWAH1

Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Agama Adalah Nasehat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama adalah nasehat, kami (para sahabat) bertanya : Untuk siapa wahai Rasulullah ? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Untuk Allah, Kitab-Naya, Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan orang-orang muslim”. (HR.Muslim).

Sabagai aplikasi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, maka saya ingin menyampaikan nasehat kepada seluruh kelompok dakwah islam, agar senantiasa berpegang teguh dengan al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih berdasarkan pemahaman para ulama salaf, seperti : para sahabat, tabi’in, pata imam mujtahidin dan orang-orang yang senantiasa meniti jejak mereka.

Kepada Kelompok Sufi

1.  Nasehat saya kepada mereka agar mengesakan Allah dalam berdoa dan isti’anah (minta pertolongan), sebagai bentuk perwujudan dari firman Allah : “Hanya engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah : 5). Dan Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Doa adalah ibadah”. (HR.Tirmidzi dan beliau berkata : Hadits hasan shahih).

Wajib bagi mereka untuk meyakini bahwa Allah ada di atas langit, sebagaimana firman-Nya : “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) dilangit bahwa Dia akan menjungkir balikan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS. Al-Mulk : 16)

Ibnu Abbas berkata : Dia adalah Allah (sebagaimana tersebutkan Ibnul Jauzi dalam tafsirnya).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah kalian percaya kepadaku, padahal saya adalah kepercayaan Dzat yang di langit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2.  Hendaklah mereka senantiasa mendasari dzikir-dzikir mereka dengan apa yang ada dalam al-Qur’an dan sunnah (yang sholih –ed) serta amalan para sahabat.

3.  Jangan sekali-kali mendahulukan ucapan syaikh-syaikh melebihi firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat:1).

Yakni, jangan sekali-kali kalian mendahulukan ucapan atau perbuatan siapapun melebihi firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (tafsir Ibnu Katsir).

4.  Hendaklah mereka beribadah dan berdo’a kepada Allah dengan rasa takut dari siksa neraka-Nya dan berharap akan surga-Nya. Firman Allah ta’ala :“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).” (QS. Al-A’raf : 56).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Saya meminta kepada Allah surga dan berlindung dengan-Nyadari neraka.” (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih).

5.  Mereka harus meyakini, bahwa makhluk pertama dari kalangan manusia adalah Nabi Adam ‘alaihi wa sallam, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk keturunannya, dan semua manusia adalah adalah anak keturunannya, yang Allah ciptakan dari tanah. Allah ta’ala berfirman : “Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani.” (QS. Hgafir : 67).

Tidak ada satu dalilpun yang menunjukan bahwa Allah menciptakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari nur (cahaya-Nya), bahkan yang masyhur bagi semua, bahwa Allah menciptakannya dari kedua orang tuanya.

Kepada Jama’ah Tabligh

1.  Nasehat saya kepada mereka, agar perpegang teguh dalam dakwahnya dengan al-Qur’an dan sunnah yang shahih, dan hendaklah mereka belajar al-Qur’an, tafsir, dan hadits. Sehingga dakwah mereka benar-benar berdasarkan ilmu, sebagaimana firman Allah ta’ala : “Katakanlah : “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (QS.Yusuf : 108).

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya ilmu (bisa diperoleh) hanya dengan belajar.” (Hadits hasan, lihat shahihul jami)

2.  Mereka harus berpegang teguh dengan hadits-hadits yang shahih dan menjauhi hadits-kadits yang dhaif (lemah) dan maudu’ (palsu), sehingga mereka tidak masuk pada yang disinyalir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ”Cukup seseorang dikatakan berdusta jika menceritakan semua apa yang didengarnya.” (HR.Muslim).

3.  Kepada al-Ahbab (orang-orang yang saya cintai) agar tidak memisahkan antara amar ma’ruf dan nahi munkar, karena Allah banyak menyebutkan secara bersamaan dalam ayat-ayat al-Qur’an, seperti firman Allah ta’ala : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada yang ma’ ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran : 104).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga punya perhatian serius dan memerintahkan kamum muslimin untuk merubah kemungkaran, sebagaimana sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran hendaklah merubah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu, maka hendaklah merubah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR.Muslim)

4.  Hendaklah mereka memperhatikan dakwah kepada tauhid dengan serius, dan mendahulukannya atas yang lainnya, demi mengamalkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jadikanlah per tama kali yang kalian dakwahkan kepada mereka adalah syahadat (kalimat tauhid) la ilaha illallah.” (HR.Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sampai mereka (benar-benar) mentauhidkan Allah.” (HR.Bukhari).

“Mentauhidkan Allah”, maksudnya adalah : mengesakan Allah dalam semua jenis ibada, lebih-lebih dalam hal Do’a, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Do’a adalah Ibadah,” (HR.Tirmidzi. Beliau berkata : Hadits ini hasan shahih).

Kepada Kelompok Ikhwanul Muslimin

1.  Hendaklah mereka mengajarkan kepada anggota kelompoknya tauhid dan macam-macamnya, yakni : tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma dan sifa, karena itu adalah masalah yang sangat urgent yang berpengaruh pada terwujudnya kebahagiaan individu maupun masyarakat, dari pada sibuk dalam politik praktis dan yang mereka sangka seperti fiqih waki’ (realita –ed). Ini bukan berarti buta dengan keadaan dunia dan manusia, tapi tidak berlebi-lebihan dengannya dan tidak pula menyepelekannya.

2.  Hendaklah mereka menjauhi pemikiran-pemikiran Sufi yang menyelisihi akidah islam, karene banyak kita jumpai dalam kitab-kitab mereka akida-akidah sufi yang batil :

a.   Lihatlah pimpinan mereka di Mesir, yaitu Umar Tilmisani yang banyak menyebutkan dalam bukunya “Syahidul Mihrab” akidah-akidah Sufi yang sangat membahayakan. Di samping membolehkan belajar musik.

b.  Inilah Sayyid Quthub, menyebutkan dalam kitabnya :Dzilalul Qur’an” akidah Sufi wihdatul wujud pada awal surat al-Hadid, dan lain sebagainya dari takwil-takwil yang batil. Sungguh saya telah menyampaikannya kepada saudaranya sendiri, yaitu Muhammad Qutub agar mengomentari kesalahan-kesalahan aqidah, karena ia adalah penanggung jawab penerbitan “as=Syuruq”, akan tetapi dia menolaknya dan mengatakan : Saudara saya sendiri yang akan menanggungnya. Dan saikh Abdul Latif Badr, penanggung jawab majalah at-Tau’iyah di Mekah menyarankan kepadaku agar saya mendatanginya lagi.

c.  Lihatlah Said Hawa, beliau menyebutkan dalam kitabnya “Tarbiyahtuna ar-Ruhiyat” akidah-akidah Sufi, sebagaimana sudah disebutkan diawal kitab2.

d.Dan lihatlah pula syaikh Muhammad al-Hamid dari Siria, dia menghadiahkan kepadaku buku yang berjudul “Rudud Ala Abatil”. Dalam buku ini ada pembahasan-pembahasan yang baik, seperti pengharaman rokok dan lainnya. Akan tetapi dia juga menyebutkan bahwa di sana ada Abdal, Aqthab dan Aghwats3, tapi tidaklah dinamakan al-Ghauts kecuali apabila bisa dimintai pertolongan!!!. Padahal meminta kepada al-Ghauts dan al-Aqthab adalah termasuk syirik yang menghapus amalan. Dan ini adalah pemikiran Sufi yang batil yang diingkari oleh syariat Islam.

3.Jangan sampai mereka dengki kepada saudara-saudara mereka dari salafiyyah yang senantiasa berdakwah kepada tauhid dan memerangi bid’ah, serta berhukum kepada al-Qur’an dan sunnah, sebab mereka adalah bersaudara. Allah ta’ala berfirman : “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al-Hujurat : 10). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Kepada Salafiyun dan Ansharussunah al_Muhammadiyah

1.Wasiat saya kepada mereka agar senantiasa konsisten dalam berdakwah kepada tauhid, berhukum dengan apa yang Allah turunkan, dan perkara-perkara penting lainnya.

2.Hendaklah mereka bersikap lemah lembut dalam berdakwah, bagaimanapun lawan yang dihadapinya. Sebagaimana perwujudan firman Allah : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl:125). Dan firman Allah kepada Nabi Musa dan Harun : “Pergilah kamu berdua kepada Fir ‘aun sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS.Toha :43-44). Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barang siapa yang tercegah dari sifat lemah lembut, niscaya ia tercegah dari segala kebaikan”. (HR.Musliam).

3.Hendaklah mereka sabar terhadap gangguan yang menimpa mereka, karena Allah selalu menyertai mereka dengan pertolongan dengan memberikan kekuatan kepada mereka. Allah ta’ala berfirman : “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan per tolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka, dan jangan kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipudayakan. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertawakal dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl : 127-128). Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka lebih utama dari pada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka.” (Hadits shahih riwayat Imam Ahmad dll).

4.Orang-orang salafi jangan sampai beranggapan bahwa jumlah orang-orang yang menyelisihi mereka sedikit. Karena Allah ta’ala berfirman : “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS.Saba’ : 13). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Beruntunglah bagi orang-orang yang asing. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya siapa mereka ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Mereka adalah orang-orang shaleh yang sedikit di tengah-tengah manusia yang rusak lagi banyak, yang bermaksiat kepada mereka lebih banayak dari pada yang taat kepada mereka”. (HR.Imam Ahmad dan Ibnul Mubarak:.

Kepada Hizbut Tahrir

1.Wasiat saya kepada mereka, agar menegakkan hokum islam dan ajarannya pada diri-diri mereka, sebelum menuntut orang lain untuk menegakannya. Sekitar 20 tahun yang lalu, pernah ada 2 orang pemuda dari mereka yang mengunjungiku di Syiria, dalam keadaan sicukur jenggotnya. Dari keduanya tercium bau rokok, dan meminta kepadaku diskusi dan bergabung dengan mereka. Maka saya katakana kepada mereka, kalian mencukur jenggot dan menghisap rokok, padahal keduannya adalah haram menurut syariat. Dan kalian juga membolehkan jabat tangan dengan lawan jenis (yang bukan mahramnya –ed), padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dituduknya jarum dari besi pada kepala seorang diantara kalian itu lebih baik dari pada menyentuh perembuan yang tidak halal baginya.” (HR.Thabrani).Kedua pemuda tersebut berkata : Diriwayatkan dalam shahih bukhari, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berjabat tangan dengan wanita ketika baiat ?. Maka saya katakana : Tolong besok datangkan kepadaku haditsnya. Maka setelah itu keduannya perdi dan tidak kembali lagi, karena keduanya berbohong. Karena Imam Bukhari sama sekali tidak menyebutkan yang demikian, tapi hanya menyebutkan baiat kepada para wanita dengan tanpa jabat tangan. Tapi sungguh aneh sebagian Ikhwanul Muslimin –juga- membolehkan jabat tangan dengan lawan jenis (yang bukan mahramnya –ed). Seperti syaikh Muhamad al-Ghazali dan Yusuf al-Qardhawi sebagaimana yang saya katakan ketika saya berdialog dengannya. Dia berdalih dengan hadits seorang budak yang menarik tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memenuhi kebutuhannya. (HR.Bukhari). Saya katakan : Cara pengambilan dalilnya tidak benar, karena Jariyah (budak perempuan) ketika menarik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyentuh tangannya tapi hanya menyentuh lengan baju yang ada ditangannya Karena ‘Asyah berkata :”Sekali-kali tidak, demi Allah “Tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan perempuan sedikitpun dalam baiat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membaiat mereka (para wanita) kecuali dengan ucapannya : Sungguh saya telah membaiat kamu atas yang demikian itu.” (HR.Bukhari). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya saya tidak pernah berjabatan tangan dengan perempuan.” (HR.Tirmidzi dan beliau berkata : hadits ini hasan shahih)

2.Saya pernah mendengan ceramah seorang syaikh dari Hizbut Tahrir di Yordania yang membahas tentang para pemimpin yang tidak berhukum dengan dengan hokum Allah. Akan tetapi, takkala saya mendatangi rumahnya, mertuannya mengadu tentang dia kepadaku sambil mengatakan : Sesungguhnya syaikh tadi telah memukul istrinya sampai mengenai matanya dan membekas. Maka saya katakanan kepadanya (syaikh) : Sesungguhnya kamu menuntut para pemimpin untuk menegakkan syariat Allah, tetapi kamu tidak menegakkan syariat dalam rumahmua, apakah benar bahwa engkau telah memukul istrimu sampai mengenai matanya ? maka ia menjawab : Iya, betul tapi hanya pukulan ringan dengan gelas teh.!!. Maka saya katakana ke padanya : Praktekkanlah Islam pada dirimu dulu, kemudian setelah itu tuntutlah orang lain untuk mempraktekkannya. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanaya, apa hak istri atas suami ? beliau menjawab : “Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberi baju apabila engkau mamakai baju, jangan memukul wajah, jangan menjelek-jelekannya dan jangan engkau menghajr (pisah ranjang) kecuali didalam rumah.” (Hadits shahih riwayat al-arba’ah : Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I fan Ibnu Majah). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila seseorang diantara kalian memukul budaknya hendaklah ia menjauhi wajah”. (Hadits hasan riwayat Abu Daud).

Nasihat umum kepada seluruh kelompok

Saya sekarang sudah tua renta, umur saya sekarang telah mencapai 70 tahun, dan saya mengharapkan kebaikan bagi semua kelompok, oleh karena itu untuk mengamalkan hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Agama itu nasehat”, saya ingin menyampaikan bebrapa nasehat ini :

1.Agar semua kelompok berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk ketaatan terhadap firman Allah : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan jangan kamu bercerai-berai..”(QS.Ali Imran : 103). Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Telah saya tinggalkan kepada kalian dua perkara, selama kalian berpegang teguh dengan kedudukannya, maka tidak akan tersesat, yaitu (kitabullah al-Qur’an dan sunnah Nabinya Shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (HR.Malik dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami).

2.Apabila jama’ah-jama’ah yang ada berselisih, hendaknya mereka kembali kepada al-Qur’an fan hadits serta amalan para sahabat, Allah ta’ala berfirman : “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kemu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya,”(QS.An-Nisa : 59). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah dengannya.” (Hadits shohih riwayat Imam Ahmad).

3.Hendaklah mereka memperhatikan dakwah tauhid yang menjadi prioritas dan pusat perhatian al-Qur’an. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya kepada tauhid dan memerintahkan para sahabatnya agar memulai dengannya.

4.Sesungguhnya saya telah masuk dan bergaul dengan kelompok-kelompok dakwah islam, dan saya lihat bahwa dakwah salafiyahlah yang konsisten dengan al-Qur’an dan sunnah menurut pemahaman salafus shaleh, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam para sahabatnya dan para tabiin. Dengan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi isyarat tentang kelompok tang satu ini dalam sabdanya : “Ketahuilah bahwasanya orang-orang sebelum kamu dari ahlikitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua di dalam neraka dan yang satu di surga yaitu al-Jama’ah.” (HR.Ahmad dan dinyatakan holeh al-Hafidz Ibnu Hajar). “Semua di dalam neraka kecuali satu yaitu apa yang saya dan para sahabatku ada diatasnya.” (HR.Tirmidzi dan dihasankan oleh al-Albani). Dalam hadits diatas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita, bahwasanya orang yahudi dan nasrani berpecah belah menjadi lebih banyak dari mereka, dan kelompok-kelompok yang banyak ini terancap masuk neraka, karena menyimpangnya dan jatuhnya dari kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya. Dan bawasanya hanya satu kelompok yang selamat dari neraka dan masuk surga, yaitu al-Jama’ah (kelompok yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah serta amalan para sahabat). Keistimewaan dakwah salafiyah adalah dakwah kepada tauhid, memerangi syirik, mengetahui hadits-hadits yang shahih dan memperingatkan umat dari hadits yang dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu), serta memahami hokum-hukum syariat dengan dalil-dalilnya. Dan ini sungguh sangat penting bagi setiap muslim. Oleh karena itu, saya menasehati seluruh saudara-saudaraku kaum muslimin, agar senantiasa konsisten dengan dakwah salafiyah, karena dakwah tersebut adalah dakwah yang selamat dan kelompok yang mendapat pertolongan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Akan senantiasa ada dari umatku satu kelompok yang tanpak diatas kebenaran, tidak memudharatkan mereka orang yang menghinakan mereka sampai dating urusan Allah.” (HR.Muslim). Midah-midahan Allah menjadikan kit ate rmasuk kelompok yang selamat dan mendapat pertolongan.

____________________

Note:

1. Dialihbahasakan oleh Abdurrahman Hadi Lc. Dari kitab “Kaifa Ihtadaitu ila at-Tauhid wa ash-Shiratil Mustaqim”

2. Kitab “Kaifa Ihtadaitu ila at-Tauhid wa ash-Shiratil Mustaqim oleh syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

3. Inilah gelar-gelar sufi atas orang-orang yang dianggap wali yang mewakili Allah di bumi (Abdal), menguasi daerah-daerah tertentu (Aqthab) atau yang biasa dimintai pertolongan (al-Ghauts)-ed.

[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Vol.6 No.6 Edisi 38 - 1429H]

Tentang

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Kepada-Nya kita memohon dan kepada-Nya jua kita meminta ampun. Kita memohon perlindungan ke pada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal pe rbuatan. Barang siapa yang diberi oleh Allah petunjuk, maka ia tidak akan mendapatkan kesesatan. Barang siapa yang Ia kehendaki kesesatan, maka ia tidak akan ada yang mampu membe ri petunjuk kapadanya. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Allah Yang Maha Esa. Saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam  adalah hamba dan utusan-Nya. Selanjutnya, sebagaimana kita telah ketahui begitu banyak kelompok/golongan yang mengatas namakan Islam, dan begitu banyak cara beribadah yang mengatas namakan Islam sehingga membuat kita bingung mana yang benar.  Seperti banyaknya madu palsu yang beredar, lalu dimanakah kita mencari madu yang asli ?.

Tentunya bila ingin mendapat madu yang asli, kita harus mencari asalnya (sarang lebah). Maka begitu pula bila ingin mencari Islam yang murni/asli, kita harus mencari asalnya yaitu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Para Sahabatnya.

Agar kita tidak tertipu dengan madu yang palsu, alangkah baiknya selain kita mengenal ciri-ciri madu yang asli, juga kita harus tahu ciri-ciri madu yang palsu.

Semua ini kami dapatkan dari Link yang merupakan rujukan dari tulisan ini dan banyak juga yang langsung mengcopy dari Link rujukan tersebut dengan tujuan penyebaran da’wah kepada kaum muslimin. Semoga semua ini dapat bermanfaat buat para pembaca yang budiman.

Bookmark and Share

Tuhan dalam pandangan Orang Jawa

October 6th, 2008

Tuhan Dalam Pandangan Orang Jawa

[Ditinjau dari Hinduism dan Kejawen]

Posted on August 16, 2007
Filed Under 9uBr4K5 si Pelajar Abadi, Pancasila, Renungan, Umum, Tulisan, Artikel

Tuhan adalah “ Sangkan Paraning Dumadi ”. IA adalah sang Sangkan sekaligus sang Paran, karena itu juga disebut Sang Hyang Sangkan Paran. Ia hanya satu, tanpa kembaran, dalam bahasa Jawa dikatakan Pangeran iku mung sajuga, tan kinembari . Orang Jawa biasa menyebut “Pangeran” artinya raja, sama dengan pengertian “Ida Ratu” di Bali. Masyarakat tradisional sering mengartikan “Pangeran” dengan “kirata basa”. Katanya pangeran berasal dari kata “pangengeran”, yang artinya “tempat bernaung atau berlindung”, yang di Bali disebut “sweca”. Sedang wujudNYA tak tergambarkan, karena pikiran tak mampu mencapaiNYA dan kata kata tak dapat menerangkanNYA. Didefinisikan pun tidak mungkin, sebab kata-kata hanyalah produk pikiran hingga tak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenaranNYA. Karena itu orang Jawa menyebutnya “tan kena kinaya ngapa” ( tak dapat disepertikan). Artinya sama dengan sebutan “Acintya” dalam ajaran Hindu. Terhadap Tuhan, manusia hanya bisa memberikan sebutan sehubungan dengan perananNYA. Karena itu kepada NYA diberikan banyak sebutan, misalnya: Gusti Kang Karya Jagad (Sang Pembuat Jagad), Gusti Kang Gawe Urip (Sang Pembuat Kehidupan), Gusti Kang Murbeng Dumadi (Penentu nasib semua mahluk) , Gusti Kang Maha Agung (Tuhan Yang Maha Besar), dan lain-lain.Sistem pemberian banyak nama kepada Tuhan sesuai perananNYA ini sama seperti dalam ajaran Hindu. “Ekam Sat Viprah Bahuda Vadanti” artinya “Tuhan itu satu tetapi para bijak menyebutNYA dengan banyak nama”.

Hubungan Tuhan dengan Ciptaannya.

Tentang hubungan Tuhan dengan ciptaanNYA, orang Jawa menyatakan bahwa Tuhan menyatu dengan ciptaanNYA. Persatuan antara Tuhan dan ciptaannya itu digambarkan sebagai “curiga manjing warangka, warangka manjing curiga”, seperti keris masuk ke dalam sarungnya, seperti sarung memasuki kerisnya. Meski ciptaannya selalu berubah atau “menjadi” (dumadi), Tuhan tidak terpengaruh oleh perubahan yang terjadi pada ciptaanNYA. Dalam kalimat puitis orang Jawa mengatakan: Pangeran nganakake geni manggon ing geni nanging ora kobong dening geni, nganakake banyu manggon ing banyu ora teles dening banyu. Artinya, Tuhan mengadakan api, berada dalam api, namun tidak terbakar, mencipta air bertempat di air tetapi tidak basah. Sama dengan pengertian wyapi, wyapaka dan nirwikara dalam agama Hindu. Oleh karena itu Tuhan pun disimbolkan sebagai bunga “teratai” atau “sekar tunjung”, yang tidak pernah basah dan kotor meski bertempat di air keruh. Ceritera tentang Bima bertemu dengan “Hanoman”, kera putih lambang kesucian batin, dalam usahanya mencari “tunjung biru” atau “teratai biru’ adalah sehubungan dengan pencarian Tuhan. Menyatunya Tuhan dengan ciptaanNYA secara simbolis juga dikatakan “kaya kodhok ngemuli leng, kaya kodhok kinemulan ing leng”, seperti katak menyelimuti liangnya dan seperti katak terselimuti liangnya. Pengertiannya sama dengan istilah immanen sekaligus transenden dalam filsafat modern, yang dalam Bhagavad Gita dikatakan “DIA ada padaKU dan AKU ada padaNYA”.

Dengan pengertian demikian maka jarak antara Tuhan dan ciptaannya pun menjadi tak terukur lagi. Tentang hal ini orang Jawa mengatakan: “adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan”, artinya jauh tanpa batas, dekat namun tak bersentuhan. Dari keterangan di atas jelaslah bahwa pada hakekatnya filsafat Jawa adalah Hinduisme, yang monotheisme pantheistis. Karena itu pengertian Brahman Atman Aikyam, atau Tuhan dan Atman Tunggal, juga dinyatakan dengan kata-kata “Gusti lan kawula iku tunggal”. Di sini pengertian Gusti adalah Tuhan yang juga disebut Ingsun, sedang Kawula adalah Atman yang juga disebut Sira, hingga kalimat “Tat Twam Asi” pun secara tepat dijawakan dengan kata kata “Sira Iku Ingsun” atau “Engkau adalah Aku”, yang artinya sama dengan kata-kata “Atman itu Brahman”. Pemahaman yang demikian itu tentunya memungkinkan terjadinya salah tafsir, karena menganggap manusia itu sama dengan Tuhan. Untuk menghindari pendapat yang demikian, orang Jawa dengan bijak menepis dengan kata-kata “ya ngono ning ora ngono”, yang artinya “ya begitu tetapi tidak seperti itu”. Mungkin sikap demikian inilah yang menyebabkan sesekali muncul anggapan bahwa pada dasarnya orang Jawa penganut pantheisme yang polytheistis, sebab pengertian keberadaan Tuhan yang menyatu dengan ciptaannya ditafsirkan sebagai Tuhan berada di apa saja dan siapa saja, hingga apa saja dan siapa saja bisa diTuhankan. Anggapan demikian tentulah salah, sebab Brahman bukan Atman dan Gusti bukan Kawula walau keberadaan keduanya selalu menyatu. Brahman adalah sumber energi, sedang Atman cahayanya. Kesatuan antara Krisna dan Arjuna oleh para dalang wayang sering digambarkan seperti “api dan cahayanya”, yang dalam bahasa Jawa “kaya geni lan urube”

Upaya mencari Tuhan

Berdasar pengertian bahwa Tuhan bersatu dengan ciptaanNYA itu, maka orang Jawa pun tergoda untuk mencari dan membuktikan keberadaan Tuhan. Mereka menggambarkan usaha pencariannya dengan memanfaatkan sistim simbol untuk memudahkan pemahaman. Sebagai contoh pada sebuah kidung dhandhanggula, digambarkan sebagai berikut: Ana pandhita akarya wangsit, kaya kombang anggayuh tawang, susuh angin ngendi nggone, lawan galihing kangkung, watesane langit jaladri, tapake kuntul nglayang lan gigiring panglu, dst. Di sini jelas bahwa “sesuatu” yang dicari itu adalah susuh angin (sarang angin), ati banyu (hati air), galih kangkung (galih kangkung), tapak kuntul nglayang (bekas burung terbang), gigir panglu (pinggir dari globe), wates langit (batas cakrawala), yang merupakan sesuatu yang “tidak tergambarkan” atau “tidak dapat disepertikan” yang dalam bahasa Jawa “ tan kena kinaya ngapa” yang pengertiannya sama dengan “Acintya” dalam ajaran Hindu.

.

Dengan pengertian “acintya” atau “sesuatu yang tak tergambarkan” itu mereka ingin menyatakan bahwa hakekat Tuhan adalah sebuah “kekosongan”, atau “suwung”, Kekosongan adalah sesuatu yang ada tetapi tak tergambarkan. Semua yang dicari dalam kidung dhandhanggula di atas adalah “kekosongan” Susuh angin itu “kosong”, ati banyu pun “kosong”, demikian pula “tapak kuntul nglayang” dan “batas cakrawala”. Jadi hakekat Tuhan adalah “kekosongan abadi yang padat energi”, seperti areal hampa udara yang menyelimuti jagad raya, yang meliputi segalanya secara immanen sekaligus transenden, tak terbayangkan namun mempunyai energi luar biasa, hingga membuat semua benda di angkasa berjalan sesuai kodratnya dan tidak saling bertabrakan. Sang “kosong” atau “suwung” itu meliputi segalanya, “suwung iku anglimputi sakalir kang ana”. Ia seperti udara yang tanpa batas dan keberadaannya menyelimuti semua yang ada, baik di luar maupun di dalamnya.

Karena pada diri kita ada Atman, yang tak lain adalah cahaya atau pancaran energi Tuhan, maka hakekat Atman adalah juga “kekosongan yang padat energi itu”. Dengan demikian apabila dalam diri kita hanya ada Atman, tanpa ada muatan yang lain, misalnya nafsu dan keinginan, maka “energi Atman” itu akan berhubungan atau menyatu dengan sang “sumber energi”. Untuk itu yang diperlukan dalam usaha pencarian adalah mempelajari proses “penyatuan” antara Atman dengan Brahman itu. Logikanya, apabila hakekat Tuhan adalah “kekosongan” maka untuk menyatukan diri, maka diri kita pun harus “kosong”, Sebab hanya “yang kosonglah yang dapat menyatu dengan sang maha kosong”. Caranya dengan berusaha “mengosongkan diri” atau “membersihkan diri” dengan “menghilangan muatan-muatan yang membebani Atman” yang berupa berbagai nafsu dan keinginan. Dengan kata lain berusaha membangkitkan energi Atman agar tersambung dengan energi Brahman. Dengan uraian di atas maka cara yang harus ditempuh adalah melaksanakan “yoga samadi”, yang intinya adalah menghentikan segala aktifitas pikiran beserta semua nafsu dan keinginan yang membebaninya. Sebab pikiran yang selalu bekerja tak akan pernah menjadikan diri “kosong”. Karena itu salah satu caranya adalah dengan “Amati Karya”, menghentikan segala aktifitas kerja.
Apabila “kekosongan” merupakan hakekat Tuhan, apakah Padmasana, yang di bagian atasnya berbentuk “kursi kosong”, dan dianggap sebagai simbol singgasana “Sang Maha Kosong” itu adalah perwujudan dalam bentuk lain dari apa yang dicari orang Jawa lewat kidung-kidung kuna itu? Apa sebabnya di Jawa tidak ada dan baru diwujudkan dalam bentuk bangunan ketika leluhur Jawa berada di Bali? Mungkin saat itu di Jawa memang tidak membutuhkan hal itu, karena masyarakat Jawa lebih mementingkan “pemujaan leluhur”, yang dianggap sebagai “pengejawantahan Tuhan”. Kata-kata Wong tuwa iku Pangeran katon atau Orang tua (leluhur) itu Tuhan yang nampak, adalah bukti adanya kepercayaan tersebut. Itulah sebabnya di Jawa tidak ditemukan Padmasana, tetapi “lingga yoni”. Baru setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, Padmasama mulai ada di Bali. Konon sementara sejarawan berpendapat bahwa Padmasana adalah karya monumental Danghyang Dwijendra, seorang Pandita Hindu yang pindah dari Jawa ke Bali, setelah jatuhnya Kerajaan Majapahit.

Sebenarnya tujuan umat Hindu ketika bersembahyang di pura, adalah untuk menjalani “proses” penyatuan diri dengan Tuhan dengan melaksanakan “yoga” secara sederhana. Karena itu setiap sembahyang tentu diawali dengan “pranayama” yang merupakan salah satu cara untuk “mengosongkan diri” dengan “mengatur irama pernafasan” Hasil minimal yang dicapai adalah “mempertenang diri” ketika “memuja Tuhan” dengan bersimpuh di hadapan Padmasana, yang diyakini sebagai tahta “Sang Hyang Widhi”. Ketika memuja itulah mereka berusaha “mengosongkan diri” dengan berkonsentrasi untuk menyatukan diri dengan “Sang Maha Kosong”. Dengan demikian mereka berharap dapat menyatu dalam rasa, yaitu rasa damai sebenarnya. Menurut orang Jawa, apabila tujuan “samadi” itu berhasil, terdapat tanda-tanda khusus. Konon, ketika puncak ke “hening” an tercapai, orang serasa terjun ke suasana “heneng” atau “sunya”, tenggelam dalam suasana “kedamaian batin sejati, rasa damai yang akut”, yang dikatakan “manjing jroning sepi”, atau “rasa damai yang tak terkatakan”. Suasana demikian terjadi hanya sesaat, yang oleh orang Jawa digambarkan secara indah dengan kata-kata “tarlen saking liyep layaping aluyup, pindha pesating supena sumusup ing rasa jati” (ketika tiba di ambang batas kesadaran, hanya seperti kilasan mimpi, kita seolah menyelinap ke dalam rasa sejati). Di sini makna kedamaian adalah “kekosongan sejati di mana jiwa terbebas dari beban apa pun”, yang diistilahkan dengan suasana “hening heneng” atau “kedamaian sejati”. Mungkin suasana demikian itulah yang dalam agama Hindu disebut “sukha tan pawali dukha”. Kebahagian abadi yang tanpa sedikitpun rasa duka. Terbebas dari hukum rwa bhinneda.

Kini masalahnya adalah siapa saja yang terlibat dalam proses penyatuan tersebut? Pertanyaan ini akan dijawab dengan tegas bahwa Sang Atmanlah diminta membimbingnya. Atman adalah cahaya Brahman, Ia Maha Energi yang ada pada diri setiap manusia, karena itu oleh orang Jawa diberi sebutan “Pangeraningsun” atau “Tuhan yang ada dalam diriku”. Karena itulah ketika kita mengawali proses “kramaning sembah” dengan pertama-tama menyebut “OM Atma Tattvatma”, orang Jawa menganggapnya sebagai ganti dari kata-kata “Duh Pangeraningsun”, yang sebelumnya amat dikenal. Namun sebelum Atman kita jadikan kawan utama dalam usaha penyatuan itu, terlebih dulu kita harus yakin bahwa ia adalah energi luar biasa. Kehebatan energi Atman itu secara simbolis digambarkan sebagai berikut: Gedhene amung sak mrica binubut nanging lamun ginelar angebegi jagad, artinya: Ia hanya sebesar serbuk merica, namun bila dikembangkan (triwikrama) seluruh jagad raya akan tergenggam olehnya. Pengertian energi ini dalam istilah Jawa disebut “geter”. Namun untuk memanfaatkannya orang harus mengenalnya lebih jauh.

Lebih lanjut ajaran ini menyebutkan bahwa pada diri manusia pun terdapat 4 (empat) kekuatan yang selalu menjadi kawan dalam perjalanan hidup, di saat suka maupun duka, hingga layak disebut “saudara”. Masing-masing ditandai dengan simbol warna putih, merah, kuning dan hitam (catur sanak). Posisi mereka di dalam jiwa manusia adalah lekat dengan Atman, membuat cahayanya membentuk warna “pelangi”. Gradasi warnanya menunjukkan kadar “karma wasana” seseorang. Konon peranan mereka amat menentukan. Karena itu mereka harus selalu diperhatikan dan dipelihara, sebab bila ditinggalkan dan tak terurus, akan menjadi pengganggu yang amat berbahaya. Bandingkan dengan pengertian sa ba ta a i dalam ajaran Hindu. Dalam setiap “proses” meditasi mereka perlu diberitahu, setidak-tidaknya disebut namanya agar ikut membantu.

Pada dasarnya proses penyatuan (meditasi) itu dimaksudkan sebagai usaha memperpendek jarak antara Manusia dengan Tuhan, antara Sira dengan Ingsun, atau antara Brahman dengan Atman, yang dalam istilah Jawa disebut ngudi cinaket ing Widhi, artinya berusaha agar semakin dekat dengan Tuhan (caket=dekat). Di sini jelas bahwa pemanfaatan energi Atman mutlak perlu, tetapi ternyata sebagian orang ada yang tidak mengetahui bahwa pada diri kita ada Atman, Sang Maha Energi itu. Mungkin karena dasar filsafatnya memang berbeda. Kepada mereka, yang tidak mempercayai adanya Atman itu, sebuah kidung sengaja diciptakan Apek banyu pikulane warih, apek geni dedamaran, kodhok ngemuli elenge, tanpa suku lumaku, tanpa una lan tanpa uni, dst. Artinya terlihat ada orang mencari air, padahal ia telah memakai air sebagai pikulan, dan ada yang mencari api, padahal telah membawa lentera, katak menyelimuti liangnya, tanpa kaki ia berjalan, tanpa rasa dan tanpa suara, dst. Rupanya mereka tidak mengerti bahwa Gusti dan Kawula Tunggal, hingga tidak menyadari bahwa yang dicari sebenarnya telah ada dalam dirinya sendiri, meski dengan nama yang berbeda. Mereka tidak tahu bahwa warih adalah air dan damar adalah api, sama halnya dengan Atman adalah Brahman. Ia immanen sekaligus transenden, ia bisa berjalan tanpa kaki, dan tanpa suara maupun rasa. Pendapat bahwa Brahman sama dengan Atman, oleh orang Jawa ditunjukkan dengan perkataan “kana kene padha bae” artinya “sana dan sini sama saja”. Ketidaktahuanlah yang menyebabkan orang kebingungan. Sebuah canda sederhana namun menyengat.

Semua hal yang diterangkan di atas adalah ajaran Hindu. Namun bagi mereka, yang tidak mau berusaha mencari “akarnya” dan tidak mau berlajar Hinduisme, menganggapnya sebagai “agama Jawa”. Dan karena “agama Jawa” tidak ada, maka mereka menempatkannya sebatas faham, yaitu faham “kejawen” dan eksis sebagai aliran kepercayaan.

Oleh Adi Suripto

KAPERCAYAN

Pitudúh : # 1
Pangéran Kang Måhå Kuwåså (Gusti Allah, Tuhan) iku siji, angliputi ing ngêndi papan, langgêng, síng nganakaké jagad iki saisiné, dadi sêsêmbahan wóng saalam donyå kabèh, panêmbahan nganggo carané dhéwé-dhéwé.
Pitudúh : # 2
Pangéran Kang Måhå Kuwåså iku anglimput ånå ing ngêndi papan, anèng sira ugå ånå Pangéran (maksudé : tajaliné Kang Múrbèng Dumadi).
Pitudúh : # 3
Pangéran iki Måhå Kuwåså, pêpêsthèn såkå karsaning Pangéran ora ånå síng biså murúngaké.
Pitudúh : # 4
Pangéran iku nitahaké sirå lantaran båpå lan biyúngirå, mulå kudu sirå ngurmati marang båpå lan biyúngirå.
Pitudúh : # 5
Ing donyå iki ånå róng warnå síng diarani bêbênêr, yakuwi bênêr mungguhíng Pangéran lan bênêr såkå kang lagi kuwåså.
Pitudúh : # 6
Kêtêmu Gusti (Pangéran) iku lamún sira tansah élíng.
Pitudúh : # 7
Cåkrå manggilingan (uríp iku ibaraté rodhå kang tansah mubêng).
Pitudúh : # 8
Åjå sirå wani-wani ngaku Pangéran, sênadyan kawrúhira wís tumêka “Ngadêg Sarirå Tunggal” utåwå bisa mêngêrtèni “Manunggaling Kawulå Gusti”.
Pitudúh : # 9
Åjå ndisiki kêrså.
Wêwalêr : # 10
Åjå sirå wani marang wóng tuwanira, jalaran sirå bakal kênå bêndhu såkå Kang Múrbèng Dumadi.
Wêwalêr : # 11
Åjå múng kèlingan lan migatèkaké barang kang katón baé, sêbab kang katón gumêlar iki anané malah ora langgêng.
Wêwalêr : # 12
Åjå darbé pangirå yèn lêlêmbút iku mêsthi alané, jalaran síng apik iyå ånå, síng ålå iyå ånå, ora bédå karo manungså.
Wêwalêr : # 13
Åjå lali sabên ari (dinå) éling marang Pangéranira, jalaran sêjatiné sirå iku tansah katunggón Pangéranirå.

Sample Image

KAUTAMANING BATHIN

Pitudúh : # 14
Kahanan donyå iku ora langgêng, mulå åjå ngêgungaké kasugihan lan drajadira, awít samångså wolak-walikíng jaman ora kisinan.
Pitudúh : # 15
Kahanan kang ånå iki ora suwé mêsthi ngalami owah gingsír, mulå åjå lali marang sapådhå-padhaníng tumitah.
Pitudúh : # 16
Síng såpå sênêng ngrusak katêntrêmaníng liyan bakal dibêndhu déning Pangéran lan diwêlèhaké déning tumindaké dhéwé.
Pitudúh : # 17
Watakíng manungså iku kêpingín kuwåså, nangíng Pangéran iku bakal maríngaké panguwåså miturút kêrsané Pangéran pribadi.
Pitudúh : # 18
Janmå iku tan kênå kinåyå ngåpå, mulå sirå åjå sênêng ngaku lan rumangsa pintêr dhéwé.
Pitudúh : # 19
Ramé ing gawé sêpi ing pamrih, mêmayu hayuníng bawånå.
Pitudúh : # 20
Manungså sadêrmå nglakóni, kadyå wayang saupamané.
Pitudúh : # 21
Mulat sarirå, tansah élíng lan waspådå.
Pitudúh : # 22
Sabêgjå-bêgjané kang lali, luwih bêgjå kang élíng klawan waspådå.
Pitudúh : # 23
Síng såpå salah sèlèh, lan mélík nggéndhóng lali.
Pitudúh : # 24
Nglurúg tanpå bålå, sugíh ora nyimpên, sêkti tånpå maguru, lan mênang tanpå ngasóraké.
Pitudúh : # 25
Yèn sirå dibêciki liyan tulisên ing watu supåyå ora ilang lan tansah kèlingan, yèn sirå gawé kabêcikan marang liyan tulisên ing lêmah, supåyå énggal ilang lan ora kèlingan.
Pitudúh : # 26
Síng sênêng gawé nêlangsané liyan iku ing têmbé bakal kênå piwalês såkå panggawéné dhéwé.
Pitudúh : # 27
Lamún sirå múng sênêng dialêm baé, ing têmbé kêtêmu bab-bab kang kurang prayogå.
Pitudúh : # 28
Wani ngalah luhúr wêkasané.
Wêwalêr : # 29
Åjå sênêng gawé rusakíng liyan, jalaran sirå bakal kênå siku dhêndhaning Guru Sêjatinirå.
Wêwalêr : # 30
Åjå sira nyacad piyandêling liyan, jalaran durúng mêsthi yèn piyandêlirå iku síng bênêr dhéwé.
Wêwalêr : # 31
Åjå lali marang kêbêcikan liyan.
Wêwalêr : # 32
Åjå sirå dêgsurå, ngaku luwíh pintêr tinimbang séjéné.
Wêwalêr : # 33
Åjå rumangsa bênêr dhéwé, jalaran ing donya iki ora ånå síng bênêr dhéwé.
Wêwalêr : # 34
Åjå wêdi kangèlan, jalaran uríp anèng donyå iku pancèn angèl.
Wêwalêr : # 35
Åjå gawé sêrík atining liyan lan åjå golèk mungsúh.
Wêwalêr : # 36
Åjå sirå mulang gêthing marang liyan, jalaran iku bakal nandúr cêcongkrahan kang ora ånå uwis-uwisé.
Wêwalêr : # 37
Åjå ngumbar håwå napsu lan åjå mélík darbèkíng liyan, mundhak sêngsårå uripé.

Sample Image

LAKUNING BUDHI UTOMO

Pitudúh : # 38
Ålå lan bêcík iku dumunúng ånå awaké dhéwé, mélík nggéndhóng lali, ngundhúh wóhíng pakarti.
Pitudúh : # 39
Síng såpå lali marang kabêcikan liyan, iku kåyå kéwan.
Pitudúh : # 40
Ajiníng dhiri iku dumunúng ånå ing lathi lan budi.
Pitudúh : # 41
Yitnå yuwånå, lénå kênå.
Pitudúh : # 42
Ålå kêtårå, bêcík kêtitík.
Pitudúh : # 43
Klabang iku wisané ånå ing capité.
Kålåjêngkíng wisané múng ånå pucúk buntút (êntúp).
Yèn ulå mung dumunúng ånå untuné ulå kang duwé wiså.
Nangíng yèn durjånå wisané dumunúng ånå ing sakujúr badan.
Pitudúh : # 44
Rawé-rawé rantas, malang-malang putúng.
Pitudúh : # 45
Mumpúng ênóm ngudiyå laku utåmå.
Pitudúh : # 46
Síng prasåjå, pêrcåyå marang dhiri pribadi.
Pitudúh : # 47
Ngèlmu pari, såyå isi såyå tumungkúl.
Pitudúh : # 48
Wóng mati iku bandhané ora digåwå.
Pitudúh : # 49
Wóng iku kudu ngudi kabêcikan, jalaran kabêcikan iku sanguníng uríp.
Pitudúh : # 50
Wóng kang ora gêlêm ngudi kabêcikan iku prasasat sétan.
Pitudúh : # 51
Wóng linuwíh iku ambêg wêlasan lan sugíh pangapurå.
Pitudúh : # 52
Pêrang tumrap awaké dhéwé iku pambudidåyå murih bisa mèpèr håwå nêpsu.
Pitudúh : # 53
Ngèlmu iku kêlakóné kanthi laku, sênajan akèh ngèlmuné lamún ora ditangkaraké lan ora digunakaké, ngèlmu iku tanpå gunå.
Pitudúh : # 54
Turutên pituturé wóng tuwå.
Pitudúh : # 55
Wóng kang ora wêrúh tåtåkråmå udånagårå (unggah-ungguh), iku pådhå karo ora biså ngrasakaké råså nêm warnå (lêgi, kêcút, asín, pêdhês, sêpêt, lan pait).
Pitudúh : # 56
Wóng pintêr nangíng ålå tumindaké, sênêngé karo wóng ålå.
Pitudúh : # 57
Wóng linuwíh iku kudu biså ngêpèk ati lan ngêpénakaké atiné liyan. Yèn kumpúl karo mitrå kudu biså ngêtrapaké têmbúng kang manís kang pêdhês, sêpêt,bisa gawé sênêngíng ati. Yèn kumpúl pandhitå kudu biså ngómóngaké têmbúng kang bêcík. Yèn ånå sangarêpíng mungsúh kudu biså ngatónaké kuwåså pangaribåwå kaluwihané.
Wêwalêr : # 58
Åjå panastèn lan åjå sênêng gawé gêndrå, jalaran gawé gêndrå iku sipatíng dhêmít.
Wêwalêr : # 59
Åjå sênêng yèn dèn alêm, åjå sêngit yèn dèn cacad.
Wêwalêr : # 60
Åjå lali piwulang bêcík.

Sample Image

KEBANGSAAN

Pitudúh : # 61
Bångså iku minångkå sarånå kuwatíng nagårå, mula åjå nglírwakaké kabangsanirå pribadi supåyå antúk kanugrahan adêgíng bangsa kang “Andånå Waríh”
Pitudúh : # 62
Nêgårå iku ora gunå lamún ora duwé anggêr-anggêr minångkå pikukuhíng nêgårå kang adhêdhasar isi kalbuné mênungså salumahíng nêgårå kuwi.
Pitudúh : # 63
Kang bêcík iku lamún ngêrti anané sêsantiné ngabdi bêbrayan agúng : “Ing Ngarså Asúng Tulådhå, Ing Madyå Amangún Karså, Tút Wuri Handayani”.
Pitudúh : # 64
Nêgårå kita biså têntrêm lamún murah sandhang klawan pangan, margå pårå kawulå pådhå sênêng nyambút gawé, lan ånå panguwåså kang darbé watak “Bêr budi båwå laksånå”.
Pitudúh : # 65
Wadyåbålå pamóng pråjå kang sênêng marang kawulå alít iku dadi sênêngané pårå kawulå sajroníng pråjå lan bisa gawé kukúh sartå dadi tamèngíng nagårå.
Pitudúh : # 66
Pårå mudhå åjå ngungkúraké ngudi kawrúh kang nyåtå amríh biså kinaryå kuwatíng nagårå, unggulíng bångså, lan biså gawé rahayuníng sasåmå.
Pitudúh : # 67
Panguwåså pamóngé nêgårå iku kudu biså gawé têntrêm pårå kawulané, amargå yèn ora mangkono biså kadadéyan pårå kawulå ngrêbút panguwasaníng nêgårå.
Pitudúh : # 68
Nêgårå kuwat iku margå kawulané sênêng uripé lan disujudi déníng liyå nêgårå.
Pitudúh : # 69
Lamún sirå dadi wadyåbålå pamóngíng nagårå, åjå sirå dhêmên kuwåså dhéwé. Jalaran yèn sirå wís ora kasinungan panguwåså manèh, ing têmbé bakal ndadèkaké ora kajèníng awakirå ing têngahíng bêbrayan. Ngélingånå yèn sêjatiné isíh ånå wóng kang biså ngalahaké sirå ing babakan åpå baé.
Pitudúh : # 70
Déné síng mêngku nagårå ora darbé watak “Bêr budi båwå lêksånå”. Iku biså njalari wadyabålå kang dadi têtungguling prajurít nêgårå kuwi ora sujúd manèh lan biså ugå kêpingín ngrêbút panguwasaníng nêgårå.
Pitudúh : # 71
Yèn wóng bêcík kang kuwåså, kabèh kang ålå didandani lamún kênå, déné yèn ora kênå disingkíraké mundhak nulari (cuplak andhêng-andhêng).
Pitudúh : # 72
Pêrang iku bêcík lamún tujuwané nggayúh kamardikaníng nagårå lan bangsané, lan pêrang iku ålå lamún kanggo njarah rayah darbèkíng liyan.
Pitudúh : # 73
Wóng ålå yèn bisa kuwåså, kang ålå iku diarani bêcík. Kósókbaliné yèn wóng bêcík kang kuwasa, kang bêcík iku kang ditindakaké.
Pitudúh : # 74
Wajibíng warganíng nagårå iku kudu biså rumångså mèlu handarbèni, wajíb mèlu hanggóndhèli. Mulat sarirå hangråså wani.
Wêwalêr : # 75
Åjå sênêng yèn lagi darbé panguwåså, sêrík yèn lagi ora darbé panguwåså. jalaran kuwi-kuwi ånå bêbêndhuné dhéwé-dhéwé.
Wêwalêr : # 76
Åjå múng kêpingín mênangé dhéwé kang biså marèkaké crahíng nagårå lan bångså, kudu sênêng rêrêmbugan njågå katêntrêman lahír batín.

Sample Image

KAKALUARGAAN

Pitudúh : # 77
Båpå biyúng iku minångkå lantaran uríp ing ngalam donyå.
Pitudúh : # 78
Síng såpå lali marang wóng tuwané prêsasat lali marang Pangérané, Ngabêktiyå marang wóng tuwå.
Pitudúh : # 79
Wóng tuwå kang ora ngudi kabêcikan sartå ora ngêrti marang udånagårå (trapsilå, unggah-ungguh) lan tåtå kråmå, kuwi sêjatiné dudu panutané putrå wayah.
Pitudúh : # 80
Såpå síng sênêng uríp têtanggan, kalêbu janmå linuwíh.
Tånggå iku pêrlu dicêdaki nanging åjå ditrêsnani.
Pitudúh : # 81
Paribasané tånggå iku pådhå karo båpå biyúng.
Pitudúh : # 82
Tånggå kang ora bêcík atiné åjå dicêdhaki nangíng åjå dimungsuhi.
Pitudúh : # 83
Sadumuk bathúk sanyari bumi ditóh pati.
(Unèn-unèn kanggo nggambaraké kasêtyané marang kulåwargå).
Pitudúh : # 84
Mikul dhuwúr mêndhêm jêro.
(Unèn-unèn kanggo nggambaraké bêktiné anak marang wóng tuwåné).
Pitudúh : # 85
Anak iku minångkå têrusané wóng tuwå, ora ånå katrêsnan kang ngluwihi katrêsnané wóng tuwå marang anak.
Pitudúh : # 86
Trêsnå marang mantu iku pådhå baé trêsnå marang putrå, jalaran putu iku wóhíng katrêsnané putrå lan mantu.
Pitudúh : # 87
Sayojånå iku dóhé sêpulúh èwu dhêpå.
Swårå kang krungu nganti sayojånå, arumíng jênêng ngambar-ambar salumahíng bumi (dialêmbånå).
Pitudúh : # 88
Gólèk jodho åjå múng mburu éndahíng warnå, sênajan ayu utåwå bagús.
Wêwalêr : # 89
Åjå ngaku wóng tuwå lamun wóng tuwamu katón sugíh lan dhuwúr drajadé, jalaran pangkat lan bandhané wóng tuwamu iku mau bisa sirnå sadurungé sirå warisi.
Wêwalêr : # 90
Åjå gampang nyêpatani anak nganggo têmbúng kang ora prayogå, jalaran sêpatané wóng tuwå bisa numusi sartå bisa ngilangaké råså bêktiné anak marang wóng tuwané.
Wêwalêr : # 91
Åjå mènèhi jênêng marang anak síng kurang pantês, jalaran jênêng síng disandhang anak bakalé kagåwå nganti dêlahan (akhérat).

Sample Image

KADONYAN

Pitudúh : # 92
Båndhå kang rêsík iku båndhå kang såkå nyambút karyå lan såkå pamêtu séjéné kang ora ngrusakaké liyan.
Déné båndhå kang ora rêsík iku båndhå cólóngan utåwå såkå nêmu
duwèkíng liyan kang kawruhan síng duwé.
Pitudúh : # 93
Kadonyan kang ålå iku atêgês múng ngångså-ångså golèk båndhå donyå ora mikiraké kiwå têngêné, ugå ora mikiraké kahanan batín.
Pitudúh : # 94
Golèk båndhå iku samadyå baé, udinên katêntrêman njåbå njêro.
Pitudúh : # 95
Båndhå iku anané múng anèng donyå, mula yèn mati ora digåwå.
Pitudúh : # 96
Wóng golèk kêmakmuran iku ora kalêbu ngoyak kadonyan.
Pitudúh : # 97
Båndhå iku gawé múlyå lan ugå gawé cilåkå.
Gawé múlya lamún såkå barang kang bêcík, gawé cilåkå lamún såkå barang kang ålå.
Pitudúh : # 98
Wóng uríp åjå tansah kêpingín båndhå baé, jalaran kasugihan iku ing samångså-mångså biså gawé cilåkå.
Pitudúh : # 99
Síng såpå tansah ngêgúngaké pangkaté, wirang lamún ånå owahing jaman.
Síng såpå ngêgúngaké bandhané, wirang lamún sírnå bandhané.
Pitudúh : # 100
Dhèk jaman kunå pêrang iku rêbutan båndhå, nêgårå, lan mbóyóng putri. Nangíng jaman iku ilang barêng wís ngêrti mênåwå wanitå bóyóngan mau biså gawé ringkihíng nagårå.
Wêwalêr : # 101
Båndhå iku pêrlu nangíng åjå diumúk-umúkaké, drajad lan pangkat iku pêrlu, åjå dipamèr pamèraké, jalaran biså mlèsèdaké awaké dhéwé.
Wêwalêr : # 102
Åjå mélík darbèking liyan, margå rêbutan råjåbrånå lan wanita iku biså gawé congkrahíng pårå sujånå lan gawé nisthaníng ati.
Wêwalêr : # 103
Åjå sênêng mamèraké båndhå lan ngêgúngaké pangkat, sêbab båndhå biså lungå, drajad/pangkat bisa oncat.
Wêwalêr : # 104
Åjå sênêng marang wóng kang ngujå håwå napsu margå akèh bandhané. Jalaran båndhå mau bisa gawé cilåkå amargå durúng mêsthi båndhå kang rêsík.

Sample Image

MEMAYU HAYUNING PRIBADI

Pitudúh : # 105
Ing samubarang gawé åjå sók wani mêsthèkaké, awít akèh lêlakón kang akèh bangêt sambékalané síng ora biså dinuga tumibané.
Jêr kåyå uniné pêpèngêt, “Mênåwå manungså iku pancèn wajíb ihtiyar, nangíng pêpêsthèné dumunúng ing astané Pangéran Kang Måhå Wikan”.
Mulå ora samêsthiné yèn manungså iku nyumurupi bab-bab síng durúng kêlakón. Saupåmå nyumurupå, prayogå åjå diblakakaké wóng liyå, awít têmahané múng bakal murihaké bilahi.
Pitudúh : # 106
Sabar iku ingaran mustikaning laku, jumbúh karo uniné bêbasan : “Sabar iku kunciníng swargå”, atêgês marganíng kamulyan.
Sabar, liré mómót kuwat nandhang sakèhíng cobå lan pandadaraníng ngauríp, nangíng ora atêgês gampang pêpês kêntèkan pêngarêp-arêp.
Suwaliké malah kêbak pêngarêp-arêp lan kuwåwå nampani åpå baé kang gumêlar ing salumahé jagad iki.
Pitudúh : # 107
Kahanan donya iki ora langgêng, tansah owah gingsír.
Yèn sirå kêbênêran katunggónan båndhå lan kasinungan pangkat, åjå banjúr rumangsa “Såpå sirå såpå ingsún”, tansah ngêndêlaké panguwasané tumindak dêgsurå marang sapådhå-pådhå.
Élinga yèn båndhå iku gampang ilang (sírnå).
Pangkat sawayah-wayah bisa oncat.
Pitudúh : # 108
Saibå bêciké samangså wóng kang lagi kasinungan kabêgjan lan nampå kabungahan iku tansah élíng gêdhé ngucap syukúr marang Kang Pêparíng. Awít élinga yèn tumindak kåyå mangkono mau kêjåbå biså ngilangi watak jubriyå uga mlêtikaké råså rumångså yèn wóng dilairaké marang sapådhå-padhané titah, mbêngkas kasangsaran, munggahé ngrêkså hayuníng jagad.
Pitudúh : # 109
Åjå sók ngêndêl-êndêlaké samubarang kaluwihanmu, åpå manèh mamèraké kasugihan lan kapintêranmu.
Yèn anggónmu ngóngasaké dhiri mau múng winatês ing lathi tanpå búkti, dhóngé pakarti kåyå mangkono iku ngêngón awakmu dadi ora aji.
Luwíh prayogå turutên pralampitané tanduran pari.
Pari kang mêntês mêsthi tumêlúng, kang ndongak mracihnani yèn kóthóng tanpå isi.
Pitudúh : # 110
“Rumångså sarwå duwé” lan “Sarwå duwé rumångså”, iku yèn ditulís gênah múng diwolak-walík baé, nangíng surasané jêbúl kåyå bumi karo langit.
Síng kapisan nudúhaké watak ngêdír-êdíraké, wêngís satindak lakuné (polahé), yèn nggayúh pêpénginan ora maèlu laku dudu, samubarang pakarti nisthå ditrajang wani.
Déné síng kapindho pakartiné tansah kêbak wêlas asíh, wicaksånå ing sabên laku, rumångså doså samångså gawé kapitunané liyan.
Pitudúh : # 111
Nadyan wêsi iku kanyatané atós, éwa sêmono yèn wís kêtrajang ing taiyèng yå bakal êntèk gripís.
Sêmono ugå tumrapíng wóng kang kataman råså mèri, atiné mbåkå sêthithík ugå bakal gripís, awít rumangsa yèn awaké tansah apês, saénggå kélangan grêgêt lan lumúh makaryå.
Wusanané pêpês atiné kêntèkan pêngarêp-arêp.
Pitudúh : # 112
Yèn sirå sacårå badaniyah lan rohaniyah têtêp kêpingín bagas kuwarasan, tansah élingå róng prakårå iki :
1. Tansah jaganên sakèhíng samubarang kang nêdyå sirå lêbókaké ing
tutúk, dithinthíng luwíh dhisík åpå bakal gawé rusakíng rågå åpå ora.
2. Kulinaknå mikír luwih dhisík samubarang kang arêp sirå wêtókaké
såkå tutúk.
Liré pikirên luwíh dhisík klawan matêng åpå kang bakal sirå
wêtókaké iku ora malah gawé kucêmíng awakmu dhéwé, nglarani
atiníng liyan åpå ora.
Déné yèn ora ånå paédahé luwíh bêcík åjå kók kojah amríh ora
nandhang piduwúng.

Pitudúh : # 113
Digêndhóngånå dikuncènånå kåyå ngåpå, nangíng wóng iku yèn wís tinakdír têkan janjiné utåwå ajalé, mångså bakal wurungå.
Iki manèh pélíng kita, yèn kita manungså mono ing atasé badan lan umuré dhéwé ora kuwåså.
Åpå manèh síng múng wujúd barang sampiran kåyådéné drajad sêmat lan pangkat, kaluhuran, kasugihan, lan kalungguhan.
Mula såkå iku åjå kibír, jubriya lan åjå sók dumèh.
Awít isíh ånå panguwåså liyå (Gústi Allah) kang luwíh kuwåså.
Pitudúh : # 114
Ngombé lan mêmangan yèn tanpå takêr lan tanpå pilíh-pilíh iku pancèn biså nêkakaké bilahi.
Mula nyandhêt ubalíng kêpinginan ngombé lan mêmangan kang kåyå mêngkono mau wís atêgês sawijiníng pamarsudi nyêgah karusakaníng jiwå lan rågå.
Wóndéné sranané kang prayogå yaiku påså síng mêngku ancas pupúr sadurungé bênjút nyingkiri sadurungé bilahi.
Pitudúh : # 115
Kamulyan lan kanikmataning uríp wóng-wóng kang sugíh dituku måwå tangising rakyat kang mlarat.
Pitudúh : # 116
Kang kinaran janmå kang wís kadunúngan cíptå kang wêníng iku, yåiku såpå kang wís têmên-têmên mantêp pangidhêpé marang Gústi Kang Múrbèng Dumadi.
Wóng kang kåyå mangkono mau samångså nindakaké pakarti åpå tå åpå tansah linambaran ati kang sarwå têpa tulús, kabèh-kabèh amúng akarånå Allah.
Ora cilík ati, gêdhéné ngråså owèt ing kalané wóhíng panggawéné mitunani awaké dhéwé, nangíng biså gawé raharjané sêsamaníng dumadi.
Kósókbaliné wóng kang nindakaké pangibadah nangíng isih ndarbèni pêpinginan supåyå diwêruhana lan digawókana déníng Allah, iku pratåndhå yèn pangidhêpé lan pangibadahé durúng akarånå Allah.
Pitudúh : # 117
Pambudidayanirå manêmbah marang Pangéran iku prayogané åjå sirå anggo sarånå ngalab tumuruníng pêparingé, nangíng mligiya nindakaké panêmbah múng såkå niyat manêmbah.
Awít wóng kang nyênyadhóng sihíng Pangéran sarånå laku panêmbah kathík banjúr nyåtå kalêksanan panyuwuné, ing adat wóng mau banjúr dadi kêthúl kawaspadané marang kaluhuran lan kêagungané Kang Múrbèng Dumadi.
Aran isíh bêgjå yèn ora banjúr dadi wóng jubriyå sênêng nyêpèlèkaké marang sêsamaníng dumadi.
Pitudúh : # 118
Ånå sawènèhíng wóng kang duwé pênganggap mênawa nyênyuwún sihíng Allah iku ora ånå gawéné.
Awít Gústi Allah iku adíl lan Måhå Wuninga saénggå ora bakal pêparíng marang wóng kang ora pantês nampa ganjaran, nangíng wóng mau sajak lali yèn Gústi Allah mono Maha Wêlas lan Maha Asíh.
Ugå ana sawènèhíng wóng kang ora prêcåyå marang anané Gústi Allah, prêsasat ugå ora prêcaya marang anané dhéwé, déné nganti awaké lair ånå ing donya.
Nangíng yèn wóng mau nandhang rêribêd lan nalaré wís pantóg, adaté tuwúh osikíng atiné yèn Pangéran iku ånå malah banjúr disêsuwuni.
Pitudúh : # 119
Wóng kang kulina ngéníngaké cíptané kang rêsík ing wayah ésúk, lawas-lawas banjúr biså ngêningaké cíptané ing wayah bêngi ugå, lan sangsåyå lawas manèh bisa ngêningaké cíptå ing wayah åpå baé lan ing ngêndiya baé.
Nangíng sabarang pratingkah iku biså dadi pakulinan manåwå katindakaké kanthi ajêg, sarånå panglantíh kang tumêmên lan ora bosên.
Klawan mangkono sabarang kang mauné rinåså rêkåså lan abót, bakal sírnå.
Mangkono ugå ånå bédané yèn kita kêpingín nanêm wiji kautaman, iya kudu kita gladhi tanpå bosên.

Pitudúh : # 120
Yèn pinuju wayah bêngi langité têrang banjúr tumêngåå ing tawang, kita bakal nyipati sapérangané gêlaríng alam, abyóríng langít kang sumilak sinêbaran lintang-lintang patíng krêlip, gêdhé cilík kåyå wís sêngadi tinåtå panggónané, angin sumilír ngobahaké kêkayónan lan gêgódhóngan kang ngandhút arumíng gandané kêkêmbangan.
Síng kåyå mangkono sayêkti bisa nuwúhaké råså pangråså têntrêm ing ati kitå.
Nangíng luwíh såkå iku, åpå síng kåyå mangkono mau ora ngosikaké kita tumrap kaluhuraníng Kang Måhå Agúng kang wús mranåtå sakabèhíng mau ?
Pitudúh : # 121
Tumrapíng wóng múrsíd yèn pinuju kambah ing prihatin, nolah-nolèh ngiwå nêngên wís ora ånå pitulungan manèh kang biså diarêp-arêp têkané.
Parandéné ora bakal kóncadan ing pangarêp-arêp. Awít wís mangêrti mênåwå tambané prihatín kang ampúh iku ora liyå kêjåbå : sabar. Sabar lan tawakal nyênyuwún kanthi têmên-têmêníng ati marang kamurahaníng Kang Måhå Kuwåså kang ngrêgêm sakabèhíng mobah-mosikíng jagad saisiné.
Pitudúh : # 122
Ala-alaníng kêlakuwané wóng ora kåyå kang sinúng watak “Såpå sirå såpå ingsún”. Margå sèndhènan kaluwihané, êmbúh kêkuwasaané, êmbúh karósan, sênêng tumindak sawênang-wênang marang kalahané kang wís titå ora bakal kumawani mancahi gêdhéné nganti wani mbandakalani kêkarêpané.
Wóng kang nduwèni sêsipatan kåyå mangkono mau prayogå énggal ngélinganå mênåwå laku jantraníng jagad mono wís kinodrat cåkrå manggilingan; síng wingi ånå ngisór déné sésúk gilír gumanti bakal ngêrèhaké.
Pitudúh : # 123
Sabên dinå kitå ajêg rêrêsík badan lan pênganggo, kajåbå amríh bagas kuwarasan ugå katón apík lan ngrêsêpaké.
Iki pakulinan kang apík. nangíng luwíh prayoga manèh yèn jroníng ati banjúr katuwuhan osík : åpå sabên dinå kita ugå rêrêsík lan ngupakara batín lan jiwå kita amríh sangsåyå apík lan sangsåyå rêsík såkå sakèhíng rêrêgêd såkå anané cacad-cacad lan panggodhå.
Sêbab yèn badan wadhag kang kênå ing rusak iku kita gêmaténi, généyå jiwå kitå kang asipat langgêng malah kita lírwakaké pangupakarané ?
Pitudúh : # 124
Suméndhé ing takdir iku dudu sipaté wóng kang sênêng ulah luhuríng kêbatinan, nangíng dadi wataké wóng kang lumúh tumandang gawé lan cupêt nalaré.
Luhuríng kêbatinan kudu tansah jumbúh lan laras karo ajuníng kawrúh lair.
Liré, kêbatinan kang luhúr iyå kudu biså ngujudi pakarti kang luhúr ugå, kang biså njunjúng lan mulyakaké drajadíng nuså lan bangsané.
Pitudúh : # 125
Såkå kayungyúníng manungså marang båndhå, sêmat lan drajad anggóné migunakaké nganti kêrêp nglírwakaké kautaman, nglalèkaké jêjêríng kamangnungsan.
Uripé prasasat kaêsók kabèh ånå ing kono. Ora ngélingi kêpriyé wusananíng dumadi.
Ing jagad pancèn ora ånå wêwalêr wóng nglumpúkaké båndhå råjåbrånå, janji pikolèhé manút dalan kang bênêr lan dipigunakaké minångkå prabót prênataníng jagad.
Pitudúh : # 126
Uríp tanpå gêgayuhan luhúr, bêbasané kåyå lêlawuhan tanpå uyah, sêpå tan miråså.
Gêgayuhan bisané kasêmbadan kudu sinartan ngèlmu, jalaran ngèlmu mono pancèn sanguné ngauríp, wóndéné ngèlmu iku tinêmu ing laku lan tandang.
Sakèhíng tandang ora bêcík kêlakóné yèn ora mapan.
Liré, bisowå tansah ngélingi marang jantraníng kahanan.
Wóng kang tandang tandúké mapan, angèl kêpèpèté, jalaran yèn mapan mêsthi cêpak waspadané.
Déné waspådå mono sirikané målå lan adóh såkå bêbêndhu.

Pitudúh : # 127
Sakabèhíng tumindak iku panimbangé manút kawusanané.
Mula muríh bisané sampúrna, sabarang kang bakal dilakóni lan ditindakaké iku luwíh dhisík thinthingånå lan pilah-pilahna ålå bêciké kanthi wêningé nalar/pikír.
Yèn wís, tumindaké kanthi dugå lan prayogå, sartå måwå têpå tulådhå.
Liré, sabarang patrap mau upamaknå tumrap awaké dhéwé, ilangnå pangirå-irå tumrap awaké liyan kang durúng disumurupi.
Élingå, såpå kang arêp mbêcíkaké alam donya iku, kudu mbêcíkaké awaké dhéwé luwíh dhisík.
Pitudúh : # 128
Ciri-ciriné jiwa kang isih kóthóng mono biså dititík såkå ulat praupan, tutúr wicara, lan tingkah lakuné kang ora naté gêlêm kalah.
Sabarang tindak-tandúké kêpingín unggúl lan mamèraké kaluwihané, ora anggèr kaluwihan biså kanggo ngadhêpi bêbåyå lan ngêntas såkå papan cintråkå.
Kaluwihan kang tanpå dilandhêsi kautaman, kênå diumpamakaké kayadéné wêdhak pupúr síng nèmpèl ing njaban kulít baé, ora biså tahan suwé lan gampang luntúr margå såkå pakartiné dhéwé, awít nêrak dhasar-dhasar bêbênêr lan kasucian.
Pitudúh : # 129
Sabên tumindak sêjangkah ngilowå marang kinclóng-kinclóngé banyu samudrå síng suthík kanggónan sangkrah, jalaran sakèhé uwúh mêsthi disingkíraké minggír.
Sabên makaryå sapêcak, tuladhanên pakartiné banyu tritisan, nadyan tumètès mbåkå satètès, ditindakaké kanthi ajêg kêcónggah mbólóngaké watu síng atósé ngluwihi wåjå.
Pitudúh : # 130
Såpå kang bisa nêlukaké mungsúh-mungsúhé, dhèwèké diarani kuwat.
Anangíng såpå kang bisa nêlukaké awaké dhéwé, iya dhèwèké iku kang luwíh kuwat manèh.
Pitudúh : # 131
Samångså lagi ngadhêpi uríp rêkåså prayogané adhêpana klawan èsêm gumuyu.
Awít iku wus wujúd sênjåtå kang bisa gawé ènthèngíng sanggan lan bakal numusi muluríng pikír.
Nanging yèn pênandhangmu mau tansah kók adhêpi kanthi ulat kang suntrút adhakané kowé bakal kêntèkan pikír kang wêníng, wusanané dadi nékat nuruti pokal kang nêrak bêbênêr.
Pitudúh : # 132
Såpå kang nganggêp åpå baé gampang, mêsthi bakal nêmu akéh rubédå.
Såpå kang gampang janji, iya kuwi kang arang nêtêpi.
Pitudúh : # 133
Uríp têgêsé mbudidåyå ngêtóg tênågå (bêrjuwang).
Uríp níkmat tanpå angín prahårå pådhå karo sêgårå kang mati.
Aku luwíh sênêng ditêndhang, dilawan déníng nasíb, tinimbang diugúng.
Pitudúh : # 134
Laku jujúr kuwi pådhå karo dhuwit kang biså laku ing ngêndi baé.
Pitudúh : # 135
Kang bêcík lan ålå, kabèh mêsthi nåmpå pikolèh, sênajantå kadhang-kadhang nampané cêpêt, kadhang-kadhang alón.
Pitudúh : # 136
Wóng kang kinaranan bêrbudi iku, yåkuwi wóng síng rumångså tambah kasíksa yèn nyumurupi sapêpadhané nandhang påpå lan kasangsaran.
Runtúhé råså wêlasé adaté banjúr sinusúl sarånå cucúlé prabéyå lan barang darbèké.
Nangíng pancèn angèl gólèk-gólèkané wóng síng kåyå mangkono iku.
Buktiné ora sêthithík wóng síng mati mêrgå kêwarêgên, apamanèh wóng síng mati amargå kalirên.
Pitudúh : # 137
Manungså kuwi dadiné bêcík miwiti såkå njêro mênjåbå.

Pitudúh : # 138
Kang waspådå marang awakmu dhéwé jalaran iyå awakmu dhéwé kuwi kang mujúdaké mungsúhmu kang palíng gêdhé.

Pitudúh : # 139
Manungså kang múng ngélingi marang pakartiné pancadriyané mono bakal tansah kasinungan råså dhêmên utåwå sêngsêm.
Såkå Råså Dhêmên banjúr kathukúlan råså mélík, såkå råså mélík munggah dadi nafsu, såkå nafsu banjúr nasar pakartiné lan sírnå bêbudèné síng wêkasané tumiba ing påpå, nandhang kasangsaran.
Pitudúh : # 140
Wóng juwèh, kawruhé tumèmpèl ing lambé, kumrêcêk ngêbaki ing pasamuwan, katút samirånå mrånå-mréné.
Bédå karo wóng mênêng, kawruhé sumimpên ånå ing ati wêníng.
Wêtuné ora sarånå lambé, nangíng katampanan ing pucukíng pèn, mili ambèr ing kêrtas putíh, rinasakaké ing wóng sajagad.
Pitudúh : # 141
Amríh uríp kita tansah nêmóni rahayu, åjå kêndhat nggêgulang nandúr cíptå utåmå sajroníng ati sanubari kita sinartan panyuwunan kang manthêng marang Gústi Kang Måhå Wêlas lan Måhå Asíh, mugå pinaringan nugråhå biså ndarbèni ati kang wêníng lan jiwå kang utåmå.
Pancèn ora gampang wóng ngudi bisané kasinungan cíptå utåmå ngélingi mênåwå manungså mono mulå wís kêsêrênan sipat apês lan lali.
Sók ngonowå yèn tå sawisé nandhang apês lan lali banjúr gumrégah manèh pangudiné åpå déné ora kêndhat ing panglantihé mantêpå ing kêyakinan yèn Gústi Allah ora bakal ora ngudanêni panyuwún kitå.
Pitudúh : # 142
Kawrúh lan “Ilmu pêngêtahuan” iku múng biså digayúh lan dikuwasani kanthi laku kang laras karo åpå kang diwulangaké.
Liré, ajaran téoriné kudu biså dicakaké lan ditrapkaké kanggo karahayóníng bêbrayan. Wóndéné lakuné mono kudu sinartan tékad kang gilíg lan kêkarêpan kang tulús lan mantêp kinanthènan katêguhaníng iman, kanggo ngadhêpi sakèhíng panggodhå sartå nyingkiri sikêp laku kang sarwå dudu.
Pitudúh : # 143
Banyu iku bisaníng bêníng yèn wís mênêp. Sanadyan mauné buthêk, nangíng yèn wís mênêp, iyå banjúr bêníng.
Sêmono ugå tumrap pêpinginan utåwå gêgayuhan yèn diudi nganti katóg lan mênêp ing têmbé ugå bakal kasinungan sifat bêníng.
Liré, nadyan pêpinginan lan panggayu bisa kalêksanan klawan tumuli, éwå sêmono yèn ditlatèni suwéning suwé ugå bakal kasêmbadan.
Pitudúh : # 144
Yèn kêpingín nglungguhi pangkat kang dhuwúr luwíh prayogå yèn dikawiti såkå kalungguhan kang êndhèk dhéwé.
Awít klawan mêngkono ing têmbé kowé ora bakal gampang disêpèlèkaké déníng bawahanmu.
Lan kang utåmå yaiku kowé nuli biså madêg dadi pêmimpín kang biså nglungguhi ing kawicaksanan, adóh såkå watak dêgsurå, anané múng sarwå kêbak råså têpå salirå.
Pitudúh : # 145
Ginubêl déníng råså “Tansah kurang marêm” marang asilíng pakaryan utawa jêjibahan kang diayahi, saugêr ora ngångså-ångså, sayêkti malah dadi pamêcút kang bêcík kanggo luwíh maju.
Nangíng yèn råså tansah kurang marêm mau ngênani wuwuhíng donyå-brånå, ora bédå kåyådéné rêridhu síng èsthiné múng tansah rinåså kayadéné pasiksané ngauríp.
Pitudúh : # 146

Élingå, mbésúk yèn wís tumêkaning janjiné ora kênå ora, badan wadhag lan sabarang kalír kang kita darbèni iki bakal kita tinggalaké kabèh, ora ånå kang kitå gåwå mênyang alam kalanggêngan.
Mula åjå bangêt nggónira katrêm marang kadonyan.
Åpå manèh, såpå kang tansah ngêgúl-êgúlaké marang donyå branané lan gandrúng marang pêpinginan kang ora langgêng, èsthiné ora bakal bisa nêmókaké kahanan kang biså gawé langgêngíng kasênêngan lan katêntrêmaníng ati.
Pitudúh : # 147
Batiné wóng kang bisa ndarbèni ati nriman iku tansah ayêm lan têntrêm, margå satingkah laku tansah linambaran kêyakinan kang kandêl marang kadar pêparingé Pangéran.
Nriman ora têgês wis marêm åpå anané, nangíng suwaliké kêpårå malah sungkan mênêng.
Múng baé ora grusa-grusu kåyå tumindaké wóng kang nduwèni sipat ngångså-ångså kåyå ora gêlêm ngakóni karang anané pandúm.

Pitudúh : # 148
Abót-abóting cobå tumraping ngauríp iku malah ora kåyå wóng kang lagi kêbyukan sihíng Gústi Allah.
Yèn lulús såkå pandadaran biså dadi manungså kang kajåbå gêdhé síh kadarmané ugå wicaksånå laír batiné.
Nangíng yèn tå ora têgúh imané, wóng kang lagi kabómbóng ing donyå artå lan kêladúk rumångså sarwå kuwagang mbêndúng sêgårå njugrúgaké gunúng mau istingarah bakal kóncatan kawaspadané.
Kêjåbå lali marang sangkan parané ugå lali yèn sakèhíng drajat lan sêmat dalasan têkan nyawané dhéwé pisan iku múng lugu barang titipan kang sawayah-wayah bisa dipundhút bali déníng Kang Kagungan.
Pitudúh : # 149
Ambudidåyåå ing båndhå manút sakatógíng tênågå nangíng åjå lali kinanthènan tékad lan sêdya yèn sapérangan bakal kita tanjakaké kanggo nindakaké pangibadah.
Élinga yèn pati iku lawangíng akhérat, déné laku ngibadah iku kang biså dadi sarånå nggampangaké manungså tumêkané marang ing lawang mau kanthi råså pangråså tobat lan sumarah.
Suwaliké, jiwå rågå kang ora kanggo tobat nalangsa ing Gústi Allah iku ora bédå kåyå anggané båndhå kang ora dijakati lan ora ditanjakaké kanggo pênggawé kabêcikan.
Pitudúh : # 150
Yèn sirå pinuju nandhang bagas kuwarasan, élinga yèn nalika kênå ing lårå, supríh sirå têtêp bagas kuwarasan kanthi sêsirík prakårå-prakårå kang mbiyèn nyêbabaké lårå.
Yèn ing nalikå sugíh, élingå yèn kêna ing pêkír, lêkas síng kåyå mêngkono mau kanggo ngawékani amríh sira ora gampang kadunungan pikiran sênêng pamèr lan sêsóngaran.
Kawruhånå, iku kêpårå nudúhaké pratåndhå yèn dhèwèké iku sêjatiné wóng kang tunå ing råså wêlas asíh lan miskín ing kawrúh.
Pitudúh : # 151
Kitå manungså iki ora kênå tansah ngantu-antu têkané wêktu kang bêcík, jêr wêktu kang bêcík iku sêjatiné kudu kitå dhéwé sing gawé.
Kitå kudu tansah élíng yèn sabarang tingkah lan tandúk kitå ing dinå kang siji iku nggåwå kêputusan tumrap dinå sijiné.
Déné dinå kang pungkasan iku kang mutúsaké sakabèhíng wêktu lan dinå-dinå kang wis kapungkúr.
Mulå sadurungé kitå tumapak marang dinå pungkasaning uríp, dipådhå biså nglungguhi marang jêjêríng uríp manungså.
Pitudúh : # 152
Wóng nandhang lårå mono akèh síng mêrgå anggóné ngombé lan mêmangan kliwat takêr lan tanpå pilíh-pilíh.
Mulå kanggo nyandhêt ubalíng håwå marang bab sakaroné mau, dibiså marsudi nyudå nuruti kêcaping lidhah sarånå nglakoni påså kang mêngku ancas nyingkiri sadurungé katamaning bilahi.
Pitudúh : # 153
Wóng kang lagi kasinungan kabêgjan lan kamúlyan iku dibiså marsudi amríh langgêng, åjå banjúr kalimpút watak jubriyå lan sêmbrana sing sisíp sêmbiré biså kêjlungúp tibå ing kasangsaran.
Yèn wís mangkono múng råså gêtún lan piduwúng sing kari ing pamburiné.
Pitudúh : # 154
Håwå napsu lan watak angkårå iku sawutuhé manjíng ing dhiri pribadiné dhéwé-dhéwé.
Yèn diumbar ngrêbdå bakal gawé “Bêncånå lan kasangsaran”.
Suwaliké yèn bab mau biså dikêndhalèni bakal njílmå dadi watak “Sabar lan prasåjå”, tulús éklas awèh pangapurå marang sapådhå-pådhå síng gawé kaluputan.
Pitudúh : # 155
Tapaning ati iku múng têmên, yèn tapaning nyåwå múng élíng.
Síng såpå bisa élíng sêdinå sêpisan baé, adaté barang kang sinêdyå bakal ånå.
Síng såpå têmên salawasé, kabèh pangajabé bakal kêcandhak.
Déné kang aran sêjatiníng katêmênan iku sakabèhíng pakarti kang ditindakaké klawan madêp mantêp tanpå mandhêg-mangu lan tolah-tolèh, saénggå sabarang kêkarêpané bakal ginayúh.

Pitudúh : # 156
Wóng iku yèn lagi nandhang lårå lagi biså ngrasakaké sêpirå munggúh bêgjané wóng kang kanugrahan awak kang tansah kuwarasan.
Nangíng suwaliké, wóng síng awaké sêgêr waras lumrahé lali rêkasané wóng lårå.
Sangsåyå adóh kélingané, sangsåyå cêdhak anggóné ngumbar håwå nuruti pêpinginané mripat, ilat, lan têlíh (wadhúk, wêtêng) kang sêjatiné ngajak marang rusakíng rågå.
Mulå prayogané tansah élinga pêrihíng lårå kanthi nggêmatèni kanikmatan kang wís diparingaké déníng Gústi Allah tan kêna kinayangåpå ajiné, yaiku wujúd awak kang bagas kuwarasan.
Pituduh : # 157
Manungså pinaringan déníng Pangéran péranganíng awak kang kalarasaké karo gumêlaríng bêbrayan.
Pinaringan mripat loro, pêrluné supåyå akèhå kang didêlêng, yå kang ngênani ubêr ingêring alam, ålå bêcikíng kahanan, lan owah gingsiríng jaman.
Liré, supåyå linarasna kanthi lantipíng panggraitå.
Pinaringan kupíng loro, murih akèhå swårå kang dirungókaké, nuli kathinthingana lan kasaringa kanthi lungidíng panyiptå lan alapên kang awèh pakolèh.
Pinaringan tangan loro, sikíl loro, supåyå akèhé kang ditandhangi, pilihên kang murakabi kanggo bêbrayan agúng.
Pitudúh : # 158
Pancèn ora ånå wêwalêr ing jagad iki tumrapíng wóng kang nglumpúkaké donya brånå. nangíng kitå kudu tansah élíng yèn donyå brånå mono dudu panggónané kalanggêngan.
Nabi Muhammad wús paríng sabdå : “Ora prayogå ninggalaké kadonyan margå nglakóni akhérat.
Nangíng jênêng wóng kang nisthå såpå kang ninggalaké bab akhérat margå múng golèk donyå brånå tanpå waspådå marang pungkasaníng dumadi.”
Pitudúh : # 159
Brangating ati sabiså-biså kêndhalènånå, åjå diububi nganti muntab dadi ubalíng nêpsu.
Kåyådéné nyirêp gêni sarånå lêngå.
Napsu amarah mono isíh têtêp bakal tansah mbêbêdhag sêlawasé yèn tå ora kinanthènan pikiran kang mênêp, lan ati kang élíng.
Élingé ati lan mênêpíng pikír bakal numusi muluré budi kang tundhóné biså dadi panyirêp sakèhing pakartiníng sétan.
Pitudúh : # 160
Wóng kang ringkíh iman lan batiné bakal gampang dadi jujugané dúrjånå apús-apús kang patíng sliwêr golèk mangsan.
Pirang-pirang kèhé wóng kasêlak pêrcåyå rêmbúg pangimíng-imíng ora pinikír bakal kêdadéyané ing têmbé.
Wusanané nandhang kapitunan lan kênå ing apús.
Mula ditansah waspådå, åjå lirwå ing kaprayitnan.
Pitudúh : # 161
Samångså-mångså thukúl plêtikíng pikír kang kasarung déníng ubalíng nafsu ålå, yogyané sumênêpnå sauntårå.
Yèn biså kåyå mangkono karan wóng wicaksana, jalaran kêjaba biså nglêrêmaké ati kanthi mênêpíng pikirmu ugå bakal kêcónggah nyirêp ubalíng nafsumu mau.
Wusånå rahayu kang tinêmu mêrgå biså sumingkír såkå mêmålå kang têkå arêp ngrêridhu awakmu.
Pitudúh : # 162
Wóng kang sêngsårå uripé jalaran ånå róng warnå.
Kapisan såkå kaluputané dhéwé, kang kapindho mêrgå såkå pokalé dhéwé.
Síng kapisan iku paribasané tanêm tuwúh kang tansah kodanan lan kêpanasan ora diopèni, déné síng kang kapindho paribasané tanêm tuwúh kang tansah diapèk asilé nganti ora kobêr thukúl gódhóngé.
Pitudúh : # 163
Yèn sirå uríp ing alam donya iki rumångså nampå pandúm kêsêthithikên iku wís dadi pêpêsthèné urípmu, ora pêrlu mbók murinani.
Pamurinamu prayogå lipurên sarånå mawas lêlabuhanmu dhéwé, jêr lêlabuhan ing alam donya mono dadi trajuníng akèh sêthithiké pandúmmu.

Sample Image

MEMAYU HAYUNING BUDHI LAN TEKAD

Pitudúh : # 164
Yèn gêlêm nalusuri sêjatiné ora sêthithík piwulang lan pitutúr bêcík kang malah kitå tampå såkå wong-wong gawané nacad lan ora dhêmên marang kitå, katimbang mitrå katrúh rakêt kang tansah ngalêmbånå.
Awít panacad bisa nggugah kita nglêmpêngaké laku, déné pangalêmbånå kêpårå biså nyêbabaké wong kêrêp dadi lali.
Pitudúh : # 165
Manåwå kowé durúng mangêrtèni marang bab kang kok anggêp ora bêcík, åjå kêsusu ngatonaké råså sêngítmu, gêdhéné nganti maoni lan nglairaké panacad.
Awít kawruhana yèn pikirané manungså iku tansah mobah-mosík lan molak-malík.
Åpå kang kok kirå ålå lan kok gêthingi iku ing têmbé mburi biså malíh kok sênêngi, kêpårå malah biså dadi gantungané urípmu.
Pitudúh : # 166
Karêpé wong nyatúr alaníng liyan iku bêtèké múng arêp nudúhaké bêciké awaké dhéwé. Yèn síng diajak nyatúr wong kêmplo, pamríh síng kåyå mangkono mêsthi katêkané. Nangíng tumrapíng wong múrsíd : “Wong kang ngumbah rêrêgêd ing awaké sarånå migunakaké banyu pêcêrèn malah såyå nudúhaké blêntongé pambêgané”.
Pitudúh : # 167
Têmbúng kang prayoga kang kêlair múng margå kadêrêng déníng dayaníng håwå napsu iku pancèn sakålå iku biså awèh råså pêmarêm.
Nangíng sawisé iku bakal awèh råså gêtún lan panutúh marang dhiri pribadiné dhéwé kang satêmah tansah bisa ngrubédå marang katêntrêmaníng pikír lan ati.
Gunêman sêthithík nagíng mêmikír akèh iku kang tumrapé manungså bisa awèh katêntrêman lan kråså marêm kang gêdhé dhéwé.
Pitudúh : # 168
Siji-sijiníng dalan amríh kalêksananíng gêgayuhan, yåiku makarti kang sinartan kêpêrcayaan lan kêyakinan mênåwå åpå kang sinêdya mêsthi dadi.
Yèn kita múng kandhêg ing gagasan lan kukuhíng karêp baé, tanpå tumandang lan makaryå minangkå srånå panêbusé, wohé yå ora bédå kåyå déné ing pangimpèn. Cilakané manèh, yèn sêlaginé nganggít-anggít mau wís kasêlak ngrasakaké kanikmatané ing pangangên-angên, wusanané dadi lumúh ing gawé lan wêdi ing kakéwúh (wêdi kangèlan).
Pitudúh : # 169
Ora bédå karo rob lan surudíng sêgårå, kahanan uripíng manungså iku ugå ora biså uwal såkå bungah lan susah.
Kang pêrlu dicilêngi ing kéné yåiku åjå kasêlak kêbacút kêrêm kalimpút ing kabungahan lan åjå kasêlak gampang anglês yèn lagi kapinujon apês.
Awít kasusahan iku sok malah bisa ngêntas kitå såkå kaluputan lan kabodhowan, saugêr insyap marang dhiriné lan ora mupús, åpådéné tansah pêrcåyå marang Kang Kagungan Panguwaos.
Pitudúh : # 170
Mênangi jaman rêbutan råjåbrånå, akèh wong kang pådhå kalimpút, mèlu-mèlu tumindhak nisthå.
Ora élíng yèn sêjatiníng uríp ing donyå iku ora ngupåyå råjåbrånå baé, nangíng ugå mangèsthi kamúlyan ing têmbé.
Uríp ing satêngahíng godhå rêncånå, nangíng têtêp tumindak utåmå, prêsasat tåpå ing satêngahíng cobå. Såpå kang santosa ora bakal tumindak sasar.
Mula tansah ngugêmana sêbutíng pitutúr : “Sabêgjå-bêgjané kang lali nganti kèlu pênggawé sasar, isíh bêgjå kang panggah élíng lan waspådå têtêp ing panggawé utåmå”.
Pitudúh : # 171
Yèn sirå kasinungan ngèlmu kang marakaké akèh wong sênêng, åjå sirå malah rumångså pintêr, jalaran mênawa Gústi Allah mundhút bali ngèlmu kang marakaké sirå kalokå mau, sira banjúr kåyå wong séjé (owah), malah bisa “Aji godhong jati akíng”.

Pitudúh : # 172
Såpå kang katrêm mêrgå lagi pinaringan kêkuwasaan iku sêjatiné malah dadi sumbêríng dunungíng wong lali, gampang lirwå ing kaprayitnan, lan gampang kapilulu ing pakarti dudu.
Awit yèn lagi kuwåså, adhakané banjúr ngångså-ångså kêgêdhèn panjångkå.
Kanggo nggayúh panjangkané, sakèhíng cårå ditêmpúh.
Ora maèlu sênadyan nganti mêntålå gawé sangsarané mitrå karúh. satêmah múng dadi lêlêthêg kang luwíh aji uwúh.
Pitudúh : # 173
Ilat kuwi sawijiníng pêdhang kang landhêp, kang bisa matèni sênajan tanpå ngêtokaké gêtíh.
Pitudúh : # 174
Ora ånå critané wóng kêjungkél iku margå kêsandhúng watu gêdhé, síng mêsthi mêrgå kêsandhúng watu síng cilík.
Yèn tatuwå yå margå såkå watu krikíl-krikíl síng lancíp-lancíp.
Bab mau awèh pitudúh supåyå kitå åjå nyêpèlèkaké marang barang síng katóné sêpélé ora mingsrå, nagíng sêjatiné kêpårå malah gampang dadi dhadhakané wóng njungkêl njêmpalík tibå ing påpå.
Pitudúh : # 175
Wóng sugíh síng lumúh kélangan bandhané nadyan kanggo kêpêrluwané dhéwé iku ora liya sababé margå tansah kuwatír yèn dhèwèké tibå ing kêmlaratan.
Nangíng ora ngêrtiya yèn dhèwèké ing wêktu iku sêjatiné wis pådhå karo wóng mlarat. Uripé kêpårå luwíh sangsårå katimbang wóng kêsrakat, kang batiné tansah ora narimakaké marang adilíng Kang Múrbèng Dumadi.
Pitudúh : # 176
Dêrêng nêdyå pamèr utawa riyå iku têrkadhang munculé dadakan kåyå-kåyå tanpå rinåså ing nalikå kitå pinuju sêsrawungan karo wóng liyå.
Mulå prayogå kita tansah waspådå ngêndhalèni dhiri.
Déné kang kinaran dêrêng utåwå nafsu sênêng pamèr kang gampang dinêlêng lan sinêksèn déníng wóng liyå iku aran riyå kang pratélå (cêthå), utåwå ngêdhêng.
Bêcík kitå singkiri.
Wóndéné dêrêng sajróníng laku panêmbah, arang kang disumurupi wóng liya.
Luwíh-luwíh yèn lagi kapinuju ånå ing papan kang sêpi.
Sók ngonowa élinga, yèn Gústi Allah iku tansah ngudanèni.
Pitudúh : # 177
Kabèh salakuné (tumindaké) wóng bodho iku ésthiné nggawé híkmah lan piwulang bêcík tumrapíng wóng kang ahli budi.
Awít såkå samubarang kang ora bêcík kang dilakoni wóng bodho déníng pårå ahli budi banjúr kari ngêmóhi lan dadi pandóming uríp kang pêrlu disiriki lan disingkiri.
Suwaliké wóng bodho sungkan nyuplík lêlakón bêcík kang dialami pårå ahli budi.
Mulå ora jênêng aèng yèn akèh pårå bodho síng uripé têtêp kasurang - surang lan pårå ahli budi kang tansah rahayu ing uripé.
Pitudúh : # 178
Åjå sók rumangsa tinitah apês nganti gawé pêpêsíng sêmangatmu.
Malah prayogå dinarimå marang åpå kang wis sirå tampå såkå kanugrahaning Gústi Kang Maha Kuwåså.
Awít ngélingånå mênåwå ora kurang-kurang titah kang luwih cingkrang lan luwíh cacad tinimbang sirå, suprandéné dhèwèké babar pisan ora kawêtu nutúh marang Gústi Allah. Kang mangkono mau ora liyå margå såkå kandêlé imané lan yakín marang kêadilaníng Pangéran Kang Måhå Kuwåså marang sakabèhíng lêlakón kang dumadi ing jagad raya iki.
Pitudúh : # 179
Ngalêmbånå lan panacad iku pådhå baé panindaké. Liré, tarikané napas pådhå, kêdalíng ilat pådhå lan obahíng lambé yå pådhå.
Sók ngonowa najan rêkasané utåwå gampangé pådhå, nangíng olèh-olèhané utåwå wóhé síng ora pådhå.
Ing ngadat kêjåbå sók adóh sungsaté, ugå malah sêríng kósók balèn.
Sing siji biså ngrakêtaké pasêduluran sijiné pådhå baé karo golèk dadakan nandúr råså mêmungsuhan.

Pitudúh : # 180
Åjå ndarbèni pêpinginan dadi wóng kang linuwíh kang ngandhut idham-idhaman supåyå sarêmbúgé diandêlå wóng akèh.
Luwíh prayogå tansah njågå baé barang rêmbúgira kanthi bêcík, patitís lan maédahi. Karo manèh tindak tandúk kang ngrêsêpaké, luwíh-luwíh kang bisa awèh paédah marang wóng liyå iku ajiné ngungkuli sakèhíng pitutur kang ndhakík-ndhakík nangíng kang durúng kabuktèn ånå ing panindak.
Mulå kuwi tansah udinên amríh wêtuníng rêmbúg “Kêplók lumah kurêpé” karo tindakirå.
Pitudúh : # 181
Kang kinaran manungså winasís yåiku wóng kang wís kaconggah mbênêraké tindak kang mlèncèng.
Déné asór-asóring budiné manungså iku ora kåyå wóng kang mlèncèngaké tindak kang wús bênêr.
Adaté sipat kåyå mangkéné iki thukúl margå kasurúng déníng ati drêngki srèi.
Kamångkå såpå kang ngadani ati drêngki lan panastèn iyå ing wêktu iku dhèwèké wiwít nyikså ing awaké dhéwé, lan uripé ora bakal bisa têntrêm.
Pitudúh : # 182
Samangsané kowé diclatu wóng kanthi sêngak åjå kók walês sanalika kanthi têmbúng (rêmbúg) kang sêngak lan atós.
Prayogå tanggapana måwå pakarti kang alús lan sarèh.
Jêr, yå klawan laku kang kåyå mangkono iku, kowé bisa ngêndhakaké watakkang panasbaran, lan bisa ngasóraké sipat kang lagi kasinungan iblís.
Pitudúh : # 183
Ing ngêndi dunungé pamarêm lan katêntrêman ?
Sakíng ungêlé mapanaké råså, nganti mèh ora ånå wóng rumångså marêm lan têntrêm uripé.
Sabanjuré banjúr kêpiyé ? Iyå kudu tlatèn ngolah budi.
Dóh ånå råså mèri lan drêngki amríh gorèhing pikír bisa tansah sumingkír.
Pitudúh : # 184
Têpå slirå lan mawas dhiri iku dadi óbóríng laku nggayúh rahayu, minångkå jimat paripíh tumraping ngauríp.
Munggahé biså nyêdhakaké råså asih lan ngêdóhaké watak drêngki lan dak-wênang marang sapêpadhané.
Srêgêp mawas dhiri atêgês bakal wêrúh marang kêkurangan lan cacadé dhéwé, saénggå wusanané thukúl grêgêd ndandani murih apiké.
Pitudúh : # 185
Kita iki kêjåbå ndarbèni badan wadhag lan pancadriya, ånå siji êngkas darbèk kitå kang ora kênå ginrayang lan ora kasat måtå, nangíng ajiné tan kênå kinåyå ngåpå, yåiku osikíng ati kang ajêg ngélikaké kita marang lurusing laku samångså kita kêtaman plêtikíng cípta ålå, munggahé katuwúhan krêntêg nindakaké laku ngiwå.
Mulå pomå-pomå, tansah bisowå ngrungókaké osikíng atimu, awít iku kang ngajak sapari-polahmu tumuju mênyang karahayóning urípmu.
Pitudúh : # 186
Nggayúh kaluhuran mono atêgês ngupåyå tataraníng uríp kang luwíh dhuwúr.
Yå dhuwúr ing bab lahiré, ugå ing batiné. Liré, síng murakabi kanggo dhiri pribadiné, sumrambahé tumrap bêbrayan agúng.
Såpå kang múng mligi nggayúh kaluhuraning lahír baé, atêgês múng mburu drajat, sêmat lan pangkat. Durúng aran jêjêg uripé.
Suprandéné såpå kang múng ngêmúngaké kaluhuraníng batín, atêgês ora nuhóni jêjêríng manungså ing alam donya, yaiku tumandang ing gawé.
Pitudúh : # 187
Akèh wóng kang sadurungé nyobå ngayahi pagawéyan wís dipantók dhisík sarånå têmbúng “Ah, aku ora biså”.
Dayaning têmbúng “Ora biså” satêmah numusi ora biså têmênan.
Awít êntèk-êntèkané pocap mangkono iku atêgês ngapêsaké awaké dhéwé.
Luwíh déné manéh banjúr lumúh ing pambudi.
Samubarang kang diudi ora bakal dadi.
Kang ora diluru tangèh bisané kêtêmu.
Mulå pêrcåyåå marang dhiri pribadi.
Cíptanên kanthi manthêng ing ati lan énggal makartiyå.
Kêkuwataning manungså iku dumunúng sajroníng cíptå, saugêr sinartanan pamarsudi klawan têmên-têmên.
Dayaníng ciptå cêtha bakal nêkakaké sêdyå.

Pitudúh : # 188
Aja sók nggrêsulå !, Wruhana yèn pangrêsulå iku sawijiníng målå, déné panggrêsah mono agawé bubrah.
Yèn wís nggrêsah padatané banjúr lali marang kêwajibané kang kudu diayahi sartå kêmba marang sadhêngah pakaryan.
Síng såpå ésúk-ésúk wís sambat ngaru-årå ing bab ngrêkasané anggóné uríp, wóng mau prêsasat mbutóni sumbêríng pangupå-jiwané dhéwé.
Ora trimå marang pandúm pêparingé Pangéran Kang Múrbèng Dumadi.
Pitudúh : # 189
Yèn kowé kêpingín mulyå urípmu, lakónan åpå kang kók gagas-gagas rikalané kowé nandhang sêngsårå utåwå lårå.
Awít ing mångså-mångså kåyå mangkono mau manungså banjúr kêtuwuhan budiné kang murni, yåiku watak kang sarwå kêbak wêlas-asíh lan ngêrti sêpirå pêrluné wóng kang tansah ambudi amríh åjå nganti nêmóni kacingkrangan.
Pitudúh : # 190
Wóng kang wís kinaran “suksès” iku, yaiku : wóng kang wís ngêtóg kadibdyané, ngudidåyå nganti kêcandhak gêgayuhan lan idham-idhamané laras karo kêpinginané.
Têkané “suksès” durúng atêgês tamatíng critå, nanging malah kudu tansah luwíh waspådå, prayítnå lan ngati-ati.
Jalaran adhakané wóng síng wís “suksès” iku banjúr kurang kaprayítnané, sêmbrånå lan gumampang ing sabarang tumindaké, kang lupút sêmbiré biså klênggak.
Mulå sawijiníng “suksès” iku anggêpan kayadéné sawijiníng pandadaran kanggo lêstariníng pênggayúh bêcík.
Pitudúh : # 191
Sabên wóng mono pancèn nduwèni nafsu.
Awít tanpå nafsu wóng ora bakal duwé krêkat kêpéngín maju.
Múng baé wóng kudu biså milah-milahaké nafsu êndi síng kudu dicandhêt, lan nafsu síng kêpriyé síng kudu diunggar.
Nafsu kang bakal nêkakaké bilahi tumraping awaké dhéwé lan wóng liyå kudu biså dicandhét, déné nafsu kang pêrlu diunggar yåiku nafsu kang êmpané tumuju marang karahayóníng sapådhå-pådhå.
Pitudúh : # 192
Hukúm alam wís nêtêpaké, såpå kang nandúr mêsthi ngundhúh.
Déné åpå kang diundhúh iya manut wijiné kang ditandúr.
Yèn síng ditandúr winíh alang-alang, ing têmbé iya åjå ngarêp-arêp yèn bisa bakal panèn pari, iku gênah nyalahi kodrat.
Mulå mumpúng isíh ésúk, nandura wiji cíptå lan pênggawé kang bêcík-bêcík.
Awít élingånå, yèn akèh sêthithík anak putu kita ugå bakal katut mèlu ngrasakaké paít gêtiré wóng kang bibité ditandúr déníng wóng tuwané.
Pitudúh : # 193
Såpå síng duwé panjångkå kudu wani jumangkah, jêr katêkaníng sêdyå iku múng biså maujúd mênåwå dilakóni lan ora nyimpang såkå katékadané.
Karêp lan sêdyå, jångkå lan panuwún, iku saumpama wóng lêlungan mono tumuju papan kang arêp diparani utåwå dijujúg.
Déné kêkarêpan iku kudu ånå kanthiné, yåiku nalar utåwå pêcahíng nalar. Jalaran kêkarêpan kang tanpå nalar iku ora bédå karo karêpé bocah cilík. Kêjåbå tanpå têgês, ugå sók tanpå wasånå, satêmah ora ånå dadiné.
Pitudúh : # 194
Sêbab-sêbab kang gawé cilikíng ati lan cêklèkíng sêmangat iku adhakané dumunúng ing gêgambarané pikiran kang sarwå nguwatiraké marang lêlakón kang durúng kêlakón, têmahané pikiran dadi pêtêng, lumúh ihtiyar lan kóncadan grêgêtíng makaryå.
Katimbang nyumêlangaké barang kang durúng biså ginrayang rak luwih bêcík åjå pêgat ing ihtiyar kanthi nênuwún marang sihíng Kang Múrbèng Kuwasa, jêr iyå múng Panjênêngané kang múrbawaséså uríp kitå iki. Klawan mangkono istingarah kowé ora bakal ngédhap ngadhêpi sakèhíng lêlakón.
Pitudúh : # 195
Kêrêp nggrêsah lan ngrêsulå iku nudúhaké karingkihané tékad. sênajan dingrêsulanan sêdinå píng pitulikúr, ora biså owah nasibé.
Nggrêsah lan ngrêsulå iku pådhå karo sambat.
Wóng sambat iku kênå baé, nangíng yèn isíh kêdugå åjå dhêmên sambat.
Ngrêsulå biså dadi målå, panggrêsah biså gawé bubrah, déné pisambat iku dalané wóng kang sênêng mlarat, jalaran sakèhíng gêgayuhan kang disangkani sarånå sambat mono adaté múng gayúk-gayúk tunå, åpå kang digayúh tanpå ånå kabúl wusanané.

Pitudúh : # 196
Dhasar prêmati tumraping wóng duwé tékad lan duwé gêgayuhan yaiku tékad budi santoså.
Sarana ndulu kåcåmåtå bênggålå kang kitå alami sabên dinå, têtêg kawêgigané pikír baé ora mujúdaké gaman pamungkas tumrap kasêmbadaníng sêdyå.
Mulå yèn múng ngêndêlaké marang punjúlíng nalar lan móncèríng kawrúh baé, tanpå mêngkóni ing budi santoså, atiné gampang miyar-miyur, gampang kasinungan ing watak sêsóngaran síng adhakané síng uwís-uwís banjúr kacênthók påncåbåyå, ubayané banjúr mbalénjani.
Pitudúh : # 197
Ora ånå tindak kang luwíh déníng mbêbayani lan ndrawasi marang awaké dhéwé, kêjåbå nindakaké pégawéyan kanthi srêmpêng síng juntrúngé múng ngoyak dêrêngé panguwåså, drajad lan båndhå.
Pakarti mangkono adaté ora mêmpan marang pitutúr bêcík lan panêmuné liyan kang wigati, anané múng råså mélík kang nggéndhóng lali.
Pitudúh : # 198
Siji-sijiníng margå amríh kalêksanané gêgayuhan iku yå kudu sarånå makarti.
Yèn kitå múng kandhêg marang ngunggar-unggar karêp lan nganggít-anggít gagasan baé, tibaníng ênggón múng kåyå ing pangimpèn.
Luwíh-luwíh mênåwå salaginé nggagas-nggagas mau kasêlak kêsusu ngrasakaké kanikmatané pêngangên-angên, wusånå tumús dadi lumúh ing gawé lan wêdi ing pakéwúh.
Pitudúh : # 199
Ngakóni kaluputan iku ora atêgês ngasóraké dhiri.
Nangíng sawijiníng tåndhå yêkti yèn wóng mau wís biså kinaranan maju satindak ing laku kautaman.
Kósókbaliné såpå kang suthík ngrumangsani kaluputané, atêgês wóng kang ora nduwèni budi pêkêrti.
Wóng kang ora nduwèni donyå brånå iku sinêbut mlarat.
Wóng kang ora nduwèni pikiran iku luwíh mlarat.
Déné wóng síng ora kadunungan budi pêkêrti mono klêbu mlarat-mlaraté wóng.
Pitudúh : # 200
Kang kók kandhakaké putíh iku durúng karuwan putihíng (suciníng) ati, biså ugå múng wujúd putihíng pupúr síng kandêl waråtå.
Lan síng kók kandhakaké abang iku durúng tinamtu abangíng (kêkêndêlaníng) bêbênêr nangíng biså ugå múng abangé lambé kang kêcónggah njlómpróngaké marang jurang kang jêro.
Déné síng kók kandhakaké rêsík, iku durúng mêsthi rêsikíng ati, nanging adaté múng wujúd rêsikíng sandhangan rinênggå ing sotyå abyór kang biså mblêrêngaké mripat.
Pitudúh : # 201
Ngunggar wêtuníng kêkêndêlan síng múng kadêrêng såkå dayaníng pangójók-ójók iku kêrêp ora murni.
Tandang lan trajangé kang akèh banjúr múng kabróngót panasbaran.
Wusanané malah sók bakal nunjang palang, bêbathéné kósók balèn karo kang sinêdyå. Mulå minångkå gêgóndhèlané kapitayan, kêkêndêlan iku prayoga kadhasarana råså sumungkêm marang Kang Múrbèng Dumadi, niyat lêladi marang sapêpadhané titah.
Yèn wís mangkono sakèhíng cak-cakané pakarti mêsthi tansah patitís lan mikolèhi.
Pitudúh : # 202
Têtêpíng råså kamanungsan iku ora margå såkå kawrúh lan kapíntêran kang wís dianggêp luwíh luhúr ing salumahé bumi, nangíng múng jalar såkå kadunungan têlêsíng råså asíh marang sapêpadhaning tumitah.
Déné råså åsíh mau ciniptå såkå patrap anggóné rêkså-rumêkså lan sugíh ing pangapurå sartå tansah kinanthênan pangucap lan pasêmón síng bisa gawé rêsêp lan ora natóni atiníng liyan.
Kawruhånå, mênåwå kapintêran kang ora kinanthènan kautaman iku sêjatiné luwíh mbêbayani tumrapíng bêbrayan katimbang karo bodho kang linambaran ing budi rahayu.

Pitudúh : # 203
Nglêngkårå wóng biså luwar babar pisan såkå panggodhå.
Sêbab, sumbêré panggodhå iku ora liyå iyå múng såkå awaké dhéwé.
Sing såpå múng nyingkiri panggodha kang kasat måtå baé, ora dibêdhól têkan óyód-óyódé, adhakané bakal kêtaman pakéwúh lan godhå kang luwíh gêdhé manèh.
Sók ngonowå yèn wóng tlatèn lan sarèh, kanthi kêncêngíng tékad kang gilíg, mêsthi bakal bisa mêntas såkå rêridhu.
Åjå múng mandhêg ing panggrantês, nutúh awaké dhéwé, åpå manèh yèn nganti nguman-uman marang wóng liyå.
Pitudúh : # 204
Yèn ing donyå iki manungsané síng sugíh uripé ora mbêthithil, kêpårå malah dhêmên têtulúng marang kang kêcingkrangan, déné sing duwé kêpintéran adóh såkå karêp kanggo mintêri liyan, kêpårå malah dadi papan jujugané wóng têtakón, gênah kahanané donyå bakal ayêm têntrêm, adóh såkå rêridhu lan kalís såkå godha rêncånå.
Pitudúh : # 205
Wóng kang lagi karêjêkèn åjå kadúk anggóné bungah, kósókbaliné åjå kadúk nêlångså samangsané nêmahi rêribêd lan nandhang susah, gêdhéné nganti nggêtuni barang kang wís kêlakón.
Awít kadúk bungah mau bakal ngilangi kaprayítnan, kadúk susah njalari ati tansah kêmbå, lan tangèh lamún bisa uwal yèn ora dibudèni sarånå tumandang makaryå.
Pitudúh : # 206
Yèn darbé karêp lakónana kanthi gêmblèngíng tékad kang nyawiji, adhêpånå sarånå makarti kang madhêp lan mantêp.
Sanguné kudu ati síng tatag, ora ngêdhap nadyan mangêrti yèn dalan kang diambah kêbak parang curi.
Yèn tansah rongèh lan rangu-rangu, atêgês múng wani ing gampang, wêdi ing pakéwúh, samubarang kang sinêdyå ora bakal ginayúh.
Pitudúh : # 207
Manungså iku bisa kinaranan uríp yèn isíh duwé karêp lan pangarêp-arêp.
Nangíng yèn karêp mau múng kandhêg ing pangangên-angên lan gagasan baé, ora bédå manungsa kang mati sajroné uríp.
Kósókbaliné yèn anggóné nandangi karêpé mau kasêlak kêsusu nikmati pikolèhé kang durúng klakón, gênah anggóné makarti múng anggêr baé.
Kêpårå bakal mundúr yèn ngadhêpi pakéwúh, satêmah dadi wóng lumúh.
Pitudúh : # 208
Wóng kang kêbak déníng pêpinginan iku adaté banjúr ngångså-ångså, mulå lakuné ugå banjúr miyar-miyur.
Kêpêngkók gawé sêthithík baé síng digêdhèkaké pangrêsulané, tundhóné atiné gampang pêpês lan nglokro.
Bédå karo wóng kang wicaksana uripé mêsthi måwå tékad lan tujuwan.
Bêbasan tiba kapíng pitu gumrêgah tangi kapíng wólu ngrungkêbi tékad lan tujuwané.
Pitudúh : # 209
Anggêr wóng wís mêsthi suthík diarani cupêt nalaré, cilík atèn, lan kêndho tékadé. Mulané yèn darbé karêp åjå mundúr mêrgå lupút sêpisan pindho baé, prayogå ambalånå manèh nganti katêkaníng sêdyå.
Samubarang pêgawéyan mênåwå kók têmêni wiwít saiki mêsthi bakal bisa ngundhúh bagéyan lan kauntungan.
Åpå kang kók sêdyå bakal tumêkå, pituwasé lagi kêtêmu mburi.
Pitudúh : # 210
Sarupané pakaryan kang wís kók yakini bêcikíng asilé tumuli énggala katindakna, åjå ngêntèni liyå wêktu.
Jêr kêkêncêngan sartå kêkarêpan iku yèn diêndhé-êndhé ora mundhak kuwaté.
Nangíng malah mundhak ringkíh lan biså ugå ilang dayané.
Sipat sênêng ngêndhé-êndhé iku mujúdaké dalan kang anjóg marang watak ora antêpan lan kêsèd, sungkan ing gawé síng tundhóné dadi tanpå aji uríp ing bêbrayan.

Pitudúh : # 211
Wóng kang sinêbút bêrbudi uríp ing bêbrayan iku ora múng wóng kang rumångså kasíkså nyumurupi sapêpadhané síng nandhang påpå, nangíng wóng kang gampang runtúh wêlasé kang tinumbalan runtuhíng barang darbèké lan dêduwèné kanggo têtulúng marang wóng síng kacingkrangan lan kasangsaran.
Nangíng kang kåyå ngono mau pancèn angèl golèk-golèkané.
Tåndhå yêktiné ing alam donyå iki ora sêthithík wóng síng mati margå kuwarêgên, lan akèh wóng síng mati marga kalirên.
Pitudúh : # 212
Wóng mono åjå múng tumandang anggêr barès nangíng kanthi laku kang ora bèrès. Dibiså tansah milah-milahaké êndi síng kêncêng lan êndi síng nalisír såkå paugêran, sartå kulinakna nyirík marang pênggawé musyrík, sinúng marang watak tulús lan ngukuhi kajujuran.
Kawruhana, mênåwå ora ånå pusåkå kang ampuhé ngluwihi kajujuraning ati lan wêningíng pikír kang sêpi ing pamríh.
Pamrihé múng sawiji, yåiku mangan karahayóning bêbrayan, ngluhúraké kamulyaning bangsa lan nagara.
Pitudúh : # 213
Pangråså, pikiran lan kêkarêpan iku tansah mbudidaya rêbut unggúl lan rêbút panguwåså anggóné murbå sapari polahé manungså.
Pangråså êmóh diungkuli pikiran.
Pikiran sêmono ugå suwaliké.
Wóndéné kang móncól dhéwé sumêdyå mbalap ora gêlêm dipêkak yaiku kêkarêpan.
Mulå wajibíng manungsa kudu biså ngukuhi sifat manungsané.
Dèn sranani kanthi nanjakaké uripé mèlu ngrasakaké lan mêmikír marang ombak umbulíng jaman.
Tumandang ing gawé ngêsthi marang rahayuníng bêbrayan munggahé marang ajuníng jaman.
Pitudúh : # 214
Sêlawasé uríp nglêngkårå wóng biså uwal babar pisan såkå panggodha, jêr panggodhå iku sumbêré ora liya yå såkå awaké dhéwé.
Asalé tumuwúh såkå uwóhíng pikír kang ngayåwårå, banjúr katarík marang kêkarêpan ålå kang wusanané mbabaraké pakarti nisthå.
Såpå kang wiwitané énggal tumandang nanggulangi panggodhå, bakal mundhak kasampurnané lan patut sinêbút wóng kang santoså ing budi.
Balík kang såpå tansah ngujå panggoda sêmåyå nanggulangi, kêkuwatan batiné såyå lungkrah, bakalé bubrah dadi lêlêthêging jagad.
Pitudúh : # 215
Wóng nandúr pari iku bakal ngundhúh pari, ora bakal ngundhúh jagúng utawa kacang.
Sêmono ugå pikiraníng manungså, ora bédå karo mau.
Yèn pikiran kita tansah kitå kulinakaké lan kitå pigunakaké kang bêcík-bêcík yå bakal nduwèni dåyå kêkuwatan kang bêcík, satêmah biså awèh pakaryan kang pêngaji tumraping bêbrayan.
Mulå katimbang nggagas kang ora-ora lan ngayawara, prayogané nggagaså marang laku utåmå lan múlyå.
Lan luwíh utama manèh mênåwå gagasan kang mangkono mau diwêdharaké dadi pakarti pisan.
Pitudúh : # 216
Råså was sumêlang iku nêrakané wóng síng arêp nggayúh kêmajuan.
Såpå kang wís kêtaman råså iki salawasé ora bakal biså maju.
Ing sabarang tandang tanduké sarwå tidhå-tidhå lan tansah awang-awangên ngadhêpi kangèlan kang bakal mêmalangi laku.
Kósókbaliné tékad iku rasa cíptaníng karså kang wís gêmblèng.
Dadi yèn ånå kêpénak lan orané bakal didhadhagi lan ditêrjang wani.
Kang pinandêng múng bakal têkaning sêdyå.
Nangíng tékad mono bédå bangét karo nékad, jêr nékad kuwi uwóhíng pakarti kang tuwúh såkå kajudhêganíng nalar síng tundhóné kêconggah tumindak nistha, mêrgå kóncadan pêpadhang.
Pitudúh : # 217
Abótíng abót iku ora kåyå yèn kudu nuruti préntah lan pitutúr.
Pait lan ngrêkåså dikåyå ngåpå préntah lan pitutúr iku prayogå lakónånå baé.
lng suwaliké barang pait mau, kowé mêsthi bakal nêmu barang lêgi síng ora klêbu ing pêtunganmu.
Pancèn luwíh prayogå paité dhisík, tinimbang lêginé.
Awít bisané kowé ngrasakaké lêgi iku rak margå kowé wís ngrasakaké pait.
Biså níkmati kabungahan margå wís naté ngalami nandhang kasusahan.
Pitudúh : # 218
Wóng kang múng dhêmên cêlathu lan muni-muni, mangkå ora gêlêm tumandang gawé, gênah ora sumurúp marang kaluputané cêlatuné, sabab cêlathu mono múng obahíng ati kang ånå ing lati, dudu obahing tangan síng kanggo tumandang.
Nangíng yèn wís tumandang gawé dhéwé, cêthå bakal mêruhi marang luputíng cêlathuné.
Mulå saibå bêgjané wóng kang biså cêlathu klawan énggal-énggal tumandang gawé dhéwé.

Sample Image

MEMAYU HAYUNING BEBRAYAN

Pitudúh : # 219
Síng såpå ngidham kaluhuran kudu wani kúrban lan ora wêgah ing kangèlan.
Mêrgå yèn tansah tidhå-tidhå, mokal åpå sing kagayúh bisa digånthå lan tangèh lamún åpå síng diluru bisa kêtêmu.
Makarti wani rêkåså kanthi masrahaké urip lan jiwå rågå marang Kang Múrbèng Kuwåså.
Yèn kêpingín mênang pancèn larang patukóné, yaiku kudu bisa nuhóni sêsanti: “Surå dirå jayaníngrat lêbúr déníng pangastuti”.
Pituduh : # 220
Isíh bêjå yèn kowé diunèkaké “Ora Lumrah Uwóng”, jalaran isíh dianggêp manungså.
Yå múng solah tingkahmu kang kudu kók owahi amríh ora gawé sêrikíng liyan.
Cilakané yèn diunèkaké “Ora Lumrah Manungså”, jalaran kowé dianggêp sétan gêntayangan síng múng dadi lêlêthêging jagad margå pakartimu kang ninggal sifat kamanungsan.
Mula énggal-énggala sumujudå marang Gusti Kang Múrbèng Dumadi.
Sifaté Gústi Allah mono sarwå wêlas asíh marang umaté kang wís sadhar marang doså-dosané sartå têmên-têmên bali tuhu marang dhawúh-dhawuhé.
Pitudúh : # 221
Ora ånå pênggawé luwíh déníng múlya kêjåbå dêdånå síng ugå atêgês mbiyantu nyampêti kêkuranganing kabutuhané liyan.
Dêdånå marang sapêpådhå iku atêgês ugå mitulungi awaké dhéwé nglêlantih marang råså lilå lêgåwå kang ugå atêgês angabêkti marang Pangéran Kang Måhå Wikan.
Pancèn pangabêkti mono wís aran pasrah, dadi kitå ora ngajab marang baliné sumbangsih kang kitå asúngaké.
Kabèh iku síng kagungan múng Pangéran Kang Måhå Kuwåså, kitå ora wênang ngajab wóhíng pangabêkti kanggo kitå dhéwé.
Nindakaké kabêcikan kanthi dêdånå kita pancèn wajíb, nanging ngundhúh wóhíng kautaman kitå ora wênang.
Pitudúh : # 222
Mêmitran pasêduluran nganti jêjodhowan kuwi yèn siji lan sijiné biså êmóng-kinêmóng, istingarah biså sêmpulúr bêcík. Yèn ånå padudón sêpisan pindho iku wis aran lumrah, bisa nambahi rakêtíng sêsambungan. Nangíng suwaliké yèn pådhå angèl ngênggóni sifat êmóng-kinêmóng mau gênah långkå langgêngé, malah bédaníng panêmu sithík baé biså marakaké dhahuru.
Pitudúh : # 223
Wóng kang ora naté nandhang prihatin ora bakal kasinungan råså pangråså kang njalari têkané råså trênyúh lan wêlas lahír batiné.
Wóng kang wís naté kêtaman ing prihatin luwíh biså ngrasakaké pênandhangé wóng liya. Mulå adhakané luwíh gêlêm awèh pitulungan marang kang kasusahan.
Pitudúh : # 224
Sarupaníng wêwadi sing ålå lan sing bêcík, yèn isíh kók gémból lan mbók kêkêt kanthi rêmít ing ati salawasé isih bakal têtêp dadi batúr.
Nangíng yèn wís mbók kétókaké sathithík baé bakal dadi bêndaramu.
Isíh lagi nyimpên wêwadiné dhéwé baé wís abót.
Åpå manèh yèn nganti pinracåyå nggêgêm wêwadiné liyan.
Mulå såkå iku åjå sók dhêmên kêpingín mêruhi wêwadiné liyan.
Síng wís cêthå múng bakal nambahi sanggan síng sêjatiné dudu wajíbmu mèlu opèn-opèn.
Pitudúh : # 225
Sók såpåå bakal nduwèni råså kúrmat marang wóng kang tansah katón bingar lan padhang polatané, nadyan tå wóng mau nêmbé baé nandhang susah utåwå nêmóni pêpalang ing panguripané.
Kósókbaliné, wóng kang tansah katón suntrút kêrêp nggrundêl lan grênêngan mêrgå ora katêkan sêdyané iku cêthå bakal kóncatan kêkuwataníng batín lan tênagané, tangèh lamún éntukå pitulungan, kêpårå malah dadi sêsirikaníng mitra karuhé.

Pitudúh : # 226
Kitå iki diparingi cangkêm siji lan kupíng loro déníng Kang Måhå Kuwåså, liré mêngku karêp amríh kitå iki kudu luwíh akèh ngrungókaké katimbang micårå.
Yêktiné wóng kang dhêmên ngumbar cangkêmé tinimbang kupingé iku adaté wicarané gabúg.
Suwaliké síng akèh ngrungókaké, wicarané sêthithík nangíng patitís lan mêntês.
Pantês dadi jujugané sadhêngah wóng kang mbutúhaké rêmbúg kang prayogå.
Pitudúh : # 227
Wóng kang tansah dhêmên ngupíng kêpingín wêrúh, åpådéné nyampuri pêrkarané liyan, gêdhéné nganti nrambul urún ucap, iku pådhå karo golèk-golèk mómótan kang sêjatiné ora prêlu, adhakané kêpårå malah ngrêridhu awaké dhéwé.
Pitudúh : # 228
Ucap sakêcap kang kêlaír tanpå pinikír kêrêp baé nuwúhaké drêdah lan bilahi.
Mula wêtuné têmbúng satêmbúng såkå lésan iku prayogå tan udinên aja nganti nggêpók prêkarané wóng liyå, gêdhéné nganti gawé sérikíng liyan. Biså nyandhêt uculé pangucap kåyå mangkono mau wís klêbu éwóníng pakarti kang utåmå.
Nangíng généyå kók ora sabên wóng biså nglakóni ?
Pitudúh : # 229
Wóng iku yèn wís kasókan kabêcikan lan rumangsa kapotangan budi, ing sakèhíng pakartiné lumrahé banjúr ora kêncêng lan rêsík.
Mulané tangèh lamún yèn biså njågå jêjêgíng adíl, awít lésané kasumpêtan, mripaté bêrêng, kupingé budhêg. Atiné dadi mati, angèl wêrúh ing bêbênêr.
Mulå såkå iku åjå gumampang nåmpå kabêcikané liyan, samångså tujuwané ngarah marang pênggawé kang nalisír såkå bêbênêr.
Pitudúh : # 230
Åjå kasêlak kêsusu nyêpèlèkaké liyan, margå kók anggêp wóng mau bodho.
Awít ånå kalamangsané kowé mbutúhaké rémbúg lan pituturé wóng iku, síng kanyatané biså mbéngkas lan nguwalaké såkå karuwêtanmu.
Pancèn ing sawijiné bab wóng biså kaaran bodho, nangíng ing babagan liya tangèh lamún yèn kowé biså nandhingi.
Pitudúh : # 231
Yèn micårå åjå gumampang nêlakaké pênacad utawa pangalêm, luwíh- luwíh nganti mêmaóni.
Awít wicaramu durúng karuwan bênêr.
Síng mêsthi panacad mau gawé sêrík, pangalêmé nuwúhaké wiså, déné waónané ora digugu, kabèh swårå ålå.
Mulå kang prayogå iku múng mênêng, jalaran mênêng iku yêktiné pancèn mustikaníng ngauríp.
Pitudúh : # 232
Udinên ing alam donya iki åjå ånå wóng kang kók sêngiti, supaya ora ånå wóng sêngít marang kowé, balík sabiså-biså pådhå trêsnanånå.
Amargå lêlakón ing alam donya iki anané múng walês-winalês baé.
Déné yèn kêpêkså kowé sêngít marang sawijiníng wóng, mångkå kowé ora biså mbuwang sêngítmu, gawénên wadi åjå ånå wóng kang ngêrti.
Yèn kowé ngandhakaké sêngítmu marang liyan, prasasat kowé mamèraké alané atimu.
Pitudúh : # 233
Ajiníng dhiri ånå ing lati.
Ajiníng rågå ånå ing busånå.
Mula dèn ngati-ati ing pangucapmu, sêmono ugå anggónmu ngadi busånå kang bisa mapanaké dhiri.
Pitudúh : # 234
Wóng pintêr kang isih gêlêm njalúk rêmbugíng liyan iku dianggêp manungsa utúh.
Såpå síng rumangsa pintêr banjúr suthík njaluk rêmbuging liyan kuwi manungsa sêtêngah wutúh.
Lan síng såpå ora gêlêm njalúk rêmbugíng liyan, iku bisa kinaranan babar pisan durúng manungså.

Pitudúh : # 235
Yèn atimu wis gilíg arêp gawé kabêcikan kanggo karaharjaníng bêbrayan, bêratên råså uwas marang pandakwå ålå kang ora nyåtå.
Srananånå kanthi jêmbaríng dhådhå lan sabaríng nålå, amríh bisa nuwúhaké gêdhéníng prabåwå lan cabaríng sakèhíng piålå.
Pitudúh : # 236
Wicårå kang wêtuné kanthi tinåtå runtút kang awujúd sêsulúh kang amót piwulang bêcík, ajiné pancèn ngungkuli mas picís råjåbrånå, biså nggugah budi lan nguripaké pikír. Nangíng kawuningånå yèn grêngsênging pikír lan uripíng jiwå iku ora biså yèn múng kagugah sarånå wicårå baé.
Kang wigati yaiku wicårå kang måwå tandang minångkå tulådhå.
Jêr tulådhå mono síng biså nuwúhaké kapitayan.
Luwíh-luwíh mungguhíng pårå manggalaníng pråjå kang wís pinracåyå ngêmbani nuså lan bångså.
Pitudúh : # 237
Luwíh bêcík ngasóraké rågå tinimbangané ngóngasaké kapintêran kang sêjatiné isíh nguciwani bangêt.
Ngóngasaké kapintêran iku satêmêné múng kanggo nutupi kabodhowané, jêr kabèh mau mêrga råså samar lan was sumêlang yèn ta kungkulan déníng sapêpadhané.
Tindak mangkono mau malah dadi sawijiníng godhå kang múng bakal ngrêrêndhêti lakuníng kêmajuwané dhéwé ing jagadíng bêbrayan.
Pitudúh : # 238
Såpå wóngé síng ora sênêng yèn éntúk pangalêmbånå. Nangíng thukulíng pangalêmbånå iku ora gampang.
Kudu disranani kanthi pakarti kang bêcik lan murakabi marang wóng akèh.
Yèn múng disranani båndhå, pangalêmbanané múng kandhêg ing lambé baé ora tumús ing ati.
Déné yèn disranani pênggawé kang lêlamisan, ing pamburiné malah bakal kasingkang-singkang kasingkíraké såkå jagadíng pasrawungan.
Pitudúh : # 239
Généyå akèh wóng kang dhêmên nyatur alaníng liyan lan ngalêmbånå awaké dhéwé? Sêbabé ora liya margå wóng-wóng síng kåyå ngono mau ora ngêrti yèn pênggawé mau klêbu pakarti kang ora prayogå, mula prêlu dingêrtèkaké.
Awít yèn ora énggal-énggal nyingkiri pakarti kang ora bêcík mau, wusanané dhèwèké kang bakal diêmóhi déníng pasrawungan.
Pitudúh : # 240
Nggayúh kaluhuran liré ngupåyå tataraníng uríp kang luwih dhuwúr.
Dhuwúr laír lan batiné, ya tumrap dhiri pribadiné ugå sumrambah kanggo karaharjaníng bêbrayan.
Nangíng yèn kandhêg salah siji, têgêsé gothang.
Yèn múng nêngênaké kaluhuraníng laír gênah múng ngoyak drajat lan sêmat, isíh miyar-miyur gampang kênå pangaribåwå såkå njåbå.
Yèn ngêmúngaké kaluhuraníng batín, cêtha ora nuhóni jêjêríng manungsa, awít ora tumandang ing gawé kanggo kêpêrluwaníng bêbrayan.
Atêgês tanpå gunå diparingi uríp ing alam donya.
Pitudúh : # 241
Sing såpå rumangsa nduwèni kaluputan, åjå isín ngowahi kaluputan sing wís kadhúng katindakaké mau.
Jêr ngakóni kaluputan mono wís cêthå dudu tindak kang asór, nangíng malah nuduhaké marang pakarti kang utåmå kang ora gampang linakónan déníng sadhêngah wóng.
Iyå wóng kang wis biså nduwèni watak gêlêm ngakóni kaluputané mangkéné iki pantês sinêbút wóng kang jujúr sartå kasinungan ing budi luhúr.
Pitudúh : # 242
Manungså uríp iku dibiså nguwasani kamardikaníng laír lan batín.
Kang dikarêpakê kamardikaníng laír iku wujudê biså nyukupi kabutuhaning uríp ing sabên dinanê såkå wêtuning kringêt lan wóhíng kangèlan dhêwê ora gumantúng ing wóng liyå lan ora dadi sangganíng liyan.
Dênê kamardikaníng batín iku dicakakê sarånå nyingkiri håwå napsu, adóh såkå asór lan nisthaníng pambudi, sêpi ing råså mêlík lan drêngki srèi, sartå tuhu marang paugêran uríp bêbrayan.

Pitudúh : # 243
Ora ånå wóng kang ingaranan uríp, kêjabanê kang mikír sartå trêsnå marang wóng kang ringkíh lan nandhang påpå cintråkå.
Biså mèlu ngrasakakê kasusahanê sartå lårå lapanê wóng liyå.
Kanthi pangråså kang mangkono mau atêgês biså nggadhúh kêkuwatan kang tanpå watês, pêrlu kanggo mitulungi sapådhå-pådhå kang kahananê luwíh nrênyúhakê katimbang dhiri pribadinê. “Pakarti mono darbèk kita dhêwê, nanging wóhê pakarti mau dadi kagunganê Kang Gawê Urip”, mangkono sabdanê sawijinê Pujånggå kalokå.
Pitudúh : # 244

Wóng kang baút mawas dhiri iku wóng kang biså manjíng ajúr ajèr, ngêrti êmpan papan laras karo rèh swasånå sakupêngê tanpå ninggalakê subåsitå.
Paribasanê wóng kang baút ngadisarirå, åjå múng kalimpút êdiníng busånå baê, nangíng bisowå tansah mêrsudi marang padhangíng sêmu lan manisíng wicårå tanpå nglírwakakê marang alús lan luwêsíng solah båwå.
Pitudúh : # 245

Kêcandhakíng sawijiníng idham-idhaman iku ora cukúp múng dibandang móncèr lan pêpakíng ilmu lan kawrúh baê.
Nangíng ånå syarat siji kang ora kênå kalirwakakê, yaiku kapintêran ing bab sêsrawungan.
Såpå kang bisa tumindak ajúr-ajèr lan biså nuwúhakê råså rêsèp marang liyan, prasasat wis êntúk pawitan kanggo nandangi sakèhíng pagawêyan åpådênê nggayúh idham-idhamanê.
Pitudúh : # 246

Nindakakê kabêcikan mono ora mêsthi kudu cucúl wragad, nanging biså ditindakakê sarånå pakarti-pakarti liyanê sing sêjatinê akèh bangêt caranê.
Saugêr biså gawê sênênging liyan, upamanê baê måwå ulat sumèh tangkêp srawúng kang sumanak, bisa manjíng ajúr-ajèr ing madyaníng bêbrayan, lan biså dadi patuladhan laku utåmå.
Kabèh mau klêbu êwóníng tindak kabêcikan kang ajinê nglêluwihi wragad dêdånå kang diwènèhakê utåwå dipotangakê, apamanèh lamún anggónê mènèhi utåwå ngutangi iku sinamudånå kêbak pamríh.
Pitudúh : # 247

Yèn kowê arêp rêmbugan, pikirên luwih dhisík têtêmbungan síng arêp kók wêtókakê. Åpå wís ngênggoni têlúng prêkårå : bênêr manís, migunani.
Êwå sêmono síng bênêr iku isih pêrlu dithinthingi manèh yèn gawê gêndranê liyan prayogå wurúngnå.
Dênê têmbúng manís mono ora duwê pamríh, pamrihê biså gawê sênêngê liyan kang tundhónê migunani tumrapê jagadíng bêbrayan.
Pitudúh : # 248

Sugíh ómóng kanggo nggayêngakê pasamuwan pancèn apík.
Nangíng ngómóng múng golèk suwurê awakê dhêwê sók kêtrucút miyak wêwadinê dhêwê.
Pirå baê cacahê wóng kang kêplèsèt uripê múng margå sukå anggónê sugíh ómóng.
Mulå sabêcik-bêcikê wóng iku ora kåyå wóng kang mênêng.
Nangíng mênêngê wóng kang darbê bóbót kang antêb síng biså dadi panjujuganê pårå pawóngan kang mbutúhakê rêmbúg lan pitudúh.
Pitudúh : # 249

Ing jagadíng sêsrawungan mono nyirík marang sêsipatan kang gumêdhê lan wêwatakan kang tansah ngêgúngakê dhiri.
Sipat lan wêwatakan mau adhakanê banjúr nuwúhakê råså ora lilå yèn nyipati ånå liyan síng luwíh katimbang dhèwèkê.
Mulå saibå bêcikê samångså såpå kang rumangsa pintêr dhêwê, sugíh dhêwê, lan kuwåså dhêwê iku gêlêma nglaras dhiri lan nglêrêmakê cíptanê kang wêning, yèn sêjatinê isíh ånå manèh kang Måhå Pintêr, Måhå Sugih, lan Måhå Luhúr.
Klawan mangkono råså pangråså dumèh lan takabúr kang dadi sandhungan pasrawungan biså sumingkír.
Pitudúh : # 250
Luwih bêcík makarti tanpå sabåwå kang anjóg marang karahayóníng bêbrayan, katimbang tumindakê wóng kang rêkanê nindakakê panggawê luhúr nangíng disambi udúr.
Yêktinê tåtå têntrêm iku ora bakal biså kagayúh yèn tå ora adhêdhasar kêrukunan, dênê kêrukunan iku múng biså kêcandhak yèn siji lan sijinê pådhå biså aji-ingajènan lan móng-kinêmóng.

Pitudúh : # 251
Yèn kêpéngín diajèni liyan, mulå åjå sók dhêmên martak-martakaké, åpå manèh nganti mamèraké kabisan lan kaluwihanmu.
Pangaji-ajiníng liyan iku sêjatiné ora pêrlu mbók buru, bakal têkå dhéwé. Nudúhaké kêwasisan pancèn kudu bisa milíh papan lan êmpan.
Mulå kang prayoga kêpårå purihên åjå kóngsi wóng liyå biså njajagi.
Nangíng mångså kalané ngadhêpi gawé parigawé kêconggah mrantasi.
Pitudúh : # 252
Åjå sók ngluputaké, gêdhéné ngundhat-undhat wóng liyå, samångså kitå ora katêkan åpå kang dadi kêkarêpan kitå.
Bêciké kitå tliti lan kitå golèki sêbab-sêbab ing badan kita dhéwé, amrih kitå biså uwal såkå dayaníng pangirå-irå kang ora prayogå.
Kawruhana, yèn usadané watak apês síng njalari nganti ora katêkan sêdyå kitå iku, ora ånå liya, yå dumunúng ånå ing awak kita dhéwé.
Pitudúh : # 253
Arang wóng síng bisa mapanaké råså narima marang åpå baé kang wís klakón digayúh. Yèn rumangsa kurang isíh golèk wuwúh, yèn wís olèh banjúr golèk luwíh, yèn wís luwíh tumuli mbudidåyå åjå ånå wóng síng biså madhani.
Wóng kang duwé råså mangkono mau satêmêné mêmêlas.
Uripé tansah ngångså-ångså, ora naté sumèlèh atiné.
Kanggo nuruti råså kang klèru kasêbút sók-sók banjúr tumindak ora samêsthiné lan nalisír såkå pakarti kang bênêr.
Pitudúh : # 254
Watak narimå mono yêkti dadi sihíng Pangéran, nangíng yèntå nganti klèru ing panyuråså biså nuwúhaké klèruníng tumindak.
Narimå, liré ora ngångså-ångså nangíng ora kurang wêwékå lan tansah mbudidåyå amríh katêkaning sêdyå, dudu atêgês kêbacút lumúh ing gawé, suthík ihtiyar.
Awít yèn mangkono ora jênêng narimå, nagíng kêsèt. Jêr watakíng wóng kêsèt iku múng gêlêm énaké êmóh rêkasané, gêlêm ngêmplók suthík tómbók, satêmah dadi wóng ora wêrúh ing wirang, siningkiraké såkå jagadíng bêbrayan.
Pitudúh : # 255
Wóng uríp ing alam bêbrayan iku yêkti angèl, kudu biså ngêrèh pakóné “si aku”, åjå nggugu karêpé dhéwé lan nuruti håwå napsu.
Luwíh-luwíh ing dinå samêngko, alam bêbrayan donyå tansah kêbak pradhóndhi, silíh ungkíh, rêbutan bênêré dhéwé-dhéwé.
Mulå síng baku, wóng uríp kudu biså miyak alíng-alíng kang nutupi pikiran kang wêníng. Liré, sênajanå sajroníng pasulayan, kudu bisa nyandhêt kêmrungsung “si aku” istingarah sakèhíng bédané panêmu biså disawijèkaké.
Pitudúh : # 256
Wóng kang nduwèni watak tansah njalúk bênêré dhéwé iku adaté banjúr kathukulan bêndånå sênêng nênacad lan ngluputaké marang panêmu sartå tindak tanduké wóng liyå. Méndah bêciké yèn wóng síng kåyå mangkono mau kålå-kålå gêlêm nggraitå ing njêro batiné : “mbók mênåwå aku síng klèru, mulå cobå dak tlitiné klawan adíl såpå kang sêjatiné nyåtå-nyåtå bênêr”.
Pitudúh : # 257
Rêsêpíng omah iku ora dumunúng ing barang-barang méwah kang larang rêgané, nangíng gumantúng marang panataníng prabót kang prasåjå, sartå pêmasangé rêrênggan kang adóh såkå watak pamèr.
Sêmono ugå rêsêpíng salirå iku ora margå såkå pacakan kang èdi-pèni, nangíng gumantúng ing sandhang pênganggo kang prasåjå, trapsilå solah båwå, lan padhanging polatan.
Pitudúh : # 258
Yèn kowé kêpênêr lagi srêngên lan nêsu, prayogané wóng síng kók nêsóni lan kók srêngêni mau kóngkónên énggal sumingkír.
Utåwå kowé dhéwé sumingkirå sauntårå, aja têtêmónan karo wóng liya.
Sabanjuré mênêngå lan étúng-étúngå kanthi sarèh wiwít siji têkan sêpulúh.
Klawan mêngkono atimu bakal bisa nimbang-nimbang åpå nêsu lan srêngênmu marang wóng mau bênêr, åpå malah dudu kowé dhéwé síng lupút.

Pitudúh : # 259
Jênêng tanpå gunå uripíng manungså kang nganti ora biså nyumurupi marang kang kêdadéyan ing sakiwå têngêné.
Ora biså asúng lêlimbangan lan pamrayogå sakadharé kanggo karahayóníng bêbrayan.
Rupak pandêlêngé ora ånå liyå kang disumurupi kajåbå uripé dhéwé.
Mati pangrasané, jalaran ora kulina kanggo ngrasak-ngrasakaké kang katón ing sabên dinané, wusana dadi cêthèk budiné, jalaran såkå kalêpyan marang têpå palupi kang maédahi ing uripé.
Pitudúh : # 260
Åjå sók nyênyamah luputíng liyan, luwíh bêcík tudúhnå kaluputané kang malah biså ngrumakêtaké råså pasêduluran.
Éwåsêmono åjå nganti kowé kêsusu mbêcíkaké kêlakuwané liyan, yèn awakmu dhéwé rumångså durúng biså ngênggóni råså sabar lan têpa sêlirå.
Såpå kang wís ngêrti lan ngrumangsani marang sakèhíng dosané, iku sawijiníng wóng kang wís ngêrti marang jêjêríng kamanungsané, manungsa kang utåmå.
Pitudúh : # 261
Ajiníng manungså iku kapúrbå ing pakartiné dhéwé, ora kagåwå såkå katurunan, kapintêran, lan kasugihané.
Nangíng gumantúng såkå ênggóné nanjakaké kapintêran lan kasugihané, sartå matrapaké wêwatêkané kanggo kêpêrluan bêbrayan.
Kabèh mau yèn múng katanjakaké kanggo kapêrluwané dhéwé, tanpå paédah.
Nangíng yèn pakarti mau kadayan déníng råså pêpinginan golèk suwúr, golèk pangkat lan donya brånå, malah bisa dadi mêmalaníng bêbrayan, jalaran nyinamudana sarånå nylamúr migunakaké jênêngé wóng akèh. Pitudúh : # 262
Ora ånå budi kang luwíh luhur saliyané nduwèni råså asíh marang nuså lan bangsané.
Kadunungan råså rumangsa nduwèni sêsanggêman lan kuwajiban mranåtå têntrêmíng pråjå kanthi pawitan kapintêran kang dilandhêsi kawicaksananing pambudi.
Tåndhå yêktiné yèn asíh, yaiku tansah samaptå tumandang sawayah-wayah yèn ånå parigawé kang wigati kanggo wargå sapådhå-pådhå, munggahé tansah samaptå lêladi kanggo kêslamêtaníng bêbrayan lan karaharjaníng nagårå.
Pitudúh : # 263
Wóng kang kêrêp tansah dipituturi wóng liya iku adaté bisa dadi wóng dhêmên ngati-ati, nangíng mênåwå kapêngkók ing pêrlu sók ora bisa tumindak lan ngrampungi dhéwé.
Kêpêkså isíh kudu nolèh wóng liya síng diwawas bisa awèh pitudúh.
Mulå kuwi prayogå ngawulåå marang ati lan kêkuwatanmu dhéwé, jalaran wóng liyå iku sêjatiné yèn ånå apa-apané múng sadêrmå nyawang, ora mèlu ngrasakaké.
Pitudúh : # 264
Wóng kang rumångså dhiriné linuwíh, ing sawijiníng wêktu mêsthi bakal kasurúng atiné arêp mamèraké kaluwihané, liré amríh dimangêrtènånå déníng wóng akèh yèn dhèwèké mono wóng kang pinunjúl lan supåyå diajènånå.
Sumurupå, sakabèhíng kaluwihan mau yèn ora dicakaké måwå lêlabuhan kang murakabi marang bêbrayan, tanpå gunå kêpårå malah ora kajèn lan gawé pitunå.
Mula kang prayogå biså tulús dadi wóng kang linuwih mênåwå gêbyaríng kaluwihan iku múng dikatónaké marang batiné dhéwé, iku wís cukup.
Pitudúh : # 265
Dêdånå utåwå sêdhêkah marang wóng kang lagi nyandhang påpå cintråkå iku sawijiníng pênggawé bêcík kang patút tinulådhå, saugêr pawèwèh mau ora kinanthènan panggrundêl kang nêlakaké ora éklasíng atiné.
Têtêmbungan kang lêmbah ing manah lan mêrak ati iku luwih gêdhé ajiné katimbang dêdånå kang ora éklas.
Suprandéné nulúng lan mènèhi pêpadhang marang jiwané wóng kangkacingkrangan iku kang sêjatiné luwih pêrlu lan wigati, katimbang múng têtulúng marang awaké kang awujúd kêlairan baé.

Pitudúh : # 266
Ulat sumèh, tindak-tandúk sarèh kinanthènan têmbúng arís iku biså ngruntúhaké ati sartå ngêdóhaké panggódhaning sétan.
Kósókbaliné watak wicårå kang kêras, kêjåbå kêduga gawé tanginíng kanêpsón, ugå gampang nuwúhaké salah panåmpå.
Sabarang prakårå kang sêjatiné bisa putús sarånå arís lan sarèh, kêpêksa dadi adu wulêding kulít lan atósíng balúng, kari si sétan ngguyu ngakak bungah-bungah.
Pituduh : # 267
Wóng kang kulinå uríp mubra-mubru iku samangsané ngalami sandhungan uríp sêthithík baé adaté gampang kêthukulan gagasan lan gawé kang cêngkah karo bêbênêr, luwíh bêgjå wóng kang uripé pokal samadyå nangíng rêsík atiné.
Déné bêgja-bêgjané wóng iku ora kåyå wóng síng tansah uríp ing kahanan kang kêbak godhå rêncånå, prasasat tåpå ånå satêngahíng cobå, nangíng tansah tawêkal lan kandêl kêimanané marang adilíng Pangéran Kang Måhå Kuwåså.
Pitudúh : # 268
Sipaté wóng uríp iku mêsthi kêsinungan kêkuwatan.
Kang ngêrti biså ngêcakaké déné kang ora biså ngêrti kurang digladhi, têmahan ora tumanja. Éwåsémono ngêmpakaké kêkuwatan mula ora gampang.
Buktiné ora sêthithík kêkuwatan kang êmpané ora mapan.
Kawruhana, yèn rusaké bêbrayan ing antarané margå såkå pakartiné pårå-pårå kang ngêrti marang dayaníng kêkuwatané nangíng ora kanggo nggayúh gêgayuhan kang mulyå, múng kanggo nuruti dêrênging ati angkårå.
Pitudúh : # 269
Katrêsnan kang tanpå pangrêksa iku dudu sêjatiníng katrêsnan.
Kênå diarani sêjatiníng katrêsnan kang múng kadêrêng lan kêna ing pangaribawaníng håwå napsu.
Dadi yèn ånå unèn-unèn ” trêsnå iku wutå” yaiku síng kaprabawan håwå napsu.
Síng prayogå iku mêsthiné kudu ngugêmi unèn-unèn “trêsnå iku rumêkså” biså salaras tumindaké.
Rasaníng katrêsnan kang cêdhak dhéwé tumrap sadhêngah manungså iku dumunúng ing awaké dhéwé.
Mulå såpå kang trêsnå marang sapådhå-pådhå iku aran trêsnå marang awaké dhéwé, tundhóné såpå kang tansah ngrêkså marang karahayóníng liyan, ora bédå karo pangrêkså marang kêslamêtané dhéwé.
Pitudúh : # 270
Srawúng ing madyaning bêbrayan iku kêjåbå kudu wasís milíh papan lan êmpan, ugå kudu bisa angón mångså lan mulat ing sêmu.
Åjå nggêgampang ngrójóngi rêmbúg kang kowé dhéwé durúng ngrêti prakarané.
Rêmbúg sêthithík nanging mranani iku nudúhaké bóbótíng pribadi.
Rêmbúg akèh nangíng ampang malah gawé sånggå rungginé síng pådhå ngrugókaké kêpårå njuwarèhi.
Pitudúh : # 271
Wóng kang wís têkan pêsthiné utåwå wis katimbalan bali mênyang jaman kêlanggêngan iku sêjatiné lagi kênå diwènèhi biji tumrap ajiné kamanungsané lan pakartiné nalikå uríp. Déné wóng kang isíh pådhå uríp iku pêrlu disêmak baé dhisík, durúng kênå dipatrapi biji, jêr kahanané isih bisa owah gingsír.
Sarèhné manungså iki sawijiníng titah kang luhúr dhéwé, mulå wís samêsthiné yèn kitå åjå nganti kayadéné sato kang patiné múng ninggal têngêr lulang lan balúng baé.
Nangíng bisowå kita nanjakaké uríp kitå marang pakarti-pakarti utåmå, sumrambahé marang karahayóning uríp bêbrayan.
Pitudúh : # 272
Mustikané wóng tuwå marang anak múng ånå ing laku kang gumati, gunêm kang rurúh, lan ujar kang manís.
Gumatiné dumunúng ing têpå tuladhaníng tingkah laku.
Gunêm lan ujar kawêngku ånå ing ucap kang istingarah numusi kajiwan, lan luhuríng budi pêkêrti.
Mula yèn ånå åpå-åpå, åjå sêlak marang sêbutíng paribasan : “Ora ånå kacang ninggal lanjaran”.
Pitudúh : # 273
Nanggapi kahanan urip ing satêngahíng bêbrayan iku gampang angèl.
Aran angèl kêpårå malah bisa gawé kêtliwênging pikír samångså anggón kita mawas kêdhisikan kagubêl ing håwå.
Aran gampang yèn kita biså mikír klawan wêníng lan mênêb.
Iyå pamikír kang mênêb iku kang aran akal budi sêjati.
Kang bisa mbabaraké wóhíng wawasan kang mulús rêsík, ora kacampúran blêntóngé “si aku”.
Apamanèh yèn tå kitå biså têtêp nguwasani wêningíng pikír, nadyan kahanané uríp ing satêngahing bêbrayan kisruhå dikåyångåpå, istingarah ora angèl anggón kita nanggapi.
Pitudúh : # 274
Srêngên marang wóng mono åjå nganti kênêmênên lan kêliwat-liwat múng margå wis ngêrti yèn wóng mau ora bakal wani nglawan utåwå wís ora biså nglawan, síng èstiné múng arêp ngêdír-êdíraké drajad pangkat utåwå kadibyané baé.
Pakarti kaya ngono mau kêjåbå klêbu ambêg siyå, ugå wóng síng disrêngêni durúng karuwan bakal dadi bêcík, kêpårå bisa nuwúhaké råså sêngít.
Kang prayogå iku srêngên samadyå kang mêngku pitutúr murih bêciké.
Pitudúh : # 275
Wóng pintêr kang ora kinanthènan ing kautaman iku ora bédå karo wóng wutå kang nggåwå óbór ing wayah bêngi.
Madhangi wóng liyå nangíng dhèwèké dhéwé lakuné kêsasar-sasar.
Kapintêran mangkéné iki yèn tå dicakaké ing madyaning bêbrayan bakal nuwúhaké kapitunan, pikolèhé malah múng wujúd kasangsaran lan karusakan.

Sample Image

Bookmark and Share